Pertemuan 3 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan 3 (I)
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 24 Maret 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوة الخفية , وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية

‘Keinginanmu untuk mengosongkan diri dari asbab padahal Allah menghendakinya maka termasuk syahwat khofi. Sedangkan keinginanmu kepada asbab padahal Allah tidak menginginkannya maka termasuk kemunduran dari keinginan yang kuat menuju tempat yang mulia’

Yang dimaksud ‘asbab’ di sini adalah suatu ungkapan yang dapat menghantarkan kepada satu tujuan dari persoalan dunia.

Makna ‘tajrid’ adalah suatu ungkapan untuk meninggalkan dari menyibukkan diri dengan persoalan duniawi. Barang siapa yang Allah telah tetapkan teruntuknya persoalan dunia kemudian ia bermaksud meninggalkannya maka termasuk ‘syahwat khofi’. Dikatakan ‘syahwat’ sebab keinginannya tidak sesuai dengan keinginan Allah. Dikatakan ‘khofi’ karena dirinya tidak bermaksud untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Tujuannya hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan mengira mendapatkan tempat yang tinggi. Ini menyalahi adab karena tidak sesuai dengan yang diingini Allah untuk menempatkannya di tempat yang Dia ingini. Dan berkeinginan kepada maqam (tempat) yang tinggi yang baginya belum saatnya.

Sebagai tanda bahwa Allah telah menetapkan maqam ‘asbab’ teruntuknya yaitu dengan memalingkan dirinya kepada ‘asbab’ dengan mendapatkan hasilnya. Dirinya tidak melupakan agamanaya tatkala sibuk dengan persoalan dunia. Keinginannya hatinya hanya kepada Allah. Tetap menjaga silaturrahim. Membantu bagi yang membutuhkan. Dan lainnya, dengan mempergunakan hartanya di jalan Allah.

Seseorang yang Allah kehendaki untuk ‘tajrid’ (mengosongkan diri dari urusan dunia) namun ia memilih menuju kepada ‘asbab’ (menyibukkan diri dengan urusan dunia) maka ia telah menurunkan keinginan kuatnya menuju kepada adab yang buruk terhadap Tuhannya. Saat itu ia telah berada di suatu tempat yang disertai ‘syahwat jaly’ (syahwat yang nyata). Sebab maqam ‘tajrid’ adalah maqam yang mulia yang ditempati oleh orang-orang khusus dari orang-orang yang meyakini akan keesaan Allah serta ‘Arif billah. Ketika Allah telah menempatkannya di tempat orang-orang khusus maka mengapa mereka hendak merendahkan derajat mereka ke tempat orang-orang yang tercela?

Syekh Abu Abdillah Al Qurasy radiallahu anhu berkata, barang siapa yang tidak menyukai kebersamaan dengan orang-orang yang sepadan di maqam ‘asbab’ maka menjadi rendah keinginannya. Tanda seseorang yang Allah tempatkan di maqam ‘tajrid’ yaitu ia menekuninya hingga mendapatkan hasil. Hasilnya tersebut ditandai dengan merasakan kenikmatan waktu menjalaninya. Hatinya bersih. Perasaan bahagia diperoleh saat bergaul dengan sesama.

‘Himmah’ adalah suatu keadaan di dalam hati. Keinginan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu. Jika keinginan tersebut dikaitkan dengan perkara-perkara yang mulia maka himmahnya tinggi. Sebaliknya bila dikaitkan dengan perkara yang rendah maka himmahnya rendah.

Makna ketetapan Allah perihal seseorang berada di maqam ‘asbab’ atau ‘tajrid’ bisa dilihat dari keberlangsungan yang terus terjaga pada posisi tersebut hingga mendapatkan hasil.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

1 thought on “Pertemuan 3 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

    Khotibul umam

    (31 March 2020 - 23:42)

    Mantap. Bangga jadi org NU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *