Pertemuan 7 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan 6
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, April 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

اجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك

‘Kesungguhan kamu pada sesuatu yang telah dijamin untuk kamu dapati. Sementara kewajiban kepada Tuhanmu menjadi terbengkalai. Maka itu sebagai tanda pudarnya penglihatan mata hatimu’

Sesuatu yang telah dijamin keberadaannya adalah rezekinya hamba yang telah ditanggung keberadaannya selama di dunia.

Allah telah menjamin rezeki hamba-Nya. Hamba tidak diperkenankan sibuk mencari rezeki. Tidak pula dituntut bersungguh-sungguh untuk berusaha mencarinya sebab telah dijamin keberadaannya.

Sesuatu yang dituntut dari hamba adalah amal yang dapat menyampaikannya kepada kebahagiaan kehidupan akhirat. Dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala melalui ibadah-ibadah dan bentuk kepatuhan lainnya.

Hamba dituntut berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan amal tersebut. Menjaga syarat-syaratnya, sebab-sebabnya, serta waktu-waktunya. Dengan demikian berlaku ‘sunnatullah’ bagi hamba-hamba-Nya.

Jaminan Allah atas rezeki hamba-Nya dinyatakan dalam surat Al-Ankabut ayat 60;

وَكّأيِّنْ مِن دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رزْقَها اللهُ يَرْزُقُها وإيَّاكم

‘Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak dapat mengurus rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya’

Tuntutan kepada hamba untuk berusaha mendapatkan amal dinyatakan dalam surat An-Najm ayat 39,

وأنْ لَّيسَ لِلْإنسان إلا ما سعى

‘Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya’

Di sebagian hadis-hadis Nabi dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman;

عبدى, أطِعني فيما أمرتك ولا تُعلّمني بما يُصلحك

‘Allah berfirman, “Hamba-Ku, Ta’atlah engkau kepada-Ku pada apa yang Aku perintahkan kepadamu. Dan janganlah mengajari-Ku tentang sesuatu yang terbaik bagimu’

Dalam hadis lain disebutkan;

ما بالُ أقوامٍ يشرّقون المترفّين , ويستخفون بالعابدين , ويعملون بالقرﺁن ما وافق أهواءهم , وما خالف أهواءهم تركوه , فعند ذلك يؤمنون ببعض الكتاب ويكفرون ببعضٍ , يسعون فيما يدرك بغير سعيٍ من القدر المقدور والأجَل المكتوب والرزق المقسوم , ولا يسعون فيما لا يدرك إلا بالسعي من الجزاء الموفوز , والسعيِ المشكور , والتجارة التي لا تبور ( أخرجه الطبراني )

‘Bagaimanakah keadaan sebuah kaum yang hanya mengagungkan orang-orang terhormat, meremehkan orang-orang yang beribadah, beramal dengan Al-Qur’an disesuaikan dengan keinginan mereka, meninggalkan Al-Qur’an ketika tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka beriman dengan sebagian isi Al-Qur’an dan tidak percaya kepada sebagian yang lainnya, mereka berusaha keras mendapatkan sesuatu yang telah dijamin keberadaannya, baik takdir, ajal maupun rezeki, mereka tidak berusaha terhadap sesuatu yang dituntut untuk melakukannya, berupa balasan yang berlimpah, bersyukur, serta perniagaan yang tidak mungkin merugi.

Ibrahim bin Ahmad bin Ismail Abu Ishaq Al Khawwas berkata;

العلم كله في كلمتين: لا تتكلفْ ما كُفيتَ , ولا تُضيّعْ ما استكفيتَ

‘Ilmu semuanya kembali kepada dua kalimat. Pertama, jangan engkau membebani diri kepada sesuatu yang engkau telah diberi kecukupan. Kedua, jangan engkau sia-siakan sesuatu yang engkau diminta untuk dicukupi’

Maka barang siapa yang melakukan hal ini atas apa yang telah kami sebutkan di atas. Bersungguh-sungguh pada sesuatu yang dituntut kepadanya dan mengosongkan hatinya kepada sesuatu yang telah dijamin keberadaannya. Maka akan terbuka mata hatinya. Nur Allah akan bersemai di hatinya. Tercapai hakekat tujuan hidupnya.

Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya. Maka akan buta mata hatinya. Hatinya akan tertutup. Setiap perbuatan yang dilakukannya itu menjadi gambaran atas apa yang ada dalam hatinya.

‘Bashirah’ adalah sesuatu yang dapat dilihat oleh hati. Sebagaimana penglihatan terhadap sesuatu yang dapat dilihat oleh mata.

Penglihatan hati hanya dapat melihat ‘akibat’ atau ‘kesudahan’. Akibat itu hanya milik orang-orang yang bertakwa. Maka takwa adalah sesuatu yang mesti harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan meninggalkan segala rintangan yang menghalanginya.

Ungkapan ‘muallif’ (pengarang) dengan kata ‘ijtihad’ (bersungguh-sungguh) adalah memberi kesan bahwa mencari rezeki tanpa ada kesungguhan bukanlah tujuan dari pembicaraan muallif. Memang demikian adanya, sebab mencari rezeki adalah perkara mubah (diperbolehkan). Maka hal tersebut tidak akan membuat pudar penglihatan mata hati seseorang. Beda halnya jika mencari rezeki dapat melalaikan sesuatu yang diperintahkan kepadanya . Terdapat di dalam kitab ‘At-Tanwir fi Isqathit Tadbir’ ketika mengomentari firman Allah dalam surat Taha ayat 132;

وأْمُرْ أهلك بالصلاة واصطبر عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك

Ayat tersebut ditafsiri dengan;

قم بخدمتنا , ونحن نقوم لك بقسمتنا , وهما شيئان : شيئ ضمِنه الله لك فلا تهتمّ به , وشيئ طلبه منك فلا تُهمله.

‘Bangkitlah untuk melayani Kami. Dan Kami akan memberikan kepada kamu bagian Kami. Maka menjadi dua bagian. Pertama, sesuatu yang telah dijamin oleh Allah maka jangan bersungguh-sungguh kamu untuk mendapatkannya. Kedua, sesuatu yang diminta untuk dilakukan maka jangan engkau abaikan’

Barang siapa yang menyibukkan diri terhadap sesuatu yang telah dijamin sehingga meninggalkan sesuatu yang diminta untuk dilakukan maka akan memperbesar kebodohannya dan meluaskan kelupaannya. Dia akan mempersedikit perhatiannya kepada orang yang mengingatkannya. Sudah semestinya bagi hamba untuk sibuk kepada sesuatu yang diminta untuk dilakukannya dan meninggalkan sesuatu yang telah dijamin keberadaannya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan rezeki kepada orang-orang yang ingkar. Bagaimana mungkin Allah tidak memberikan rezeki kepada orang-orang yang telah bersaksi atas ke-Esaan-Nya? Jika Allah telah pula memberikan rezeki kepada orang-orang kafir. Bagaimana mungkin Allah tidak memberikan kepada orang-orang yang beriman?

Ketahuilah olehmu wahai hamba! Sesungguhnya persoalan dunia yang dapat memberatkanmu telah dijamin untukmu. Sedangkan akhirat dituntut bagimu untuk melakukan amal baik. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 197;

وتزوّدوا فإنّ خير الزّاد التقوى

‘Bawalah bekal karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa’

Bagaimana mungkin dapat diterima oleh akal atau mata hati bila kesibukanmu pada persoalan yang telah dijamin keberadaannya dapat menghalangimu untuk meninggalkan sesuatu yang kamu diminta untuk melakukannya, yaitu persoalan akhirat?!

Lebih tidak masuk lagi perkataan sebagian orang;

إن الله تعالى ضمن لنا الدنيا وطلب منا الاخرة , فليته ضمن لنا الاخرة وطلب منا الدنيا

‘Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjamin kepada kita urusan dunia dan meminta kita kepada persoalan akhirat. Alangkah baiknya bila saja Allah menjamin persoalan akhirat dan menuntut kita kepada persoalan dunia!’

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *