Hikmah Disyari’atkannya Surat Al-Fatihah

حكمة التشريع
Hikmah disyari’atkannya surat Al-Fatihah

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 21 Juni 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

Manusia terhenti di hadapan surat Al-Fatihah yang mulia ini seperti berhentinya seorang hamba yang tunduk, yang mengakui atas ketidakmampuannya, mengakui kealpaannya. Surat Al-Fatihah ini merupakan wahyu yang berasal dari Allah Ta’ala. Firman Tuhan semesta alam. Firman Allah yang di luar kemampuan akal manusia untuk mengetahuinya. Hanya manusia yang diberikan keunggulan, kecerdasan, serta keluasan ilmu yang dapat membuka tabir rahasia firman Allah Ta’ala.

Segenap kemampuan manusia hanya bisa merasakan keterbatasan dirinya atas keunggulan Al-Qur’an, ketinggian makna-maknanya, serta keindahan bunyinya. Terasa begitu lemah untuk sekedar mendatangkan semisal satu ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an. Terlebih bila harus mendatangkan semisal Al-Qur’an al-Aziz.

Surat Al-Fatihah yang meskipun pendek serta ringkas, namun mencakup makna-makna Al-Qur’an secara keseluruhan, mencakup tujuan-tujuan pokok Al-Qur’an. Di dalam surat Al-Fatihah mencakup ushul (pokok) dan furu’ (cabang) agama. Mencakup akidah, ibadah, syari’at, keyakinan adanya balasan dan hisab, beriman dengan sifat-sifat Allah yang terbaik, tidak mempersekutukan-Nya, meminta pertolongan, berdoa, memohon hidayah menuju kepada agama yang benar serta jalan yang lurus, memohon ditetapkan iman, menerangkan jalannya orang-orang yang soleh,menjauhi jalannya orang-orang yang dimurkai dan jalannya orang-orang yang sesat.

Berkata Al-‘Allamah, Al-Qurthubi, surat Al-Fatihah dinamai juga Al-Qur’an al-Adzim, sebab di dalam Al-Fatihah mencakup seluruh pengetahuan yang ada di dalam Al-Qur’an. Dalam surat Al-Fatihah mencakup pujian kepada Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, perintah beribadah dengan ikhlas, pengakuan atas ketidakmampuan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala, memohon kepada-Nya atas hidayah untuk menuju kepada jalan yang benar, menghindari keadaan orang-orang yang melanggar, menjelaskan akibat orang yang durhaka. Ini semua adalah tujuan-tujuan yang terdapat di dalam AL-Qur’an.

As-Syahid, Syekh al-Bana, di dalam tafsirnya, Muqaddimah fi al-Tafsir, berkata, tidak diragukan bahwa orang yang melakukan tadabbur (memperhatikan, memikirkan secara berulang-ulang) terhadap surat Al-Fatihah –setiap mukmin dituntut bertadabbur ketika membaca surat Al-Fatihah, terlebih ketika membacanya dalam shalat- dia akan melihat sesuatu yang akan menyinari hatinya dari sebab berlimpah serta elok maknanya, dari keterkaitan antar kalimat yang mampu menggoncang perasaan.

Seseorang yang melakukan pekerjaan yang baik maka dimulai dengan mengucap nama Allah (bismillah) yang mempunyai sifat kasih sayang. Kasih sayang-Nya tampak di segala sesuatu. Merasakan bahwa hubungan yang terjalin antara ia dan yang menciptakannya yaitu terjalin melalui kasih sayang-Nya. Ketika telah merasakan makna ini maka terucap melalui lisannya kata pujian kepada Tuhannya yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (Arrahman Arrahim).

Dirinya kemudian diingatkan dengan kata ‘Alhamdu’, sebagai ungkapan atas betapa besar nikmat-nikmat-Nya, betapa mulia karunia-Nya, betapa besar nikmat-nikmat yang tampak dalam keberlangsungan alam ini seluruhnya tanpa terkecuali. Mata hatinya berkelana mengelilingi samudera yang tak bertepi. Lalu diingatkan sekali lagi bahwa nikmat-nikmat yang besar serta pemeliharaan yang agung ini bukanlah tentang suka atau tidak suka namun tentang karunia dan rahmat dari-Nya. Maka terucap untuk kali kedua kata ‘Arrahman Arrahim’. Namun, termasuk sifat kesempurnaan Tuhan yaitu diiringinya sifat ‘Rahman’ (Maha Pengasih) dengan ‘al Adl’ (Maha Adil). Allah kemudian mengingatkan dengan ‘hisab’ (perhitungan amal) setelah menyebutkan karunia-Nya. Maka Allah bersama dengan rahmat-Nya yang sempurna akan memberikan balasan kepada para hamba-Nya. Setiap hamba akan dihisab pada hari akhir kelak;

يوم لا تملكُ نفسٌ لنفسٍ شيئاً والأمرُ يومئذٍ لله

‘Yaitu pada hari ketika seseorang sama sekali tidak berdaya menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah’ (QS. Al-Infitar: 19)

Allah mendidik hamba-Nya agar selalu bersemangat untuk mendapatkan rahmat-Nya, mengintimidasi hamba-Nya dengan rasa keadilan dan ‘hisab’. Jika sudah demikian maka seorang hamba akan menjadi ‘mukallaf’ (terbebani) dengan mempunyai pilihan untuk melakukan kebaikan dan mencari jalan-jalan keselamatan. Terlebih keinginan kepada Dzat yang akan memberikan hidayah menuju jalan yang benar dan menunjukkan kepada ‘sirathal mustaqim’ (jalan yang lurus). Hendaknya berlindung serta berpegang teguh kepada-Nya dengan mengucap;

إياك نعبد وإياك نستعين

‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan’

Oleh karunia-Nya, mintalah hidayah kepada-Nya untuk menuju kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Allah telah berikan nikmat kepada mereka yang telah mengetahui kebenaran lalu mengikutinya. Bukan jalannya orang-orang dimurkai sebab menyangkal setelah adanya pemberian dan kembali durhaka setelah mendapatkan hidayah. Bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat meninggalkan kebenaran atau mereka yang berkeinginan kepada kebenaran tapi tidak mencapainya disebabkan tergelincir.

Bahwa kalimat ﺁمينadalah ungkapan yang unggul dari sisi keindahannya. Ungkapan yang mana yang lebih unggul dibanding surat Al-Fatihah dan menuju kepada Allah dengan doa?

Tidakkah engkau melihat susunan yang teramat rapi atau kerikatan yang lebih kokoh yang ada di antara makna-makna ayat-ayat ini? Dan ingatlah saat engkau dibuat linglung dengan keindahan jalan ini kepada ungkapan yang diriwayatkan oleh Rasulullah dari Tuhannya di dalam hadis qudsi yang lalu;

…قسمتُ الصلاةَ بيني وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل

‘Aku membagi shalat menjadi dua bagian antara Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku terserah apa yang dia minta …”

Kekalkanlah renungan ini. bersungguh-sungguhlah engkau ketika membaca surat Al-Fatihah di waktu shalat maupun di luar shalat dengan tenang, tidak tergesa-gesa, khusu serta merendah. Berhentilah di setiap ujung ayat. Berikanlah haknya bacaan berupa tajwid tanpa terbebani, menyimpang dan sibuk dengan lafaz dengan meninggalkan makna. Sertakan dengan suara yang berimbang ketika membaca atau pada shalat yang dikeraskan bacaannya. Sesungguhnya hal tersebut dapat membantu untuk bisa memahami. Dapat membangkitkan air mata yang telah surut. Tidak ada sesuatu yang lebih utama serta bermanfaat bagi hati selain membaca dengan perenungan disertai khusus.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *