Tafsir Surat Al-Fatihah, 2

تفسير فاتحة الكتاب , ٢

Tafsir tentang Surat Al Fatihah, 2
Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 29 Maret 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

بسم الله الرحمن الرحيم.
الحمد لله ربّ العالمين. الرحمن الرحيم. مالك يوم الدين. إياك نعبد وإياك نستعين. اهدنا الصراط المستقيم. صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين.

الرحمن الرحيم

الرحمن الرحيم , adalah dua nama dari beberapa nama Allah SWT. Keduanya berasal dari satu kata, yaitu الرَّحْمَة (belas kasih). Makna lafal الرَّحْمَن adalah Dzat yang telah memberikan nikmat-nikmat yang besar. Sedangkan makna lafal الرَّحِيْم adalah Dzat yang telah memberikan nikmat-nikmat yang halus, kecil sekali. Kata الرحمن merupakan bentuk ‘al Mubalaghoh’, yang bermakna mempunyai rahmat, belas kasih yang tidak tertandingi. Sebab bentuk فَعْلَانْ menunjukkan makna berlebih-lebihan. Orang-orang Arab mengatakan kepada seseorang yang mengalami penderitaan yang sangat menyakitkan dengan kata ﻣَﻶﻥ . Bagi keadaan yang sangat mengenyangkan dengan kata شَبْعَانْ .

Al Khattabi berkata, lafal الرحمن mempunyai makna belas kasih kepada seluruh makhluk di dalam rizki dan kemaslahatan mereka, baik kepada mukmin maupun non muslim. Sedangkan lafal الرحيم , belas kasih hanya kepada orang-orang mukmin. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 43;

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا

‘Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman’

Tidak diperbolehkan menggunakan kata الرحمن kepada selain Allah. Kata tersebut khusus hanya diperuntukkan bagi Allah. Berbeda dengan kata الرحيم , dapat digunakan kepada selain Allah. Ini dapat dilihat dalam surat At-Taubah ayat 128;

حَرِيْصٌ عليكم بِالْمؤْمنينَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

‘Dia (Muhammad) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman’

Al Qurthubi berkata, mayoritas ulama berpendapat bahwa lafal الرحمن dikhususkan untuk Allah. Tidak boleh selain Allah untuk menggunakannya. Tidakkah engkau melihat pada firman Allah;

قُلِ ادْعُوا اللهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمنَ

‘Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman’ (QS. Al-Kahf: 110)

Pada ayat di atas lafal Allah disamakan dengan lafal Ar-Rahman, dari sisi tidak boleh ada sekutu bagi-Nya.

اَجَعَلْنَا مِنْ دُوْنِ الرَّحمنِ الِهَةً يُّعْبَدُوْنَ

‘Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain Ar-Rahman untuk disembah?’ (Az-Zukhruf: 45)

Ayat di atas memberikan informasi bahwa Ar-Rahman adalah Dzat yang berhak untuk disembah.

Sungguh teramat berani seorang Musailamah al-Kazzab, la’anahullahu, menyebut dirinya dengan kata رَحْمانْ الْيمَامَة (rahman al-Yamamah). Namun orang-orang ketika itu tidak ada yang mempercayai atas pengakuannya sebagai Tuhan. Hingga pada akhirnya dia diberikan julukan ‘al-Kazzab’ (pembohong). Kemudian Allah langgengkan kata ‘al-Kazzab’ teruntuk Musailamah hingga kini.

يَوْمِ الدِّيْن

يوم الدين bermakna hari pembalasan. Allah SWT sebagai penguasa pada hari pembalasan nanti. Dia yang mengatur secara leluasa atas kepemilikan-Nya. الدين secara bahasa berarti balasan. Seperti sabda Rasulullah SAW;

إِفْعَلْ مَا شِئْتَ كما تَدِيْنُ تُدَانُ

‘Lakukan apa yang kamu ingini. Sebagimana kamu perbuat maka akan mendapatkan balasan’

Di dalam kitab Lisan al-‘Arab dikatakan, الدين bermakna balasan, ganjaran. يوم الدين mempunyai arti hari pembalasan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat As-Saffat, ayat 53; إِنَّا لَمَدِنُوْنَ (orang-orang yang mendapatkan balasan). Dapat pula diartikan الدَّيَّانْ , yaitu sifat Allah Azza wa Jalla, yang berarti Yang membuat perhitungan.

إيَّاك نعبد

نَعْبُدُ bermakna ‘kami merasa hina’, ‘kami tunduk’, ‘kami merendahkan diri’. Sebab makna ‘ubudiyah’ mempunyai arti hina, meminta pertolongan. Diambil dari kata طَرِيْقٌ مُعَبَّدٌ , yang mempunyai arti jalan yang sering dilalui orang dengan berjalan kaki sehingga menjadi rata. Jalan itu seakan hina sebab terinjak-injak oleh kaki.

Berkata Az Zamakhsyari, الْعِبَادَة (ibadah) merupakan puncak ketundukan, kehinaan. Seperti ungkapan ثَوْبٌ ذُو عَبَدةٍ (baju yang kuat), oleh sebab tenunannya yang kuat juga sangat tebal. Oleh karena itu kata ‘ibadah’ hanya diperuntukkan dalam hal ketundukan kepada Allah. Dialah Dzat pemberi berbagai macam kenikmatan. Maka ibadah pada hakekatnya adalah puncak ketundukan hamba kepada Tuhannya.

Dengan demikian makna إيّاك نعبد adalah, ‘Ya Allah, kami merendahkan diri seraya tunduk. Hanya kepada-Mu kami beribadah. Sebab Engkau yang berhak atas setiap keagungan. Tidak ada seorangpun selain Engkau yang kami sembah’.

وإيّاك نستعين

الاِسْتِعَانة mempunyai arti meminta pertolongan. Di dalam hadis riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan;

إذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ , وإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

‘Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan maka meminta pertolonganlah kepada Allah’

Maka makna dari إياك نعبد adalah, ‘Wahai Tuhan kami, atas keta’atan dan ibadah kepada-Mu, kami memohon pertolongan atas setiap urusan kami. Maka tidak ada kekuatan yang dapat meolong kami kecuali Engkau. Apabila ada seseorang yang kufur kepada-Mu dengan meminta pertongan kepada selain Engkau. Maka kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada Engkau.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *