Mengapa NU Tidak Radikal Saja?

Oleh H. Saptadi Nurfarid

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.
{Al Maidah (5):54}

Salah satu narasi epidemi yang dibangun yang bertentangan dengan ilmu alam contohnya seperti ini “Virus Corona Menyerang Manusia”. Padahal virus makhluq yang sangat lembut dan disiplin. Virus tidak mungkin menyerang manusia, dia hanya ingin survive saja dengan mencukupi kebutuhannya kemudian berkembang biak.

Manusia sering melakukan definisi sepihak dan judgement yang berlebihan hanya kepentingannya diusik. Siapa yang mengusik kepentingan dia akan mudah menuduh radikal dan kriminal. Padahal tidak ada makhluq secantik Virus Corona jika kita mau memperhatikan estetika bentuknya saja. Dan tidak ada makhluq selembut dan sedisiplin dia yang tetap memenuhi jalur takdir hidupnya walaupun dia harus menghadapi resiko kematian. Tidak semua Virus hidup dan berkembang, yang mati jauh lebih banyak daripada yang berkembang dan bertahan menjadi kekuatan radikal yang dianggap menyerang manusia.

Di Afrika sekarang, memiliki wahana wisata primadona. Para turis diantar ke alam bebas kemudian menyaksikan dan mendokumentasikan pembunuhan radikal, sekolompok singa yang memangsa sekawanan kerbau. Bison, atau rusa secara langsung. Ini bentuk drama kekerasan yang disaksikan menjadi wahana hiburan. Tetapi apakah singa ini hewan radikal?

Dibalik itu, dia adalah hewan yang sangat lembut seperti kucing kita yang senang ndusel kepada pemimpin kawanannya. Kita dalam cakupan pengetahuan yang terbatas, menyebut gegabah alam bekerja secara kejam dan radikal.

Banjir yang menghantam tanggul. Menghanyutkan bangunan dan menghancurkan harta benda, bersumber pada kekuatan lembut yang disiplin dan konsisten. Anda tidak mengira kekuatan besar air bah itu di langit tertahan oleh partikel-partikel debu yang sangat lembut. Jutaan kubik dengan volume yang sama ketika tumpak di bumi menghasilkan kekuatan radikal yang menghancurkan apa saja.

Lembut dan keras seperti berjalan alami bergantian. Bahkan mungkin beriringan namun manusia dan alam memandang dalam sudut yang berbeda. Dalam waktu yang sama bisa dilihat lembut, di sisi lain dilihat keras.

Kelembutan yang dirancang Tuhan adalah kelembutan yang bernilai konsistensi, disiplin, dan berkeyakinan. Mbah Hasyim mengapa di pandangan Jepang begitu radikal dan mengganggu, namun di pandangan santri-nya begitu lembut dan pengasih. Karena Mbah Hasyim konsisten atas cita-cita dan tujuannya nyaris tanpa kompromi, dan diikuti oleh jutaan pengikutnya yang percaya akan kebenaran yang diyakini Mbah Hasyim yang diajarkannya secara elegan.

Kanjeng Nabi SAW, itu manusia paling lembut, namun beliau tergambar selalu keras pendirian dan tekad besar. Bukan kasar dan tidak sopan. Sopan santun dan akhlaq beliau bahkan terus menonjol dalam menghadapi suasana yang paling radikal yang namanya perang. Sayidina Ali Karomallahu Wajhah masih mengusir musuh dan membiarkannya hidup, padahal nasibnya sudah di ujung pedangnya. Hal itu terjadi karena ketika dia merasa tidak bisa mengontrol dirinya yang terjebak pada radikalisme keliru. Padahal musuhnya kafir dan keras permusuhannya terhadapnya.

Keras dan lembut seperti dua mata uang berdampingan. Celakanya, kita mengartikan lembut dengan loyo, gampang menyerah, gampang mengalah. Sedangkan Radikal sering kita tampakkan dengan tidak sopan dan kasar.

NU ya harus radikal. Kakek nenek, leluhur, dan ulamanya semua radikal. Tetapi dibalik itu NU penuh dengan pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan, solutif, dan tidak bosan berhenti mengajak.

Ingin kelembutan yang menghasilkan efek radikalisme ya besar? Tentu kelembutan yang konsisten, istiqomah, teguh, dan terus menerus. Kesabaran yang tiada batas. Perjuangan yang tidak pernah berhenti. Akan menghasilkan efek radikal yang sangat besar.

Penulis adalah Mustasyar MWC NU Tarumajaya

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *