Tafsir Surat Al-Fatihah, 3

تفسير فاتحة الكتاب , ٣

Tafsir tentang Surat Al Fatihah, 3
Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 5 April 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

بسم الله الرحمن الرحيم.
الحمد لله ربّ العالمين. الرحمن الرحيم. مالك يوم الدين. إياك نعبد وإياك نستعين. اهدنا الصراط المستقيم. صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين.

إهدنا ..

إهدنا , adalah kalimat Fi’il bermakna doa. Maknanya, “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. Perlihatkanlah kepada kami jalan hidayah-Mu yang dapat menghantarkan kami menjadi pribadi yang Engkau sukai, pribadi yang dekat kepada-Mu”

Hidayah secara bahasa bermakna الدلالة (petunjuk). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Fussilat ayat 17;

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْناهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى على الْهُدَى

‘Dan adapun kaum Samud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu’

Terkadang hidayah mempunyai makna الإرشاد وتمكين الإيمان في القلب (petunjuk disertai ketetapan iman di hati seseorang). Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qasas ayat 56;

اِنَّكَ لاَ تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلكِنَّ اللهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاءُ ..

‘Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki’

Dengan demikian Rasulullah hanya sebatas bertugas memberi petunjuk kepada jalan Allah. Bukan sebagai pemberi ketetapan iman di hati seseorang;

وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْ اِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

‘Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus’ (QS. Asy-Syura: 52)

Kalimat fi’il هَدَى terkadang dimuta’addikan (butuh kepada objek) dengan huruf إِلَى , seperti dalam firman Allah SWT;

فَاهْدُوْهُمْ اِلَى صِرَاطِ الْجَحِيْمِ

‘Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan kepada neraka’ (QS. As-Saffat:23)

Terkadang kalimat fi’il هَدَى dimuta’addikan dengan huruf ‘lam’, seperti dalam surat Al-A’raf ayat 43;

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا

‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke surga ini’

Terkadang kalimat fi’il هَدَى muta’addi dengan dirinya sendiri, seperti dalam kalimat إِهْدِنَا الصِّرَاطَ .

الصراط المستقيم

الصراط , bermakna الطريق (jalan). Asal kalimat الصراط adalah السراط , dengan huruf sin, diambil dari kata الاستراط , bermakna الابتلاع (menelan). Dinamai demikian, sebab الطريق (jalan) seakan-akan menelan para pengguna jalan.

Imam Al Jauhari berkata, kata الطريق sinonim dengan kata الصراط , السراط , dan الزّراط .

Imam Al Qurtubi berkomentar, bahwa asal kalimat الصراط adalah الطريق . Orang-orang Arab menjadikan kalimat الصراط untuk setiap perkataan maupun perbuatan yang lurus maupun yang bengkok. Sedangkan yang dimaksud pada pembahasan kali ini adalah مِلّة الإسلام (agama Islam)

المستقيم

Makna المستقيم adalah sesuatu yang tidak bengkok, tidak juga ada kemiringan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 153;

وَاَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ

‘Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah!’

Makna ayat, “Ya Allah, tetapkanlah Iman kepada kami. Berilah taufik kepada kami agar kami dapat melaksanakan amal-amal baik. Jadikanlah kami termasuk orang yang berada di jalan Islam. Yang dapat menyampaikan kami menuju kepada surga-Mu”

أنعمت عليهم

النِّعْمَة (nikmat) bermakna kehidupan yang nyaman. Seperti perkataan أنْعَمْتُ عَيْنَهُ (saya membuat dirinya gembira). Dan ungkapan أنْعَمْتُ عليه (sungguh aku telah membuat dirinya gembira).

Pada dasarnya kalimat fi’il أنْعَمَ dapat memuta’addikan (butuh objek) dengan dirinya sendiri, seperti ungkapan أنْعَمْتُهُ (Aku menjadikan dirinya mendapatkan nikmat). Namun bila ingin mendapatkan makna yang berlebih (tafaddlul) maka dimuta’addikan dengan huruf على , seperti dalam kalimat أنعمت عليهم (orang-orang yang benar-benar telah Engkau berikan nikmat kepada mereka)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud orang-orang yang benar-benar telah mendapatkan nimat yaitu para nabi, ashiddiqun, dan para syuhada. Demikian pula para ahli tafsir sependapat dengan pendapat Ibnu Abbas. Mereka mengambil dari firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 69;

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ والرسولَ فَاُولئك مَعَ الذين اَنْعَمَ اللهُ عليهم من النَّبِيِّيْنَ والصِّدِّيْقِيْنَ والشُّهَداءِ والصَّالِحِيْن , وحَسُنَ أُولئك رَفِيْقًا

‘Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya’

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *