COVID 19: UZLAHLAH …!

Oleh. Ahmad Lahmudin

وقال بعض الأُدباء : من كثرت لحظاته دامت حسراته

“Barang siapa yang memperbanyak pandangan matanya maka akan banyak kerugian yang didapati olehnya”

Demikian buah kata orang bijak yang dikutip oleh Imam Ibnu ‘Abbad dalam Ghoits Al Mawahib Al Aliyyah.

Wabah virus corona atau Covid-19 memasuki babak baru di negeri ini. Sejak terkonfirmasi adanya kasus virus corona pada 2 Maret 2020 silam. Kini, tertanggal 5 April 2020, wabah virus corona sudah menyebar di 32 propinsi di Indonesia. Total kasus positif mencapai 2.273. Dengan korban meninggal dunia sebanyak 198 orang. Sebanyak 164 dinyatakan sembuh. Di dunia, kasus infeksi virus corona telah mencapai 1,27 juta jiwa. Sebanyak 69.309 meninggal. Dinyatakan sembuh sebanyak 259.810 kasus.

Seruan untuk tetap tinggal di rumah tidak hanya disuarakan oleh pihak pemerintah. Tokoh agamapun satu suara menganjurkan umat untuk tetap tinggal di rumah. Hanya bila ada keperluan yang mendesak diperkenankan untuk keluar rumah. Tujuannya hanya satu yaitu memutus rantai penyebaran virus corona.

Bagi orang yang beragama. Tinggal di rumah berarti kembali ke tempat asal. Rumah adalah tempat peraduan. Tempat tawa dan tangis menghias. Tersenyum ketika tangis bayi mungil membelah keheningan. Derita saat kepergian orang terkasih kembali ke pangkuan-Nya.

Virus corona menyadarkan kita untuk segera kembali ke tempat awal kita berada. Menyadarkan diri akan kerinduan berbagi kepada orang-orang terkasih. Dalam rumah kita temukan kasih sayang sejati lewat buai tangan ayah-bunda. Senyum tulus dari anak-istri tercinta.

Sudah terlalu lelah mata ini pergi jauh memandang. Keindahan dunia membuat hati ini terbuai untuk melupakan asal usul kita. Sudah berapa banyak kita kecewakan hati ini lewat kenikmatan yang berada di tangan orang lain. Seakan kita ingin menggenggam seisi dunia demi memuaskan hasrat keinginan kita.

Kita terus berburu pergi menjauh. Meninggalkan asal tempat kita. Tanpa sadar, tatkala kita lepaskan busur pandangan mata ini maka yakinlah kita telah memulai perburuan kematian kita sendiri.

ومن أرسل طرفه اقتنص حتفه

‘Barang siapa yang melepaskan pandangannya maka dia telah berburu kematiannya’

Berikut nasehat pujangga bagi para pemburu kematian dirinya sendiri lewat busur pandangan matanya;

وإنك إن أرسلـتَ طرفك رائدا ٠ لقلبك يــومــا أتعبتك المنــاظر
رأيتَ الذي لا كله أنت قـــادر ٠ عليه ولا عن بعضه أنت صابر

‘Sesungguhnya, jika engkau melepaskan pandangan matamu. Maka pada suatu hari nanti apa yang kamu lihat akan membuat lelah hatimu. Engkau akan melihat sesuatu yang tidak sepenuhnya dirimu mampu untuknya. Tidak pula sebagian darinya membuatmu sabar’

Entah sudah berapa banyak hati-hati yang tersakiti sebab lidah ini? Sudah berapa banyak ujaran kebencian menyeruak menyebar di dunia maya lewat sentuhan jemari kita? Kita berbangga sambil memperlihatkan sesuatu yang telah kita miliki. Kita telah menjadi panglima atas nama nafsu kita. Hati kitapun perlahan layu. Merana sebab sakit.

Hari ini Corona menyapa kita. Datang sambil memeluk kita. Berbisik seraya terucap; “Kembalilah ke rumah! Sadarlah! Cukup pengembaraanmu! Sudah terlalu jauh engkau berada! Tiba saat engkau mengenal asal usulmu!”

Berada di rumah berarti kita ber’uzlah. Kita obati sesaat hati kita yang terluka. Kita tutup sementara pandangan mata kita. Kita pelihara lidah kita. Kita jaga tangan kita. Kita dekatkan diri kita kepada asal kita, pemilik kita, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‘Uzlah berarti menyendiri dalam kesunyian (khalwat). Sambil diiringi dengan tafakkur. Mengingat akan keagungan Dzat Yang Maha Kuasa. Pemilik segala yang ada. Kepada-Nya semua akan kembali.

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata,

الفكر مرﺁة تُريك حسنك من قبيحك , ويطلع بها الإنسان أيضا على عظمة الله تعالى وجلاله إذا تفكر في ﺁياته ومصنوعاته , ويطلع بها أيضا على ﺁلائه الجليّة والخفية , فيستفيد بذلك أحوالا سنية , يزول بها مرض قلبه , ويستقيم بسببها على طاعة ربه.

‘Berfikir itu laksana cermin yang akan memperlihatkan kepadamu tentang baik-buruk perbuatanmu. Kita akan melihat pula keagungan Allah dengan merenungi ayat-ayat serta ciptaan-Nya. Maka akan tercipta pribadi yang mulia. Penyakit hati akan hilang. Serta istiqomah untuk tetap berada di jalan Tuhan’

Syarat ‘uzlah berikutnya adalah ‘ashumtu’ yaitu berdiam menyedikitkan komunikasi dengan orang lain. Stop untuk sementara beraktivitas dengan gadget. Stop dulu untuk update status. Tanpa sadar kita telah gantungkan hidup kita selama ini dengan perangkat elektronik kecil ini.

Syarat berikutnya adalah ‘alju’ yaitu dengan mengosongkan perut. Makanan dapat menyebabkan penumpukan lemak dalam tubuh. Bila menumpuk di pembuluh darah akan berakibat serangan jantung. Bila menumpuk di organ hati akan terjadi gagal hati. Makan berlebihan dapat menaikan gula darah yang berakibat kepada penyakit diabetes. Dan berbagai penyakit akibat makanan.

Syarat ’uzlah yang terakhir adalah ‘asahar’ yaitu berupaya untuk menyedikitkan tidur pada malam hari, terutama di sepertiga akhir malam. Waktu malam hari adalah tempat terbaik untuk meminta pengharapan ampunan dari dosa-dosa yang telah kita perbuat.

فان قيل الليل أفضل أم النهار ؟ الجواب الليل أفضل لانه خلق من الجنة والنهار من النهار

‘Ketika ada pertanyaan, mana yang lebih utama, siang atau malam? Jawabnya adalah malam hari lebih mulia ketimbang siang hari. Sebab malam tercipta dari surga. Sedangkan siang tercipta dari neraka’

Mari kita ‘uzlah. Virus corona atau Covid-19 telah mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada pemilik kita. Tempat kita akan kembali kepada-Nya. Kehidupan dunia telah membuat sakit hati kita. Dengan ‘uzlah kita obati hati ini.

Kita tutup dengan merenungi ayat Allah;

انا لله وانا اليه راجعون ..

‘Kami berikrar, bahwa ibadah dan diri kami adalah milik Allah. Kami juga berikrar, bahwa kami akan binasa, lalu dibangkitkan dari kubur-kubur kami. Pada akhirnya semua akan kembali kepada-Nya. Karena semua adalah milik-Nya’

المراجع:

  • غيث المواهب العلية في شرح الحكم العطائية , إبن عبّاد ألنّفزي الرّندي, ﺹ٢٧‒۳۱
  • الجامع لأحكام القران والمبيّن لما تضمّنه من السنة وﺁي الفرقان, أبي عبد الله محمد بْن أحمد بْن أبي بكرٍ القرطبيّ, الجزء ۲, الصحيفة ۴۶۷
  • شرح يس حمامي , للشيخ حمامي زاده , ۱٢

Penulis adalah Rois Syuriah MWC NU Tarumajaya

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *