Menerima Takdir Allah SWT, Bukan Berarti Harus Menerima Apa Yang Di Takdirkan.

Kitab Qotrul Ghoist

Penulis : Ust. Munzir Tamam

Editor : Sholahuddin Al Fikri

Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani dalam Kitab nya Qotrul Ghoist memberikan perumpaan antara Taqdir dan Kufur, bagaimana menyelaraskan keduanya agar bisa di terima.

Yang perlu di garis bawahi adalah

الرضا بالقضاء والقدر واجب والرضا بالكفر كفر

” Ridho dengan kehendak dan ketetapan Alloh itu Wajib hukumnya, sedangkan Ridho dengan kekufuran itu Kufur “
Padahal kufur itu kehendak dan ketetapan Alloh

فكيف اجتماع الواجب والكفر ؟؟؟

Kemudian bagaimana menyelaraskan antara kewajiaban ridho terhadap qodho dan membenci terhadap kufur ???

Pencerahan :
Ridho itu di wajibkan hanya untuk Qodho dan Qodar saja bukan kepada dzatiyah/bentuk wujud ( Realisasi )/apa yang di taqdirkan dari pada Qodho dan Qodar itu sendiri, seperti contoh Kufur ( sesuatu yang bertentangan dengan syariat ) kita di tuntut membenci/tidak ridho terhadap kufur dari arah bentuk wujud kufur itu, bukan dari arah Qodho dan Qodar Nya,

Adapun dari arah Qodho dan Qodar Nya maka kita tetap di haruskan ridho terhadap kufur itu karena sudah menjadi kehendak dan ketetapan Alloh, dalam artian ridho terhadap kufur itu dengan tidak melawan atas kehendak dan ketetapan Allah, bahkan kita di tuntun untuk meyakini akan Hikmah dan sifat adil di balik kehendak dan ketetapan Nya.

Kesimpulan, Kufur dari arah ٌّمَقضِي ( Bentuk wujud dari pada Qodho) boleh untuk mengingkarinya, meskipun kufur juga قضاء nya Alloh yang wajib kita terima.

Mungkin inilah contoh kecil yang agak membingungkan pembaca dari pada Dawuh nya Ibnu Arobi :

الرضا بالقضاء لا يلزم الرضا بالمقضي

” Ridho terhadap taqdir Alloh bukan berarti harus ridho terhadap apa yang di taqdirkan”
Selamat bingung
Wallahualam.

Penulis adalah santri asal Bekasi yang saat ini mondok di Ponpes Lirboyo Kediri Jatim.

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *