Latifah (Kelembutan) Tafsir Surat Al-Fatihah, 8-10

لطائف التفسير ( ٨ ‒١٠ )

Latifah (kelembutan) tafsir Surat Al Fatihah, 8-10
Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 3 Mei 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

اللطيفة الثامنة ( Latifah 8 )

Firman Allah Ta’ala, إياك نعبد وإياك نستعين (hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan). Kalimat tersebut telah berpaling dari bentuk ‘ghaibah’ (kata ganti orang ketiga) kepada ‘khitab’ (kata ganti orang kedua). Ini merupakan bentuk tata cara-cara dalam percakapan. Dengan tujuan untuk lebih menyentuh perasaan. Bagian dari ilmu balaghah. Bila ingin dikembalikan ke asal, yaitu إياه نعبد (hanya kepada-Nya kami menyembah). Maka telah berpaling dari ‘dhomir ghoib’ (kata ganti orang ketiga) berpindah kepada ‘dhomir mukhotob’(kata ganti orang kedua). Hal seperti ini terdapat juga di dalam surat Al-Insan, ayat 21-22. Pada mulanya menggunakan ‘dhomir ghoib’;

وسقاهم رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُوْرًا

‘Dan Tuhan memberikan kepada (mereka) minuman yang bersih dan suci’. Lalu berpaling kepada ‘dhomir mukhotob’;

إنّ هذا كان لكم جزاءً

‘Inilah balasan untuk (mu) ..’

Terkadang terjadi sebaliknya, berpaling dari ‘dhomir mukhotob’ kemudian berpindah kepada ‘dhomir ghoib’. Seperti dalam surat Yunus ayat 22;

هو الذي يُسَيِّرُكُمْ فىِ الْبَرِّ والْبَحْرِ حتّى إذا كنتم فى الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيْحٍ طَيِّبَةٍ

‘Dialah Tuhan yang menjadikan (kamu) dapat berjalan di daratan dan berlayar di lautan. Sehingga ketika (kamu) berada di dalam kapal, dan meluncurlah kapal itu membawa (mereka) dengan tiupan angin yang baik ..’

Abu Hayyan di dalam kitab al- Bahr, berkata, “Perbandingan ini seperti engkau menyebutkan kepada seseorang dengan sifat-sifat yang mulia dengan menggunakan kata ganti bentuk ketiga (dhomir ghoib), padahal orang tersebut hadir bersama kamu. Lalu engkau berkata kepadanya, إياك أقصد (aku bermaksud kepada dirimu!). Tujuan mengalihkan perkataan dengan menggunakan ‘dhomir mukhotob’ yaitu agar apa yang diinginkan dapat tersampaikan kepada orang yang dituju. Hal tersebut tidak bisa tejadi bila menggunakan lafal إياه (dhomir ghoib)”

اللطيفة التبسعة ( Latifah 9 )

Lafal نعبد (kami menyembah) dan نستعين (kami memohon pertolongan), keduanya dengan bentuk jamak. Tidak menggunakan bentuk tunggal, إيك أعبد وإيك أستعين (hanya kepada Engkaulah aku menyembah, dan hanya kepada Engkaulah aku memohon pertolongan). Hal tersebut merupakan ‘nuktah latifah’ (masalah yang lembut), yaitu pengakuan seorang hamba dengan sifat kekurangannya ketika berada di hadapan Malikil Muluk Jalla wa ‘Ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hamba meminta agar diberi pertolongan serta hidayah, dengan kesendiriannya tanpa hamba yang lainnya. Seakan-akan dia berkata;

يا ربّ أنا عبد حقير , ذليل , لا يليق بي أن أقف هذا الموقف في مناجتك بمفردي , بل أنا أنضمّ إلى سلك المُوحّدين , وأدعوك معهم , فتقبّلْ دعائي معهم , فنحن جميعا نعبدك ونستعين بك .

‘Wahai Tuhanku, aku adalah hamba yang rendah lagi hina. Tidak layak bagiku berada di tempat ini seraya memohon kepada-Mu dengan kesendirianku. Namun, aku berhimpun di jalan orang-orang yang mengesakan-Mu. Aku memohon bersama mereka. Maka terimalah doaku bersama mereka. Kami semua menyembah kepada-Mu, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’

Mendahulukan ‘maf’ul’ atas ‘fi’il’ pada kalimat إياك نعبد dan kalimat إياك نستعين , menunjukkan kepada pembatasan dan kekhususan. Sebagaimana juga di dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 40, وإِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ (dan takutlah kepada-Ku saja), dengan tujuan untuk mengagungkan dan menaruh perhatian kepada-Nya.

Berkata Ibnu ‘Abbas, Radiallahu Anhuma, maknanya adalah نعبدك ولا نعبد غيرك (kami menyembah kepada-Mu dan tidak ada yang kami sembah selain-Mu).

Al-Qurthubi berkata, jika ditanyakan, mengapa ‘maf’ul’ (إياك ) mendahului ‘fi’il’ ( إياك ) ? Jawabnya adalah, karena bertujuan untuk menaruh perhatian kepada sesuatu yang dianggap penting. Sebab kebiasaan orang Arab yang mendahulukan sesuatu yang lebih penting. Disebutkan bahwa seorang Arab mencela kepada seorang Arab lainnya. Orang yang dicela kemudian berpaling untuk meninggalkannya. Orang yang mencela lalu berkata, إياك أَعْنِي (aku bermaksud kepadamu!). Orang yang dicelapun berkata, وعنك أُعْرِضُ (aku berpaling dari hadapanmu!). Maka keduanya mendahulukan sesuatu yang dianggap lebih penting dengan mendahulukan ‘maf’ul’.

Berkata Al-‘Ajjaj,

إياك أدعو فتقبلْ مَلَقِي ۰ واغفر خطايَ وكثّرْ ورقي

‘Hanya kepada-Mu aku menyembah, maka terimalah doaku. Ampunilah segala dosa-dosaku dan perbanyaklah harta bendaku’

Diulanginya lafal إياك bertujuan untuk menghindari adanya dugaan bacaan sebagai berikut;

إياك نعبد ونستعين غيرك

‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan kami memohon pertolongan kepada selain-Mu’

اللطيفة العاشرة ( Latifah 10 )

Allah ‘Azza wa Jalla mengaitkan diri-Nya dengan ‘kenikmatan’ dengan ungkapan أنعمتَ عليهم . Diri-Nya tidak dikaitkan dengan ‘kesesatan’ dan ‘kemurkaan’ dengan tidak mengatakan غَضِبْتَ عليهم وأَضْلَلْتَهم . Yang demikian itu sebagai pembelajaran tata cara adab hamba kepada Allah, yaitu dengan cara tidak mengaitkan setiap keburukan kepada-Nya. Meskipun setiap keburukan juga merupakan takdir yang datang dari-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama;

الخير كله بيديك والشرّ ليس إليك

‘Semua kebaikan berada dalam genggaman-Mu. Sedangkan keburukan tidak disebabkan oleh-Mu’

Ajaran bagaimana adab kepada Allah juga terdapat dalam firman Allah Ta’ala melalui lisan Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam surat Asy-Syu’ara, ayat 78-80;

الّذِيْ خلَقَنِيْ فهو يَهْدِيْنِ . والّذيْ هو يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ . وإِذَا مَرِضْتُ فهو يَشْفِيْنِ .

‘Tuhan, Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang telah memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku’

Dalam ayat di atas tidak menggunakan redaksi وَإِذَا أَمْرَضَنِي (dan apabila Dia, Yang telah menjadikan diriku sakit). Ini semata-mata sebagai adab hamba kepada Allah Ta’ala.

Sebagaimana juga firman Allah melalui para jin mu’min dalam surat Al-Jinn, ayat 10;

وَأَنَّا لَا نَدْرِيْ أَشَرٌّ أُرِيْدَ بِمَنْ فىِ الأَرضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

‘Dan sesungguhnya kami (jin) tidak mengetahui adanya penjagaan itu apakah keburukan yang dikehendaki orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan baginya’

Ayat di atas tidak menggunakan redaksi أَشَرٌّ أرادَ الله (apakah keburukan yang dikehendaki Allah).

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *