Hukum-Hukum Syar’i di dalam Surat Al-Fatihah ( 2-3 )

الأحكام الشّرْعيّة ۲‒٣
Hukum-Hukum Syar’i di dalam Surat Al-Fatihah ( 2-3 )

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 17 Mei 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

الحكم الثاني ( Hukum yang kedua )
Bagaimana hukum membaca ‘basmalah’ di dalam shalat?

Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang membaca ‘basmalah’ di dalam shalat.
Pertama, pendapat Imam Malik rahimahullah yang melarang membaca ‘basmalah’ di dalam shalat yang wajib, baik shalat yang dikeraskan bacaannya maupun yang disamarkan bacaannya, baik di awal surat Al-Fatihah maupun di awal-awal surat lainnya. Diperbolehkan membaca ‘basmalah’ ketika shalat sunnah.

Kedua, pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah, diperbolehkan bagi orang yang shalat membaca ‘basmalah’ dengan bacaan samar di tiap-tiap rakaat shalatnya. Baik pula membaca ‘basmalah’ pada tiap-tiap surat dalam Al-Qur’an.

Ketiga, pendapat Imam Syafi’i rahimahullah, wajib membaca ‘basmalah’ bagi orang yang sedang shalat. Bila kategori shalat yang dikeraskan bacaannya maka bacaan ‘basmalah’ juga dikeraskan membacanya. Sebaliknya bila shalat yang disamarkan bacaannya maka bacaan ‘basmalah’ juga dibaca secara samar.

Perbedaan pendapat di antara mereka dilatar belakangi oleh perbedaan mereka tentang ‘basmalah’, apakah termasuk ke dalam surat Al-Fatihah dan berada di awal tiap-tiap surat di dalam Al-Qur’an atau tidak? Persoalan tersebut telah dibahas pada hukum yang pertama terdahulu.

Ibnu Al-Jauzi di dalam kitab Zad Al-Masir berkata, terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad menanggapi perbedaan, apakah ‘basmalah’ termasuk ke dalam surat Al-Fatihah atau tidak? Pertama, bagi orang yang berkata bahwa ‘basmalah’ termasuk ke dalam surat Al-Fatihah maka wajib baginya membaca ‘basmalah’ di dalam shalat ketika ia mewajibkan membaca surat Al-Fatihah di dalam shalat. Kedua, bagi orang yang berpendapat ‘basmalah’ tidak termasuk ke dalam surat Al-Fatihah maka dia berpendapat bahwa membaca ‘basmalah’ di dalam shalat hukumnya sunnah. Ketiga, pendapat Imam Malik yang berpendapat membaca ‘basmalah’ tidak disunnahkan ketika shalat.

Mereka berbeda pendapat perihal membaca dengan keras ‘basmalah’ ketika berada pada shalat dengan bacaan dikeraskan. Sekelompok orang, meriwayatkan dari Imam Ahmad, berpendapat tidak disunnahkan untuk membaca ‘basmalah’ dengan suara keras. Ini pendapat dari Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Ibnu Mas’ud, pendapat Assauri, Malik, dan Abu Hanifah.

Imam Syafi’i berpendapat bahwa membaca keras ‘basmalah’ pada shalat yang dikeraskan bacaannya hukumnya adalah sunnah. Ini berdasarkan riwayat dari Mu’awiyah, ‘Atha dan Thawus.

الحكم الثالث ( Hukum yang ketiga )
Apakah wajib membaca surat Al-Fatiha ketika shalat atau tidak wajib?

Terdapat dua perbedaan tentang hukum membaca surat Al-Fatihah di dalam shalat.

Pertama, pendapat jumhur (mayoritas) ulama, yaitu Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, mengatakan bahwa membaca surat Al-Fatihah merupakan syarat sahnya shalat. Barang siapa yang meninggalkannya, padahal ia mampu untuk melakukannya maka shalatnya tidak sah.

Kedua, pendapat Assauri dan Imam Abu Hanifah, shalat dianggap telah mencukupi meskipun tanpa membaca surat Al-Fatihah. Tidak membuat shalatnya menjadi batal, hanya dianggap berlaku tidak baik. Yang wajib dibaca di dalam shalat adalah bacaan apapun yang terdapat di dalam Al-Qur’an, minimal tiga ayat atau satu ayat yang panjang.

Argumentasi jumhur ulama.
Jumhur ulama berargumentasi atas kewajiban membaca surat Al-Fatihah sebagai berikut,

Pertama, hadis ‘Ubadah bin Shamit;

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب ( رواه استة )

‘Tidak sah shalatnya seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah’

Kedua, hadis Abu Hurairoh, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من صلى صلاة لم يقرأ فيها بأمّ الكتاب فهي خِداج , فهي خداج , فهي خداج غيرُ تمام .

‘Barang siapa yang shalat tanpa membaca surat Al-Fatihah di dalamnya maka shalatnya fasid, shalatnya fasid, shalatnya fasid, tidak sempurna’

Ketiga, hadis Abu Sa’id al-Khudri;

أمرنا أن نقرأ بفاتحة الكتاب وما تيسّر ( رواه أبو داود )

‘Rasulullah telah memerintahkan kepada kita untuk membaca surat Al-Fatihah dan ayat yang mudah’

Mereka berkata, hadis-hadis tersebut menunjukkan kepada diwajibkannya membaca surat Al-Fahihah di dalam shalat. Hadis Nabi لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب , menunjukkan kepada ketidaksahan shalat tanpa membaca surat Al-Fatihah. Demikian pula hadis Abu Hurairoh فهي خِداج , diulang sebanyak tidak kali menunjukkan kepada berkurang dan fasid shalatnya. Maka membaca Al-Fatihah menjadi syarat sahnya shalat.

Argumentasi kalangan Hanafiyah.
Assauri dan ahli fiqih dari kalangan Hanafiyah berargumentasi atas sahnya shalat tanpa membaca Al-Fatihah dengan argumentasi Al-Qur’an dan As Sunnah;

Al-Qur’an surat Al-Muzammil ayat 20;

فاقْرءُوْا ما تيسَّرَ من القرﺁن

‘Bacalah yang mudah bagimu dari Al-Qur’an’

Mereka berkata, Al-Qur’an menunjukkan bahwasanya yang wajib dibaca di dalam shalat yaitu ayat manapun dari Al-Qur’an yang dimampui. Sebab di dalam Al-Qur’an hanya dikatakan ‘ayat’ yang wajib dibaca di dalam shalat;

إنّ ربك يعلمُ أنّك تقوم أدْنى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ

‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri shalat kurang dari dua pertiga malam’ (QS. Al-Muzammil: 20)

Umat tidak berbeda pendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah shalat di waktu malam hari. Menurut kami ayat tersebut bersifat umum, baik shalat di waktu malam maupun siang, baik shalat sunnah maupun shalat fardhu.

Adapun dalil As-Sunnah, yaitu hadis riwayat Abu Hurairoh radiallahu anhu;

أن رجلا دخل المسجد فصلى , ثم جاء فسلّم على النبيّ صلى الله عليه وسلم فردّ عليه السلام وقال : إرجعْ فصلِّ فإنك لم تصل . فصلى ثم جاء فأمره بالرجوع , حتى فعل ذلك ثلاث مراتٍ , فقال : والذي بعثك بالحق ما أُحْسِنُ غيره , فقال عليه الصلاة والسلام : إذا قمتَ إلى الصلاة فأسبغْ الوضوء , ثم استقبلْ القبلةَ فكبّرْ , ثم اقرأْ ما تيسّر معك من القرﺁن , ثم اركعْ حتى تطمئنّ راكعا , ثم ارْفعْ حتى تعتدلَ قائماً , ثم اسجدْ حتى تطمئنّ ساجدا , ثم ارفع حتى تستويَ قائماً , ثم افعلْ ذلك في صلاتك .

‘Sesungguhnya seorang laki-laki masuk ke dalam masjid kemudian shalat. Tidak lama kemudian Nabi datang. Laki-laki tersebut mengucapkan salam kepada Nabi. Nabipun menjawab salamnya. Nabi bersabda, “Ulangi shalatmu, sesungguhnya engkau belum melakukan shalat!” Laki-laki tersebut mengulangi shalatnya. Nabi datang kembali kepadanya dengan memerintahkan untuk kembali shalat. Kejadian tersebut berulang sampai tiga kali. Laki-laki itupun berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran. Bagaimana cara aku memperbaikinya?” Nabi ‘alaihis shalatu wa salam bersabda, “Apabila kamu hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu, lalu menghadap kiblat kemudian bertakbir, setelah itu bacalah ayat dari Al-Qur’an yang kamu mampui, kemudian ruku dengan thama’ninah, lalu i’tidal dengan thama’ninah, kemudian sujud dengan thama’ninah, lalu duduk diantara dua sujud dengan thama’ninah, kemudian sujud kembali dengan thama’ninah, setelah itu berdiri. Lakukanlah itu semua di dalam shalatmu!”

Mereka berkata, hadis Abu Hurairoh mengajarkan kepada seorang laki-laki tata cara shalat. Menunjukkan atas kebolehan untuk membaca ayat manapun di dalam Al-Qur’an ketika shalat. Hadis tersebut menguatkan ayat sebelumnya.

Adapun hadis Ubadah bin Shamit, menurut mereka dibawa kepada ketiadaan kesempurnaan shalat. Bukan ketiadaan secara hakekat. Makna hadis tersebut menurut mereka;

لا صلاة كاملةً لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

‘Tidak sempurna shalatnya seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah ketika shalat’

Dengan demikian mereka berkata, shalat tetap sah meskipun makruh. Mereka menyamakan hadis tersebut dengan hadis Nabi yang lain;

لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد

‘Tidak sempurna shalat orang yang berdekatan dengan masjid kecuali di masjid’

Sedangkan hadis Abu Hurairoh فهي خداخ , فهي خداخ … , mereka mengatakan bermakna الناقصة (kurang). Menunjukkan kebolehan shalat tanpa Al-Fatihah meskipun nilainya kurang sempurna. Sebab, seandainya shalat tidak diperbolehkan maka tidak menyebutkan kata bermakna الناقصة . Dengan mengatakan shalat menjadi berkurang nilainya maka kebatalan shalat menjadi ditiadakan. Karena tidak diperbolehkan sifat kurang sempurna disematkan untuk sesuatu yang batal yang ditiadakan keberadaannya.

Kesimpulan dari masing-masing pendapat!
Jika engkau perhatikan maka akan terlihat bahwa pendapat jumhur ulama lebih kuat secara dalil. Sesungguhnya kebiasaan Nabi alaihisshalatu wassalam membaca surat Al-Fatihah, baik di dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah, juga kebiasaan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi. Ini menunjukkan bahwa shalat tanpa membaca Al-Fatihah dianggap tidak mencukupi (tidak sah). Kepentingan hadis Nabi adalah sebagai penjelas atas keumuman makna Al-Qur’an. Maka dianggap cukup ucapan dan perbuatan Nabi sebagai argumentasi atas kewajiban membaca Al-Fatihah ketika shalat.

Pendapat jumhur ulama diperkuat pula dengan hadis riwayat Muslim dari Abu Qatadah, dia berkata;

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي بنا فيقرأ في الظهر والعصر في الركعتين الأولَيَيْنِ بفاتحة الكتاب وسورتين , ويُسْمعُنا اﻟﺂيةَ أحيانًا , وكان يطوّل في الركعة الأولى من الظهر , ويقصّر الثانية , وكذلك في الصبح .

‘Rasulullah shalat bersama kami. Beliau membaca surat Al-Fatihah dan dua surat di dua rakaat pertama shalat dzuhur dan ashar. Terkadang Rasulullah memperdengarkan ayat kepada kami. Beliau memperpanjang bacaan shalat pada rakaat pertama shalat dzuhur dan memperpendek pada rakaat yang kedua. Demikian pula pada shalat subuh’

Di dalam riwayat yang lain;

ويقرأ في الركعتين الأخريين بفاتحة الكتاب

‘Nabi membaca Al-Fatihah di dua rakaat terakhir’

At-Thabari berkata, Nabi membaca Al-Fatihah di tiap-tiap rakat shalat. Jika Beliau tidak membacanya maka dicukupkan dengan ayat Al-Qur’an yang jumlah bilangan ayat dan hurufnya sama dengan surat Al-Fatihah.

Al-Qurthubi berkata, yang paling tepat di antara beberapa pendapat, yaitu pendapat Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Malik. Setiap individu wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat. Ini berdasarkan keumuman hadis Nabi;

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب ( رواه استة )

‘Tidak sah shalatnya seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah’

Sungguh telah diriwayatkan dari Umar bin Khattab, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairoh, Ubay bin Ka’ab, Abu Ayyub al-Anshari, Ubadah bin Shamit, Abu Sa’id al-Khudri, mereka berkata;

لا صلاة إلا بفاتحة الكتاب

‘Tidak ada shalat kecuali dengan membaca Al-Fatihah’

Mereka semua adalah para sahabat Nabi yang menjadi panutan. Mereka semua mewajibkan membaca Al-Fatihah di tiap-tiap rakaat shalat.

Komentar Al-Fakruddin ar-Razi, sesungguhnya Nabi alaihissalam membiasakan sepanjang usianya membaca surat Al-Fatihah ketika shalat. Wajib bagi kita untuk mengikutinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-A’raf ayat 158;

واتَّبِعُوْهُ لعلكم تَهْتدون

‘Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk’

Sungguh mengherankan pendapat dari Abu Hanifah yang mengatakan bahwa tidak wajib membaca Al-Fatihah ketika shalat. Pada persoalan lain, dia berpendapat wajibnya membasuh seperempat kepala ketika berwudhu. Padahal hadis tersebut adalah hadis Ahad yang diriwayatkan oleh Al-Mughiroh bin Syu’bah radiallahu anhu;

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أتى سُباطةَ قومٍ فبال وتوضأ , ومسح على ناصيته وخُفَّيه

‘Dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendatangi tempat sampahnya suatu kaum lalu kencing dan berwudhu dengan mengusap ubun-ubunnya serta dua sepatunya’

Berdasarkan hadis di atas, Abu Hanifah mewajibkan mengusap seperempat kepala sebagai syarat sahnya shalat !!!

Sementara dalam kasus membaca surat Al-Fatihah yang diyakini kebenarannya secara mutawatir (pasti) datang dari Rasulullah. Abu Hanifah berkata;

إنّ صحة الصلاة غير موقوفٍ عليها

‘Sesungguhnya sahnya shalat tidak menunggu adanya surat Al-Fatihah’

Sungguh, ini menjadi sesuatu yang mengherankan !!!

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *