Pertemuan 1 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan 1
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 10 Maret 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

بسم الله الرحمن الرحيم

Berkata hamba yang faqir, yang berpegang kepada Allah Ta’ala atas ampunan setiap dosa, yaitu Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah bin Ibrahim bin ‘Abbad an Nafazi ar Randi. Mudah-mudahan Allah memberikan taufik teruntuknya.

Segala puji bagi Allah, Yang Menyendiri dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Yang Berhak atas sifat-sifat kesempurnaan, Yang disucikan dari kebersamaan, bentuk-bentuk serta segala perumpamaan, Yang disucikan dari nama-nama yang bahru, baik dari bentuk perubahan, perpindahan, ketersambungan dan keterpisahan, Yang Maha Mengetahui alam ghaib dan nyata, Yang Maha Besar, Yang Maha Tinggi.

Shalawat dan salam teruntuk Baginda Muhammad, yang memberi petunjuk dari jalan kesesatan. Teruntuk keluarga dan para sahabatnya yang bersih amal-amal dan keadaan-keadaan mereka. Teruntuk orang-orang yang telah mengikuti jejak sifat-sifat terpuji mereka.

Amma Ba’du ..
Ketika kami melihat kitab Al Hikam buah karya as Syekh, al Imam, al Muhaqqiq, al ‘Arif, al Mukasyap, al Wali, ar Rubbani, Abi al Fadhl Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin ‘Athaillah as Sakandari. Mudah-mudahan Allah meridhoinya dan memberikan manfaat teruntuk kita.

Kitab Al Hikam adalah kitab terbaik dalam ilmu tauhid, tempat bersandar para pencari jalan Allah serta murid untuk mencari pemahaman. Sebab bentuknya kecil, banyaknya ilmu di dalamnya, mempunyai ibarat-ibarat yang murni, makna-makna yang bagus tidak terbatas. Menjelaskan jalannya orang-orang yang ‘arif yang meyakini atas keesaan Allah. Menjelaskan metode para salik, orang-orang yang berjalan dan mengosongkan diri menuju Allah.

Maka kami mulai membuat sebuah tambih, pemberitahuan, seperti syarah untuk sebagian makna-makna Al Hikam yang terlihat. Seperti al Kasyf, membuka sedikit cahaya dari cahaya-cahaya Al Hikam yang berkilau. Kami merasa tidak akan mampu untuk memenuhi seluruh makna yang tercakup di dalam kitab Al Hikam. Sebab kalam para auliya dan ulama billah yang terkumpul di dalam rahasia-rahasia yang dilindungi, di dalam mutiara-mutiara hikmah yang tersimpan, tidak dapat terungkap kecuali oleh mereka sendiri, hakekatnya tidak dapat dijelaskan kecuali bertemu langsung dengan mereka.

Kalimat-kalimat yang kami hadirkan serta prinsip-prinsip nahwu yang kami buat pegangan, tidak membuat kami mengklaim diri sebagai syarah dari kitab Al Hikam. Tidak pula apa yang kami tuturkan sebagai hakekat maksud dari pengarang. Jika kami mempunyai anggapan demikian maka telah rusak adab kami. Kami memohon perlindungan Allah dari kerusakan, bahaya serta ketidak hati-hatian. Hanyasanya kami menghadirkan apa yang dapat kami pahami dari perkataan mereka.

Ilmu yang kami dapatkan dari pendapat-pendapat mereka. Bila sesuai dengan kehendak mereka sehingga kami mendapatkan rahasia-rahasia yang tersimpan maka itu merupakan nikmat yang tidak terhingga yang kami peroleh. Rasanya tidak mampu kami untuk memperolehnya. Jika tidak sesuai dengan kehendak mereka dan kami tidak mendapatkan hidayah untuk mendapatkannya maka itu menjadi kekurangan dan kebodohan kami. Mereka adalah orang-orang yang bersih dari apa yang kami ucapkan dan niatkan.

Bila tujuan kami mencari keselamatan dari adab yang tercela maka kami hadirkan di muka ungkapan pengarang Al Hikam lalu menyusul perkataan kami dengan ibarat (penjelasan) yang lebih luas dari apa yang dijelaskan oleh pengarang, dengan isyarat (petunjuk) yang lebih jelas dibanding isyaratnya pengarang. Dengan tujuan untuk dapat memahami apa yang kami dapatkan dari penjelasan pengarang. Oleh karenanya pada hakekatnya, ini bukanlah tafsir dari apa yang diungkapkan oleh pengarang.

Apa yang telah aku lakukan dalam menyusun kitab ini – dengan didahului oleh iradahnya Allah- merupakan permintaan sebagian sahabat kepadaku. Mereka berkali-kali mengajukan persoalan kepadaku. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas berada di jalan ini. Mereka adalah orang-orang yang mencintai para ahli hakikat. Akhirnya aku kabulkan keinginan mereka sebagaimana yang telah menjadi ketetapan Allah Ta’ala. Mudah-mudahan Allah berikan manfaat kepada kami dan mereka atas apa yang telah kami perbuat. Kami juga memohon ampunan terhadap apa yang telah kami perbuat. Kami memohon perlindungan dari jerat musuh yang dilaknati. Kami memohon taufik untuk selalu dapat istiqomah. Dijauhkan dari amal yang hanya akan berakibat celaan dan rasa sesal.

Mudah-mudahan Allah memberi karunia kepada kami untuk menisbatkan (memasukkan) kami ke dalam kelompok mereka. Kami termasuk orang-orang yang mengagungkan, memuliakan serta mencintai mereka. Sehingga tidak ada penghalang kelak untuk bisa mendapatkan syafaat mereka. Tidak dijauhkan kami dari pintu mereka. Tidak dipalingkan dari jalan mereka. Merekalah golongan yang tidak akan membuat celaka kepada orang-orang yang bersama dengan mereka.

اللهمّ إنا نتوسل إليك بحبهم , فإنهم أحبوك

‘Ya Allah, kami ingin sampai kepada Engkau dengan sebab mencintai mereka. Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mencintai-Mu’

ولم يحبوك حتى أحببتهم , فبحبك إياهم وصلوا إلى حبك

‘Mereka tidak akan pernah mendapatkan cinta-Mu sampai Engkau mencintai mereka. Maka sebab cinta-Mu kepada mereka itulah yang dapat menghantarkan mereka untuk mencintai-Mu’

ونحن لم نصل إلى حبهم فيك إلا بحظنا منك

‘Kami tidak dapat menggapai cinta mereka yang ada pada Engkau. Kecuali Engkau memberi keberuntungan kepada kami’

فتمم لنا ذلك حتى نلقاك يا أرحم الراحمين

‘Maka sempurnakanlah maksud kami hingga kelak kami akan bertemu Engkau. Duhai Dzat Yang Maha Kasih ..’

وصلى الله على سيدنا محمد ومولانا محمد خاتم النبيين , وعلى اله الطييبين الطاهرين وتابعيهم بإحسان إلى يوم الدين وسلِّمْ عليهم تسليما كثيراً

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *