Hukum-Hukum Syar’i di dalam Surat Al-Fatihah (1)

الأحكام الشّرْعيّة ( ۱ )
Hukum-Hukum Syar’i di dalam Surat Al-Fatihah (1)

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 10 Mei 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

الحكم الأول ( Hukum yang pertama )

Para ulama sepakat bahwa kalimat ‘basmalah’ termasuk bagian surat An-Naml, ayat 30;

إنه مِن سليمانَ وإنه بسم الله الرحمن الرحيم

‘Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman yang isinya, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang’

Namun para ulama berbeda pendapat perihal, apakah ‘basmalah’ termasuk di dalam surat Al-Fatihah dan apakah menjadi awal pada setiap surat atau tidak? Tentang ini, terdapat beberapa pendapat ulama. Pertama, ‘basmalah’ termasuk ke dalam surat Al-Fatihah serta menjadi awal setiap surat dalam Al-Qur’an. Ini merupakan pendapat Imam Syafi’i. Kedua, ‘basmalah’ tidak termasuk ke dalam surat Al-Fatihah dan tidak juga menjadi awal setiap surat dalam Al-Qur’an. Ini pendapat Imam Malik. Ketiga, ‘basmalah’ merupakan ayat yang mandiri di dalam Al-Qur’an. Berfungsi untuk memisah antar surat di dalam Al-Qur’an. Bukan pula termasuk bagian ayat dalam surat Al-Fatihah.

Dalil (argumentasi) kalangan Syafi’iyah.
Mazhab Syafi’iyah bergumentasi dengan beberapa dalil,

Pertama, hadis riwayat Abu Hurairoh, dari Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam;

إذا قرأتم الحمد لله رب العالمين , فاقرءوا بسم الله الرحمن الرحيم , إنها أم القرﺁن , وأم الكتاب , والسَبع المثاني , وبسم الله الرحمن الرحيم أحد ﺁياتها ( رواه الدارقطني )

‘Apabila kamu hendak membaca الحمدلله رب العالمين , maka bacalah بسم الله الرحمن الرحيم . Sesungguhnya ‘surat Al-Fatihah’ adalah induk Al-Qur’an, induk al-Kitab, tujuh ayat yang diulang-ulang di dalam shalat, dan ‘basmalah’ salah satu bagian ayat di dalamnya’

Kedua, hadis Ibnu Abbas radiallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallahu Alai wa Sallam memulai shalat dengan membaca بسم الله الرحمن الرحيم (HR. At-Tirmidzi).

Ketiga, hadis Anas radiallahu anhu, bahwasanya dia pernah ditanya tentang qiroah (bacaan) Rasulullah. Anas menjawab, bahwa Rasulullah membaca dengan ‘mad’ (tartil)… Setelah itu iapun membaca بسم الله الرحمن الرحيم . الحمد لله رب العالمين . الرحمن الرحيم . مالك يوم الدين .. (HR. Al-Bukhori)

Keempat, hadis Anas radiallahu anhu, bahwasanya ia berkata;

بينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يومٍ بين أَظْهُرِنا إذْ أَغْفَى إغفاءةً , ثم رفع رأسه مُتبسِّمًا , فقلنا ما أضحكك يا رسول الله ؟ قال : نزلتْ عليّ ﺁنفاً سورةً , فقرأ ( بسم الله الرحمن الرحيم . إنا أعطيناك الكوثر . فصل لربك وانحر . إنّ شانئك هو الأبتر )

‘Suatu ketika Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam berada di antara punggung-punggung kami dalam keadaan mengantuk. Lalu beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kamipun bertanya kepadanya, apa yang membuat engkau tertawa wahai Rasulullah? Nabi bersabda, baru saja telah turun kepadaku satu surat. Kemudian membaca, بسم الله الرحمن الرحيم . إنا أعطيناك الكوثر . فصل لربك وانحر . إنّ شانئك هو الأبتر (HR. Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mereka berkata, hadis ini menunjukkan bahwa ‘basmalah’ merupakan ayat tiap-tiap surat dalam Al-Qur’an, berdasarkan argumentasi Rasulullah membaca ‘basmalah’ pada surat Al-Kausar.

Kelima, mereka berargumentasi secara rasional, yaitu bahwa sesungguhnya mushaf al-Imam (Mushaf Usman di Madinah) di dalamnya terdapat ‘basmalah’ diawal surat Al-Fatihah dan diawal tiap-tiap surat di dalam Al-Qur’an terkecuali pada surat Al-Baraah. Penulisan ‘basmalah’ juga terjadi pada mushaf-mushaf yang disalin dari Mushaf al-Imam yang tersebar ke kota-kota lainnya kala itu. Keberlanjutan tersebut melalui jalan mutawattir (diyakini) bahwa para penulis mushaf di masa itu tidak mungkin menulis sesuatu yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an. Hingga mereka melarang bila hanya menulis semisal sepersepuluh dari ayat-ayat Al-Qur’an, melarang menulis nama-nama surat, melarang menaruh tanda titik yang lazim kita temui pada saat ini. Mushaf Usman ini layaknya seperti simbol-simbol gambar yang bisa dibaca dengan berbagai versi sesuai kehendak pembacanya. Itu semua dilakukan dengan tujuan untuk menjaga orisinalitas Al-Qur’an dari masuknya sesuatu yang memang bukan termasuk Al-Qur’an. Oleh karena itu, ketika dijumpai ‘basmalah’ di dalam surat Al-Fatihah dan di awal surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an maka itu menunjukkan bahwa ‘basmalah’ merupakan ayat dari tiap-tiap surat yang ada dalam Al-Qur’an.

Dalil (argumentasi) mazhab Malikiyah..
Kalangan Malikiyah berargumentasi bahwa ‘basmalah’ bukan termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah, bukan pula bagian dari awal surat-surat dalam Al-Qur’an. ‘Basmalah’ hanya sebatas membawa keberkahan untuk perbuatan yang diawali dengan membaca ‘basmalah’. Argumentasi yang mereka ajukan yaitu;

Pertama, hadis Aisyah Radiallahu Anha, beliau berkata;

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفتح الصلاة بالتكبير , والقراءة بالحمد لله رب العالمين ( رواه مسلم )

‘Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam memulai shalat dengan takbir, dilanjutkan dengan membaca الحمد لله رب العالمين ‘.

Kedua, hadis Anas, sebagaimana dalam hadis Bukhori-Muslim, dia berkata;

صلّيتُ خلف النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر , وعمر , وعثمان , فكانوا يستفتحون بالحمد لله رب العالمين .

‘Saya shalat di belakang Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar, dan di belakang Usman. Mereka tidak memulai dengan membaca الحمد لله رب العالمين ‘.

Di dalam riwayat Muslim;

لا يذكرون بسم الله الرحمن الرحيم , لا فى أول قراءة ولا في ﺁخرها ( رواه البخاري ومسلم )

‘Mereka tidak menyebutkan بسم الله الرحمن الرحيم , baik di awal bacaan maupun di akhir bacaan’

Ketiga, termasuk yang dijadikan dalil bahwa ‘basmalah’ bukan termasuk surat Al-Fatihah yaitu hadis Abu Hurairoh, dia berkata;

سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : قال عزّ وجلّ : قسمتُ الصلاة بيني وبين عبدي نصفين , ولعبدي ما سأل . فإذا قال العبد : الحمد لله رب العالمين . قال الله تعالى : حمدني عبدي . وإذا قال العبد : الرحمن الرحين . قال الله تعالى : أثنى عليّ عبدي . وإذا قال العبد : مالك يوم الدين . قال الله تعالى : مجّدني عبدي – وقال مرة فوّض إليّ عبدي – فإذا قال : إياك نعبد وإياك نستعين . قال : هذا بيني وبين عبدي , ولعبدي ما سأل . فإذا قال : إهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين . هذا لعبدي ولعبدي ما سأل .

‘Aku mendengar Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku membagi surat Al-Fatihah menjadi dua bagian, antara Aku dan hamba-Ku”. Ketika hamba membaca الحمد لله رب العالمين , Allah berfirman, “Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku”. Apabila hamba membaca الرحمن الرحين , Allah berfirman, “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Apabila hamba membaca مالك يوم الدين , Allah berfirman, “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”, Allah mengulangi firman-Nya, “Hamba-Ku telah memberikan kuasa penuh kepada-Ku”. Apabila hamba membaca إياك نعبد وإياك نستعين , Allah berfirman, “Ini hanya antara Aku dan hamba-Ku. Hamba-Ku boleh meminta apa yang ia inginkan”. Apabila hamba membaca إهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين , Allah berfirman, “Ini teruntuk hamba-Ku. Baginya boleh meminta apa yang menjadi keinginannya”.

Kalangan Malikiyah berkata, firman Allah Subhanahu قسمتُ الصلاة , maksudnya adalah surat Al-Fatihah. Surat Al-Fatihah dinamai Shalat, sebab shalat tanpa membaca surat Al-Fatihah tidak sah. Seandainya ‘basmalah’ termasuk bagian dari surat Al-Fatihah maka ‘basmalah’ dalam hadis qudsi di atas pasti diikut sertakan juga.

Keempat, Seandainya ‘basmalah’ termasuk ke dalam surat Al-Fatihah maka terjadi pengulangan kata الرحمن الرحيم pada dua tempat di dalam satu surat, menjadi, بسم الله الرحمن الرحيم . الحمدلله رب العالمين . الرحمن الرحيم , yang demikian itu dapat merusak keindahan susunan kalimat.

Kelima, penulisan ‘basmalah’ di awal-awal surat di dalam Al-Qur’an itu bersifat tabarruk (memohon keberkahan), juga ada perintah untuk menulisnya dan diletakkan diawal setiap surat. Meskipun secara penulisan ‘basmalah’ di awal setiap surat bersifat mutawattir (kebenaran pasti). Namun tidak serta merta dapat dikatakan bahwa ‘basmalah’ termasuk Al-Qur’an.

Al-Qurtubi berkata, yang mendekati kebenaran dari pendapat-pendapat di atas yaitu pendapat Imam Malik. Sebab kepastian bahwa ‘basmalah’ termasuk Al-Qur’an tidak bisa ditetapkan melalui hadis Ahad. Hanya bisa melalui jalan mutawattit yang bersifat qot’iy (pasti) sehingga tidak menjadi bahan perdebatan.

Ibnu Arabi berkata, sudah cukup perbedaan pendapat tentang ‘basmalah’ menjadi bagian dalam Al-Qur’an, itu menjadi bukti bahwa ‘basmalah’ bukan termasuk Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang diperdebatkan. Hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa ‘basmalah’ bukan termasuk ayat dari surat Al-Fatihah, tidak juga pada surat yang lainnya, terkecuali hanya terdapat dalam surat An-Naml.

Ibnu Arabi menambahkan, sesungguhnya pendapat kami tersebut berdasar rasionalitas. Masjid Nabi Shallahu Alai wa Sallam di Madinah, dari masa kemasa, sejak masa Nabi sampai kepada masa raja, tidak ada satupun yang membaca بسم الله الرحمن الرحيم , sebab mengikuti sunnah.

Dali (argumrntasi) kalangan Hanafiyah.
Kalangan Hanafiyah berpendapat bahwa penulisan ‘basmalah’ di Mushaf (Al-Qur’an) menunjukkan bahwa ‘basmalah’ termasuk Al-Qur’an. Namun tidak berarti menunjukkan bahwa ‘basmalah’ termasuk ayat pada setiap surat di dalam Al-Qur’an. Hadis-hadis yang menunjukkan kepada ketidak bolehan ‘basmalah’ dibaca keras ketika shalat, itu sebagai argumentasi bahwa ‘basmalah’ bukan termasuk ke dalam surat A-Fatihah. Mereka memutuskan bahwa ‘basmalah’ merupakan ayat di dalam Al-Qur’an secara mandiri, kecuali di surat An-Naml. Berfungsi sebagai pemisah antar surat di dalam Al-Qur’an.

Alasan yang menguatkan pendapat mereka adalah hadis yang diriwayatkan dari para sahabat;

كنا لا نعرف انقضاء السورة حتى تنزل بسم الله الرحمن الرحيم ( أخرجه أبو داود )

‘Kami tidak mengetahui kapan selesainya satu surat diturunkan, hingga turun بسم الله الرحمن الرحيم ‘

Demikian pula hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radiallahu Anhuma;

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان لا يعرف فصل السورة حتى ينزل عليه بسم الله الرحمن الرحيم ( أخرجه الحاكم )

‘Sesungguhnya Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam tidak mengetahui batasan surat hingga turun بسم الله الرحمن الرحيم .

Berkata Imam Abu Bakr ar-Razi, “sungguh terdapat perselisihan tentang ‘basmalah’, apakah termasuk ke dalam surat Al-Fatihah atau tidak? Ahli qiroat dari kalangan Kufah berpendapat ‘basmalah’ termasuk surat Al-Fatihah. Sedangkan ahli qiroat dari kalangan Bashrah berpendapat sebaliknya. Imam Syafi’i berkata, ‘basmalah’ termasuk surat Al-Fatihah. Barang siapa yang tidak membacanya ketika shalat maka shalatnya wajib diulangi. Syaikhuna, Abu al-Hasan al-Karkhi menceritakan bahwa bacaan ‘basmalah’ tidak boleh diperjelas ketika shalat. Ini menunjukkan bahwa ‘basmalah’ tidak termasuk surat Al-Fatihah. Pendapat para sahabat kami, ‘basmalah’ bukanlah termasuk ayat di awal surat-surat dalam Al-Qur’an, sebab tidak boleh diperjelas bacaannya ketika shalat. Ketika ‘basmalah’ tidak termasuk ke dalam surat Al-Fatihah, maka demikian juga pada surat-surat yang lain. Imam Syafi’i menganggap bahwa ‘basmalah’ termasuk ayat pada tiap-tiap surat di dalam Al-Qur’an. Tidak ada seorangpun dari kalangan ulama salaf yang berpendapat seperti pendapatnya Imam Syafi’i. Sebab perbedaan pendapat ulama salaf terjadi pada apakah ‘basmalah’ termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah atau tidak? Tidak ada seorangpun dari kalangan ulama salaf yang berpendapat bahwa ‘basmalah’ merupakan bagian dari surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an’.

Imam Abu Bakr ar-Razi melanjutkan, termasuk argumentasi bahwa ‘basmalah’ bukanlah bagian dari awal surat-surat di dalam Al-Qur’an, yaitu hadis Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam;

سورة فى القرﺁن ثلاثون ﺁيةً شفعتْ لصاحبها حتى غفر له ‹ تبارك الذي بيده الملك ›

‘Surat di dalam Al-Qur’an yang memiliki 30 ayat, yang akan memberikan syafaat bagi yang membacanya, yaitu تبارك الذي بيده الملك .

Para ahli qiroat dan yang lainnya sepakat bahwa jumlah ayat dalam surat Al-Mulk yaitu 30 ayat, di luar بسم الله الرحمن الرحيم . Seandainya ‘basmalah’ termasuk ke dalam surat Al-Mulk maka jumlah ayatnya bertambah menjadi 31. Ini akan menyalahi hadis Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam. Seluruh ahli qiroat dan para fuqoha dari kota Kufah dan Bashrah sepakat bahwa surat Al-Kausar berjumlah 3 ayat, surat Al-Ikhlas berjumlah 4 ayat. Seandainya ‘basmalah’ termasuk ke masing-masing surat tersebut maka melebihi jumlah ayat yang mereka hitung.

الترجيح (Pendapat yang diunggulkan).
Setelah masing-masing mengajukan dalil-dalil serta metodelogi kerangka berfikir dari para Imam Mazhab, maka kami katakan, pendapat dari kalangan ulama Hanafi lebih diunggulkan dari yang lainnya. Pendapat kalangan Hanafi menengahi, menjadi titik temu di antara dua pendapat yang saling bertentangan. Kalangan Syafi’i mengatakan, bahwa ‘basmalah’ termasuk ayat dari surat Al-Fatihah serta termasuk ayat yang ada di awal tiap-tiap surat dalam Al-Qur’an. Sementara dari kalangan Maliki berkata, bahwa ‘basmalah’ tidak termasuk ke dalam surat Al-Qur’an maupun surat-surat lainnya yang ada dalam Al-Qur’an. Perbedaan ini merupakan sunnatullah yang dapat ditolerir, ولكل وجهة هو موليها (setiap pihak mempunyai arah pandangannya)

Namun, kita harus akui bahwa ‘basmalah’ tertulis di dalam Mushaf. Tanpa ada pengingkaran dari siapapun. Di samping keyakinan, bahwa para sahabat Nabi telah mengosongkan mushaf dari sesuatu yang tidak termasuk Al-Qur’an. Itu menunjukkan bahwa ‘basmalah’ bagian dari Al-Qur’an. Namun tidak berarti ‘basmalah’ merupakan ayat dari masing-masing surat yang ada dalam Al-Qur’an. ‘Basmalah’ termasuk Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pemisah antar surat. Ini sesuai dengan isyarat dari hadis Nabi yang lalu;

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان لا يعرف فصل السورة حتى ينزل عليه بسم الله الرحمن الرحيم

Alasan yang mengatakan bahwa ‘basmalah’ tidak termasuk awal tiap-tiap surat diperkuat dengan metodelogi yang telah bangun di kalangan orang-orang Arab ketika berbicara. Mereka menggunakan berbagai macam metode balaghah untuk memperindah kalam. Terlebih ketika ‘basmalah’ menjadi awal tiap-tiap surat. Maka awal-awal surat hanya terpaku kepada satu metode saja. Ini menyalahi prinsip kemu’jizatan Al-Qur’an.

Perkataan ulama Malikiyah yang mengatakan bahwa ‘basmalah’ belum mencapai tingkat mutawatir (pasti) untuk dapat dijadikan sebagai bagian dari Al-Qur’an, sebagai pendapat yang tidak jelas. Sebab tidak mesti dikatakan bahwa tiap-tiap ayat yang merupakan Al-Qur’an itu mesti mutawatir. Perintah Rasulullah untuk menulis ‘basmalah’ itu sudah dikatakan telah mencukupi sebagai mutawatir. Para Imam sepakat bahwa seluruh yang terdapat di dalam mushaf merupakan Al-Qur’an. Maka ‘basmalah’ merupakan ayat yang berdiri sendiri di dalam Al-Qur’an yang keberadaannya diulang-ulang di banyak tempat sebagai bentuk tabarruk (memohon keberkahan) atas nama Allah Ta’ala. Pendapat ini dapat menjadi penenang jiwa. Sebagai kompromi atas teks-teks agama yang dijadikan sebagai dalil (argumentasi) masing-masing.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *