Pertemuan 2 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Posko NU Ranting Bogasari dan HMR

Pertemuan 2
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 17 Maret 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

‘Termasuk tanda seseorang yang berpegang teguh dengan amalnya yaitu berkurangnya pengharapan ketika adanya dosa’

Berpegang teguh kepada Allah merupakan sifat orang-orang yang ‘Arif billah, yang bertauhid kepada-Nya. Sedangkan orang yang berpegang teguh kepada selain Allah merupakan sifat orang-orang bodoh yang melupakan Allah. Baik berpegang kepada ilmu-ilmu mereka, amal-amal mereka, maupun keadaan mereka.

Orang-orang yang ‘Arif dan yang bertauhid kepada Allah berada di tempat yang dekat kepada Allah. Mereka melihat kepada tuhannya. Jiwa-jiwa mereka melebur kepada-Nya. Jika mereka terjerumus ke dalam kesalahan maupun lupa maka mereka sebenarnya sedang berada dalam aturan dan ketetapan-Nya.

Ketika timbul kebaikan dari mereka maka tidak tidak ada daya maupun upaya kecuali semuanya dari Allah. Yang terlintas di hati mereka hanya mengingat kepada Tuhannya. Jiwa-jiwa mereka tenang di bawah kekuasan-Nya. Hati-hati mereka tenteram sebab tersinari cahaya Ilahy. Mereka tenggelam dalam lautan tauhid. Bagi mereka tidak ada perbedaan antara pesimis dan optimis. Tidak mengurangi rasa pesimis mereka sebab kesalahan yang mereka perbuat. Begitupun tidak akan bertambah rasa optimis mereka sebab kebaikan yang mereka lakukan.

Pengarang Syarih Al Majalis berkata, orang-orang yang ‘Arif billah telah Allah jamin segala urusan mereka. Mereka tidak mengharapkan imbalan dari kebaikan yang mereka perbuat. Mereka tidak menjadikan diri-diri mereka sebagai pekerja terhadap amal-amal mereka. Maka ketika terjadi kesalahan atas apa yang mereka perbuat itu tidak menjadi tanggungan bagi mereka, Faddiyat ala Al’aqil. Mereka tidak melihat selain Allah ketika terjadi kesempitan maupun kelapangan. Tegaknya mereka karena Allah. Pandangan mereka hanya kepada-Nya. Rasa khawatirnya mereka adalah khawatirnya Allah. Rasa optimisnya mereka adalah kasih sayang-Nya.

Selain mereka adalah orang-orang yang dikaitkan dengan amal perbuatan mereka. Mereka menentukan nasib baik-buruk kepada amal dan perbuatan mereka. Mereka berpegang kepada amal perbuatan mereka. Kondisi mereka menjadi tenteram sebab amal perbuatan mereka. Maka ketika mereka melakukan kesalahan akan berkurang pengharapan mereka. Sebagimana bila mereka melakukan kebaikan maka akan berpegang kepada kebaikannya tersebut. Mereka bergantung dengan apa yang menjadi sebab. Mereka akan terhijab (terhalang) dari campur tangan Tuhan. Mereka mengklaim sebagai orang-orang yang dekat kepada Tuhan. Padahal mereka hanya sebatas sebagai kelompok orang-orang yang baik, ‘Ammati Ashabil Yamin.

Syekh Abu Abdurrahman as Sulama dan Al Hafidz Abu Na’im al Ashbahani dari Yusuf bin Husein ar Razi, berkata; Sebagian manusia membantah terhadap ucapanku, seraya berkata; Jangan engkau iringi keinginan amalmu kecuali dengan bertaubat. Akupun menjawab; Seandainya taubat mengetuk pintuku niscaya tidak aku beri izin dia. Sebab aku hanya berharap taubat dari Tuhanku. Dan seandainya sifat jujur dan ikhlas menjadi budakku niscaya aku akan menjualnya untuk diganti dengan sifat zuhud. Sebab seandainya diriku di alam ghaib sana ternyata kelak mendapatkan keberuntungan maka pasti diriku tidak akan meninggalkan untuk selalu berbuat dosa dan maksiat. Namun jika ternyata kelak diriku mendapatkan celaka maka tidak akan aku dapatkan rasa bahagia dari taubatku, ikhlasku dan kejujuranku. Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakanku sebagai manusia tanpa amal dan syafaat. Allah adalah tempat kembaliku. Dia yang telah menunjukkan agama yang diridhoi-Nya teruntukku. Firman-Nya dalam surat Ali Imron ayat 85;

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى الْاخِرَةِ من الخاسِرِيْنَ

‘Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi’

Maka peganganku kepada karunia dan kemuliaan Allah lebih utama sebab diriku termasuk orang yang mempergunakan akalku. Dibandingkan jika aku berpegang kepada perbuatan-perbuatanku dengan tanpa menggunakan akal. Sebab membandingkan karunia-Nya dengan perbuatan-perbuatan kita termasuk sedikitnya pengetahuan kita terhadap Allah Yang Maha Mulia.

Aku berkata, apa yang telah diceritakan di atas. Ada sebagian golongan mengingkari dan tidak meyakininya. Atau mereka menerima namun mengklaim diri mereka itulah yang berada di posisi tersebut. Maka takutlah wahai hamba yang tidak mempunyai mata hati terhadap jalan ini dengan cara mengingkarinya. Mereka merasa puas diri dengan menentang para kekasihnya Allah. Padahal mereka jauh dari Allah. Atau ia mengklaim diri merasa yang berhak menempati posisi tersebut tanpa kehati-hatian serta bertindak dengan yakin. Padahal ia tidak layak masuk pada maqam fana, melebur dengan Tuhannya. Ketika itulah mereka telah melakukan hal-hal yang dibenci oleh Allah Ta’ala dan telah melampaui batas-batas ketentuan-Nya. Ini termasuk dari sifat-sifat orang ateis. Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas yang demikian …

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *