Pertemuan 4 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan 4 (II)
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 31 Maret 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوة الخفية , وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية

Di dalam kitab At Tanwir fi Isqothi at-Tadbir dikatakan; Fahamilah akan tipu daya musuh yang datang kepadamu saat engkau telah ditempatkan di maqam yang Allah telah tentukan. Musuhmu akan memandang rendah dan berusaha mengalihkannya dari tempat yang Allah telah tentukan. Hatimu dibuat was-was. Waktumu terasa menyusahkan. Ini terjadi pada orang-orang yang berada di maqam ‘asbab’. Musuh berkata kepada mereka: “Seandainya engkau meninggalkan maqam ‘asbab’ lalu engkau beralih ke maqam ‘tajrid’ niscaya engkau akan mendapatkan cahaya. Hatimu akan bersinar dan tersingkap segala rahasia untukmu !” Padahal itu bukanlah maqam teruntuknya. Dan dia memang tidak akan mampu berada di situ. Dia hanya layak berada di maqam ‘asbab’. Namun dia memaksa untuk meninggalkannya untuk menuju tempat yang bukan maqamnya. Maka akan terguncang imannya. Hilang keyakinannya. Pada akhirnya ia mempunyai orientasi untuk meminta kepada makhluk. Orientasinya hanya kepada rizki. Iapun terlempar ke dalam lautan tak bertuan. Itulah tujuan musuh. Dia datang dalam bentuk nasihat namun hakekatnya menjerumuskan. Sebagaimana yang dialami oleh Adam dan Hawa ketika di surga.

مَا نَهَاكما ربُّكما عن هذه الشَّجَرَةِ إلا أن تكونا مَلَكين أو تكونا من الخالدين , وقاسَمَهما إني لكما لمن الناصحين .

‘Tuhanmu hanya melarang kamu mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal dalam surga. Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,” (QS. Al-A’raf: 20-21)

Demikian pula musuh datang kepada orang-orang yang berada di maqam ‘tajrid’. Musuh berkata kepada mereka: “Sampai kapan engkau tinggalkan persoalan dunia? Lambat laun hatimu pasti akan menuju kepada apa yang telah dimiliki oleh orang lain. Ketika itu timbullah keinginanmu. Tidak mungkin engkau penuhi kebutuhanmu saat engkau tinggalkan duniamu. Selamanya tidak akan engkau dapati hak-hakmu. Engkau hanya menantikan Allah untuk memenuhi keinginanmu lewat orang lain. Seandainya kamu beralih ke maqam ‘asbab’ maka engkau dapat memberikan orang lain sesuatu yang telah Allah berikan kepadamu”

Keadaan seseorang yang telah bahagia dalam meniti waktu-waktunya. Terbentang cahaya teruntuknya. Kebahagiaan itu timbul sebab dia telah memutus dirinya dengan persoalan dunia. Hingga di satu waktu dia kembali ke maqam ‘asbab’. Maka dia akan mendapati keruhnya persoalan dunia. Dia tertutup dengan gelapnya persoalan dunia. Ada pula yang menetap di maqam ‘asbab’ di suatu waktu akan menuju ke maqam yang lebih baik. Begitulah jalan yang ditempuh menuju Tuhan. Di satu waktu bisa jadi terhenti. Di waktu yang lain boleh jadi cenderung untuk menapakinya. Maka berpegang teguhlah hanya kepada Allah. Barang siapa yang berpegang teguh kepada-Nya maka akan mendapat hidayah menuju jalan yang lurus ..

Setan berkeinginan agar para hamba enggan untuk ridho kepada Allah dengan keadaan yang ada pada mereka. Setan menginginkan para hamba untuk keluar dari keadaan yang menjadi pilihan Allah menuju kepada keinginan sendiri para hamba. Barang siapa yang Allah masukkan ke tempat yang benar maka Allah sendiri yang kelak akan menjadi penolong. Dan barang siapa melalui dirinya masuk ke suatu tempat tanpa melalui Allah maka dirinya sendirinya sebagai penolong.

وقلْ ربِّ أدخِلْني مُدْخَلَ صِدْقٍ وأخْرِجْني مُخْرَجَ صدْقٍ واجْعلْ لي من لَدُنْك سُلْطانًا نصيرًا

‘Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan pula aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat meolongku’ (QS. Al-Isra: 80)

Maka tempat masuk yang benar adalah engkau masuk melalui Tuhanmu bukan karena keinginan dirimu sendiri. Demikian pula tempat keluar yang benar.

Tempat yang diridhoi oleh Allah dapat membawa kedamaian untuk ditempati. Allah sendiri yang akan menjadi penolong menuju tempat yang benar sebagaimana Dia telah menjadi penolong menuju tempat masuk yang benar.

Suatu ketika aku mengunjungi Syekh, radhiallahu anhu. Di dalam hatiku terbersit keinginan menuju ke maqam ‘tajrid’. Akupun bergumam dalam hati, sesungguhnya untuk menuju kepada Allah melalui jalan ini yaitu dengan cara menjauhi ilmu-ilmu dzohir serta menjauhi manusia. Syekh berkata tanpa kuminta; telah berkawan kepadaku seseorang yang menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu dzohir. Diapun datang kepadaku sambil berkata, wahai tuanku, aku ingin keluar dari kondisiku ini. Persahabatan telah menyibukkan diriku. Akupun berkata kepadanya, tidaklah demikian, tetaplah dirimu pada keadaanmu saat ini. Jalan yang telah Allah takdirkan akan mengantarkanmu menuju kepada-Nya. Tiba-tiba Syekh berkata sambil memandangku, demikianlah keadaan ‘As shiddiqin’. Mereka tidak akan keluar hingga Allah sendiri yang kelak akan membawanya keluar.

Beberapa saat setelah aku meninggalkan Syekh. Allah telah membasuh rasa khawatir dari hatiku. Aku mendapatkan ketenangan dalam kepasrahanku kepada-Nya. Akupun teringat dengan apa yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: هم القوم لا يشقَى بهم جليسهم (اخرجه البخاري)

‘Rasulullah SAW bersabda: Merekalah golongan yang tidak akan membuat celaka kepada orang-orang yang ikut bersama mereka’

Demikianlah perkataan yang terdapat di dalam kitab At Tanwir fi Isqathi at Tadbir ..

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *