Pertemuan 8 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke-8
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 9 Juni 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء موجبا ليأسك فهو الذي ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك , لا فيما تختاره لنفسك , وفي الوقت الذي يريد لا في الوقت الذي تريد .

‘Keterlambatan masa pemberian pada doa yang terus dipanjatkan jangan menyebabkan kamu putus asa. Allah yang menjamin dikabulkan setiap permohonan yang terbaik menurut-Nya. Bukan permohonan yang menurut pandanganmu baik. Allah juga yang menentukan kapan doa hamba-Nya dikabulkan. Bukan hamba yang menentukan kapan doanya dikabulkan’

Hukum bagi seorang hamba adalah tidak mempunyai pilihan sedikitpun terhadap ketentuan Tuhan-Nya. Hamba tidak bisa menetapkan kebaikan teruntuk dirinya. Sebab dia tidak mempunyai pengetahuan tentang apapun. Terkadang sesuatu yang ia benci kelak menjadi kebaikan teruntuknya. Banyak pula sesuatu yang ia sukai kelak menjadi keburukan teruntuknya.

Berkata Sayyidi Abu al-Hasan as-Syadzili, Radiallahu Anhu;

لا تختر من أمرك شيئا , واختر أن لا تختار , وفرّ من ذلك المختار , ومن فرارك , ومن كل شيئ إلى الله عز وجل ‹ وربك يخلق ما يشاء ويختار ›

‘Jangan engkau mempunyai pilihan sedikitpun terhadap persoalanmu. Memilihlah untuk tidak mempunyai pilihan. Larilah dari pilihanmu tersebut. Larilah kamu dari lari kamu tersebut. Larilah kamu dari apapun juga. Menuju kepada Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman, “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki” (Al-Qasas: 68)’

Seorang lelaki berkunjung ke kediaman Sayyidi Abi al-Abbas al-Mursi, Radiallahu Anhu, yang saat itu sedang dalam kondisi sakit. Berkata lelaki tersebut, “Mudah-mudahan Allah memberikan kesembuhan atasmu wahai Sayyidi.”

Sayyidi Abi Al-Abbas hanya terdiam tidak menjawab. Lelaki itupun sesaat terdiam. Tidak lama kemudian lelaki tersebut berkata, “Allah yang akan memberikan kesembuhan kepadamu wahai Sayyidi.”

Akhirnya Syekh Abu al-Abbas berkata kepadanya, “Mengapa saya meminta kesehatan kepada Allah? Sungguh kamu meminta kesehatan kepada-Nya? Padahal saya dalam keadaan sehat!” Ini pernah dialami Rasulullah saat memohon kesehatan kepada Allah. Kemudian beliau bersabda, ”Aku masih merasakan sakit sebab racun yang ada dalam makanan saat di Khaibar. Dan saat ini Aku merasakan urat tali nadiku dipotong oleh racun itu!” Ini kisah dari sayyidina Umar, Radilallahuanhu, memohon kepada Allah agar diberi kesehatan. Setelah itu ia meninggal dalam keadaan ditikam. Sayyidina Utsman memohon kesehatan kepada Allah. Setelah itu ia meninggal dalam keadaan disembelih. Sayyidina Ali, Radiallahuanhu juga demikian, memohon kesehatan kepada Allah. Tidak lama setelah itu ia meninggal dalam keadaan dibunuh. Maka apabila engkau meminta kesehatan kepada Allah. Memintalah kesehatan di mana Allah mengetahui bahwa kesehatan tersebut menjadi kebaikan teruntukmu.

Maka bagi hamba sudah semestinya menyerahkan dirinya kepada Tuhannya. Mempunyai keyakinan bahwa yang terbaik untuknya dari setiap persoalan telah diurus oleh-Nya. Meskipun terkadang berbeda dari keinginannya. Ketika ia berdoa seraya meminta sesuatu kepada Tuhannya yang menurutnya permintaannya tersebut membawa kebaikan teruntuknya maka yakinlah permohonannya pasti dijawab. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Gafir ayat 60;

وقال ربكمُ ادْعوني أستجبْ لكم

‘Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.”

Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 186;

وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعانِ

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu Muhammad tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku’

Dari Jabir Radiallahuanhu, berkata. Aku mendengar Rasulullah Sallahu Alaihi wa Sallam bersabda;

ما من أحد يدعو بدعاء إلا ﺁتاه الله ما سأل أو كف عنه من السوء مثله , ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحمٍ (أخرجه الترمذي)

‘Tidak ada dari seseorang yang berdoa terkecuali Allah akan mendatangkan sesuatu yang ia mohonkan. Atau Allah akan menolak keburukan yang akan terjadi dari apa yang ia mohonkan. Selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutus ikatan silaturrahim’

Dari Anas bin Malik Radiallahuanhu, dari Nabi Sallahu Alaihi wa Sallam bersabda;

ما من داعٍ يدعو إلا استجاب الله له دعوته , أو صرف عنه مثلها سوءًا أو حطّ من ذنوبه بقدرها , ما لم يدعو بإثمٍ أو قطيعة رحِمٍ

‘Tidak ada dari sesorang yang berdoa terkecuali diperkenankan doanya teruntuknya. Atau akan dipalingkan keburukan dari apa yang ia mohonkan. Atau akan diturunkan dosanya. Selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutus ikatan silaturrahim’

Bila demikian, setiap doa hamba pasti dikabulkan. Sebab itu sudah menjadi janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun persoalan segera dikabulkannya doa adalah hak prerogatif Allah. Terkadang tercegah atau diakhirkan dikabulkannya doa itu merupakan bentuk dikabulkan serta diterimanya doa. Maka seorang hamba jangan merasa putus asa dari karunia Allah ketika merasa terhalang atau diakhirkan permohonannya. Terkadang boleh jadi diakhirkan dikabulkan doanya karena itu yang terbaik untuk dirinya. Sungguh telah datang di sebagian hadis;

يبعث عبد , فيقول الله تعالى : ألم ﺁمرْك برفع حوائجك إليّ , فيقول : بلى , وقد رفعتك إليك , فيقول الله تعالى : ما سألت شيئاً إلا أجبتك فيه , ولكن أنجزت لك البعض فى الدنيا , وما لم أُنْجِزه فى الدنيا فهو مُدَّخر لك , فخذه اﻟﺂن , حتى يقول ذلك العبد : ليته لم يقض لي حاجةً في الدنيا

‘Dibangkitkan hamba dari kuburnya. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Bukankah Aku telah perintahkan kepadamu untuk melaporkan segala kebutuhanmu kepada-ku? Hamba menjawab, “Betul!” Allah Ta’ala kembali berfirman, “Tidak ada sedikitpun sesuatu yang engkau minta terkecuali Aku kabulkan. Namun Aku penuhi sebagian keinginanmu ketika di dunia. Sementara sebagian yang tidak Aku kabulkan di dunia maka itu menjadi simpananmu. Sekarang, ambillah!” Hingga hamba tersebut berkata, “Jika demikian, aku berharap segala keinginanku tidak dikabulkan di dunia. Aku ingin semuanya menjadi simpananku di akhirat!”

Sungguh datang dari Rasulullah larangan untuk meminta disegerakan permohonan seseorang kepada Tuhannya. Rasulullah bersabda;

يستجاب لأحدكم مالم يعجّلْ فيقول : قد دعوتُ فلم يستجب لي ( أخرجه ابن ماجه )

‘Akan dikabulkan setiap permohonan kamu selama tidak minta disegerakan. Rasulullah bersabda, “Sungguh aku telah berdoa namun tidak dikabulkan doaku!”

Musa dan Harun Alahimassalam berdoa kepada Allah untuk membinasakan Firaun. Ini diceritakan dalam Al-Qur’an, surat Yunus, ayat 88;

ربّنا اطْمِسْ على أموالهم واشْدُدْ على قلوبهم , فلا يُؤْمنوا حتى يَرَوُا العذابَ الْأليمَ

‘Ya Tuhan kami, binasakanlah harta mereka dan kuncilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih’

Kemudian Allah kabulkan permohonan mereka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Yunus, ayat 89;

قال قد أُجِيبتْ دَّعْوَتُكما , فاسْتقيْما ولا تَتَّبِعَانِّ سبيلَ الذين لا يعلمون

‘Allah berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui.”

Mereka berkata, jarak antara firman Allah -telah diperkenankan permohonan kamu berdua- dengan binasanya Firaun yaitu 40 tahun lamanya.

Berkata Sayyidi Abu al-Hasan as-Syadzili, Radiallahuanhu, perihal firman Allah Ta’ala, فاستقيما , maksudnya adalah ketidak bolehan meminta disegerakan permohonan keduanya. Sedangkan maksud dari firman Allah, ولا تتبعانِّ سبيل الذين لا يعلمون , adalah mereka yang meminta disegerakan permohonan mereka.

Cukuplah untukmu kemuliaan serta keberuntungan yang akan engkau peroleh di sebabkan menetapkan diri untuk selalu berdoa. Engkau akan memperoleh cinta serta ridho Allah. Sungguh diriwayatkan dari Nabi;

إن الله يحب المُلَحِّين في الدعاء ( أخرجه ابن حجر )

‘Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang meminta dengan terus mendesak ketika berdoa’

Di dalam hadis lain Nabi bersabda;

قال جبريل عليه السلام : يا رب عبدُك فلان إقْضِ له حاجاته , فيقول : دعُوا عبدي , فإني أحبُّ أن أسمع صوته ( رواه أنس بن مالك )

‘Berkata Jibril Alaihissalam, “Wahai Tuhan, hamba-Mu, Pulan, penuhilah segala keinginannya!” Allah berfirman, “Tinggalkanlah hambaku, Aku suka mendengar suara hamba-Ku yang berdoa.”

Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa sebagian manusia ada yang disegerakan permohonan doanya sebab Allah tidak suka mendengar suara hamba tersebut. Maka sepatutnya bagi hamba untuk hati-hati ketika meminta disegerakan doanya.

Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al Mahdawi berkata,

كل من لم يكن في دعائه تاركا لاختياره وراضيا باختيار الحق فهو مستدرَج , وهو ممن قيل : اقضوا حاجته فإني أكره أن أسمع صوته , فإذا كان في دعائه مع اختيار الحق تعالى , لا مع اختيار نفسه , كان مجابا وإن لم يعط , والأعمال بخواتيمها

‘Barang siapa ketika berdoa tidak menyerahkan pilihannya dan tidak ridho dengan pilihannya Allah maka ia terkena istidraj (boleh jadi kesenangan yang diberikan akan menjadi azab baginya). Maka katakan kepadanya, “Penuhi keinginannya, sebab Aku tidak suka mendengar suaranya.” Tapi ketika sesorang berdoa dengan menyerahkan pilihannya kepada Allah, bukan karena pilihannya sendiri maka doanya akan dikabulkan meskipun tidak langsung diberikan. Sebab amal dilihat di akhir perbuatannya’

Terkadang dikabulkannya doa dikaitkan dengan syarat-syarat yang tidak diketahui oleh orang yang berdoa. Karenanya permohonannya ditunda untuk dikabulkan. Seperti syarat adanya kesulitan. Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Naml, ayat 62;

أمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ إذا دعاه

‘Bukankah Allah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya.’ Maka dikaitkan dikabulkan doa dengan adanya kesulitan.

Berkata sebagian al-‘Arifin (orang yang telah mencapai tingkat ma’rifat);

إذا أراد الله أن يستجيب دعاء عبد رزقه الاضطرار في الدعاء

‘Apabila Allah berkeinginan doa hamba dikabulkan maka Dia berikan kesulitan sebagai syarat dikabulkan doanya.’

Kesulitan dapat menyebabkan diri seorang tidak memiliki pilihan untuk dirinya. Berkata sebagian al-‘Arifin;

المضطر الذي إذا رفع يده لم ير لنفسه عملا

‘Seseorang yang dalam kesulitan apabila mengadahkan tangannya seraya mehon kepada Allah maka dia tidak punya pilihan teruntuk dirinya.’

Ini adalah keadaan yang mulia dan maqam yang tinggi bagi seseorang. Mayoritas manusia menjadi mulia bila telah sampai kepada maqam tersebut.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *