VIRUS CORONA ITU UJIAN BUKAN KEBENCIAN

Oleh Ahmad Lahmudin

Ilustrasi (Foto : Aleteia)

الحمد لله المنفرد بالعَظَمَةِ والجلال, المتوَحِّدِ باسْتحْقاقِ نعوت الكمال, المُنَزَّهِ عن الشركاء والنِّظْراءِ والأمثال, المقَدَّس عن سَمَّات الحدَثِ من التغيّر والانتقال والاتصال والانفصال, عالم الغيب والشهادة الكبير المتعال,
والصلاة والسلام على سيدنا محمد الهادي من الضلال, وعلى اله وأصحابه الذين خلصتْ لهم الأعمال, وَصَفَتْ لهم الأحوال, وعلى جميع من اتّبعهم فيما لهم من مَحامِدِ الصفات ومحاسن الخَلال, وسلِّمْ تسليمًا كثيرًا.

Anakku sayang …
Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan wabah virus Corona. Virus ini berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, China. Setidaknya sudah ada 13 negara yang terkonfirmasi adanya virus tersebut. Puluhan ribu orang terjangkit wabah virus Corona. Tertanggal 6 Februari kemarin, sudah ada 563 korban meninggal akibat keganasan virus tersebut. Seluruh mata di dunia saat ini tertuju ke negeri tirai bambu, China, asal penyebaran wabah virus Corona. Setiap hari ulasan media masa dipenuhi dengan berita virus Corona. Dibalik derita para korban akibat virus Corona menyisakan cerita pilu tuduhan sepihak yang mengatasnamakan agama. Dikatakan bahwa penyebabnya tidak lebih merupakan azab yang diturunkan atas bangsa China.

Anakku sayang …
Kita sepakat bahwa segala jenis penyakit hakekatnya dari Allah SWT. Namun tuduhan yang dilatarbelakangi kebencian atas nama agama itu menjadi tidak wajar. Dalam agama Islam setiap individu diuji demi mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT. Ujian itu dalam agama di sebut ‘bala’. Ujian ada yang berupa kebaikan maka harus diiringi dengan rasa syukur. Ujian ada juga yang berupa sesuatu yang tidak menyenangkan maka diimbangi dengan kesabaran. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 155:

ولَنَبْلُوَنّكم بشيئٍ من الخوف والجوع ونَقْصٍ من الاموال والانفُس والثمرات وبَشِّرِ الصابرين
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa kita meskipun remeh di sebut dengan musibah. Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr al Qurtuby, dalam kitabnya Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Juz 2 halaman 465 mengatakan.;

والمصيبة النَّكْبة يُنْكَبُها الانسانُ وان صغُرتْ, وتُستعْمل فى الشَّرِّ. رَوى عكرمة أنّ مصباح رسول الله صلى الله عليه وسلم اِنطفأَ ذات ليلةٍ, فقال: انا لله وانا اليه راجعون. فقيل: أمصيبةٌ هى يا رسول الله؟ قال: نعم, كل ما اذى المؤمنَ فهو مصيبةٌ.
Musibah itu adalah segala sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia meskipun itu remeh. Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa suatu malam lampu di rumah Rasulullah padam. Rasulullah lalu bersabda: Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rajiun. Rasulullah pun ditanya: Apakah matinya lampu merupakan musibah wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Iya, setiap sesuatu yang membuat susah seorang mu’min adalah musibah.

Anakku sayang …
Sudah saatnya kita berbaik sangka, khusnuzzan, bahwa apa yang sedang terjadi saat ini merupakan musibah yang menimpa saudara kita sesama umat manusia. Bukankah di suatu negeri tinggal pula orang-orang yang baik? Tidak menutup kemungkinan negeri yang kita tempati juga tinggal orang-orang yang tidak baik? Adakah makhluk di muka bumi ini yang tidak mendapatkan kasih sayang dari Allah? Al Khattabi berkata;

فالرحمن ذو الرحمة الشاملة التى وسعتْ الخلق في أرزاقهم ومصالحهم, وعمت المؤمن والكافر
Allah bersifat Ar Rahman yang berarti mempunyai sifat kasih sayang, mencakup kepada semua makhluk tanpa terkecuali, baik rizki maupun kemaslahatan mereka, teruntuk mu’min juga kafir. (Muhammad Ali Ashobuni, Rawai’u al Bayan Tafsir Ayatil Ahkam Minal Qur’an, Juz 1, h. 26)
Bagi mereka yang terkena musibah seyogyanya untuk bersabar. Allah menjanjikan kesempurnaan pahala bagi yang bersabar.

اِنما يُوَفَّى الصابرون اجْرَهم بغير حسابٍ
Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas (QS. Az Zumar: 10)
Bagi kita yang tidak terkena musibah hendaknya bersyukur. Nabi mengumpamakan pahala seseorang yang tidak berpuasa yang bersyukur seperti pahalanya orang berpuasa yang sabar.

الطائم الشاكر بمنزلة الصائم الصابر
Seseorang yang tidak berpuasa tapi bersyukur itu seperti orang yang berpuasa yang dijalani dengan kesabaran. (Imam Al Ghazali, Ihya Ulumiddin, Juz 4, h. 132)

Penulis adalah Rais Syuriah MWC NU Tarumajaya

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *