BELAJAR DARI SEMUT

Gambar ilustrasi

Oleh. Ahmad Lahmudin

الحمد لله الذى خلق الإنسان علّمه البيان , والصلاة و السلام على محمد النّبيّ الأميّ الذى أنزل الله عليه القران , فكان مصدر العلم والنور والهداية والخير ما دام الزمان .

اهْ .. ! ما أحوجنا – معشر المسلمين – إلى أمثال هذه النملة !

Ah, betapa kita butuh – wahai kaum muslimin – untuk mencontoh perilaku pemimpin semut ini!

Demikian Syekh Abdul Hamid bin Badis, dalam Tafsir Ibnu Badis, mengomentari perilaku pimpinan semut saat berjumpa dengan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam ..

Adalah Sulaiman ‘alaihis salam, seorang Nabi juga raja di masanya. Beliau putra dari Nabi Daud, ‘alaihis salam. Allah SWT anugerahkan ‘ilmu serta perkara besar teruntuknya sebagai mu’jizat untuk diperlihatkan kepada kaumnya agar mereka beriman. Beliau memiliki bala tentara yang besar, terdiri dari bangsa Jin, manusia dan binatang. Mereka dapat dikumpulkan kapan saja saat dibutuhkan. Sistem komando dalam militer saat ini tidak lain mengikuti pola yang sudah ada sejak zaman Nabi Sulaiman.

Salah satu mu’jizat Nabi Sulaiman adalah diberi kemampuan dapat berbicara dengan bangsa binatang. Ini yang kelak akan menjadikan ‘semut’ melegenda diabadikan menjadi salah satu nama surat dalam kitab suci, Al-Qur’an.

Suatu hari berangkatlah Nabi Sulaiman bersama bala tentaranya, manusia dan bangsa jin. Sementara para burung terbang di atas mereka untuk melindungi dari terik panas sinar mentari. Setelah menempuh perjalanan jauh. Sampailah mereka di suatu lembah. Di saat menuruni lembah itulah seekor semut berteriak memberi peringatan kepada sekawanan semut lainnya agar segera masuk berlindung ke sarang mereka. Bukan sekedar memberi peringatan. Semut tersebut juga memberitahukan jalan yang aman untuk bisa sampai ke sarang mereka. Ternyata seekor semut tersebut adalah pemimpin mereka. Dia mengingatkan akan bahaya dari injakan kaki bala tentara Nabi Sulaiman jika tidak segera masuk ke tempat perlindungan mereka.

Nabi Sulaiman tersenyum gembira saat mendengar ucapan pemimpin semut yang teramat bijaksana. Memberi peringatan kepada rakyatnya sambil menunjukkan alternatif jalan yang aman. Pemimpin semut tersebut tidak akan mempersalahkan bala tentara Nabi Sulaiman jika terpaksa harus menginjak para semut sebab ketidaktahuan mereka atas keberadaan para semut.

Nabi Sulaiman gembira sebagai rasa syukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepadanya serta kedua orang tuanya. Sambil memohon untuk terus dapat melakukan amal baik, mendapatkan ridho dari-Nya, serta memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.

Anakku sayang..
Semut adalah binatang kecil yang keberadaannya tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dari bangun sampai tidur kita. Saat tersadar kita sering mendengar istilah ‘kesemutan’. Saat tertidur terkadang ada diantara kita ‘kemasukan semut’. Lagu masa kanak-kanak yang sampai saat ini sering terucap adalah ‘semut-semut kecil’. Untuk membandingkan sesuatu yang kecil dan besar pasti kita menggunakan istilah ‘semut dan gajah’. Untuk mencari seseorang yang sulit ditemukan sering juga menggunakan kata ‘lubang semut’. Ada juga istilah yang sering kita dengar ‘ada gula ada semut’.

Mari kita belajar dari semut! Semut itu dinamai ‘namlah’, litanammulihah, sebab ia banyak bergerak, sedikit berdiam. Semut masuk dalam kelas insecta (serangga kecil) dengan dijuluki Formicedae Order (serangga sosial) dengan kemampuan terorganisisr paling baik dibanding makhluk lain. Dia serangga yang paling cerdas dengan memiliki 200.000 sel otak di kepalanya. Dia makhluk yang tidak mempunyai mata dan telinga. Untuk beraktivitas dia mengandalkan antenanya sebagai peraba dan pembau. Mereka saling berinteraksi dengan mengeluarkan sejenis asam. Mereka memiliki 10.000 spesies yang hidup di muka bumi. Semut termasuk jenis makhluk purba yang sampai saat ini masih tersisa. Diperkirakan mereka telah hidup 100 juta tahun yang lalu!

Ala kulli hal, semut telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya kebersamaan dalam ikatan ‘athifatul jinsiyyah’, ikatan kasih kasih sayang sesama ras, jenis, bangsa. Betapa hari ini kita masih mempersoalkan identitas-formalitas. Kita saling membunuh padahal kita sama terlahir atas nama manusia. Kita saling mencaci dengan ujaran kebencian padahal kita berdalih sama atas nama agama. Lihatlah semut! Atas nama kasih sayang mereka singkirkan perbedaan meski mereka terlahir tanpa mata dan telinga. Mereka mengajarkan kepada kita jika kehidupan pribadi banyak bergantung kepada sesama. Sulit terwujud kebersamaan bila diri kita belum mampu merasakan penderitaan sesama.

Satu lagi yang bisa kita ambil pelajaran dari semut yaitu soal kepemimpinan. Pemimpin mesti harus mempunyai pemikiran ke depan tentang kebaikan rakyat yang dipimpinnya. Dapat mendeteksi resiko keburukan yang akan terjadi. Sehingga yang dipimpinnya terhindar dari keburukan tersebut. Cepat bertindak mencari jalan keluar persoalan yang sedang terjadi. Rela berkorban, meskipun nyawa taruhannya demi rakyat yang dipimpinnya.

Maha suci Allah SWT yang telah menciptakan makhluk di langit dan di bumi tidak untuk bersendau gurau, tanpa manfaat. Allah ciptakan semua itu sebagai tanda kekuasaan-Nya! Rabbana Ma Kholakta Hadza Batila (QS. Ali Imron: 191)

Anakku sayang..
Demikianlah, mari kita belajar dari semut!

Penulis adalah Rois Syuriah MWC NU Tarumajaya

مراجع:
تفسير ابن باديس , الشيخ عبد الحميد بن باديس , المجلد الثانى , 204 – 223
تفسير الجامع لأحكام القران , أبي عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكرٍ القرطبيّ , الجزء 16 , 120 – 122
التفسير المنير , الأستاذ الدكتور وهبه الزحيلي , الجزء 4 , 537

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *