Pertemuan 10 – Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 10
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Rabu, 24 Juni 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

إذا فُتحَ لك وِجْهةٌ من التعرف فلا تبال معها إن قلّ عملك , فإنه ما فتحها لك إلا وهو يريد أن يتعرف إليك , ألم تعلمْ أن التعرف هو مورده عليك , والأعمال أنت مُهديها إليه , وأين ما تُهديه إليه مما هو مورده عليك .

‘Apabila dibuka jalan ma’rifat untukmu maka tidak diperdulikan sedikitnya amal yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak membukakan jalan teruntukmu terkecuali Dia berkeinginan menjadikanmu ma’rifat kepada-Nya. Tidakkah engkau ketahui bahwa sesungguhnya ma’rifat itu didatangkan kepadamu. Sedangkan amal-amalmu sebagai hadiah yang engkau berikan kepada-Nya. Bagaimana mungkin hadiah yang engkau persembahkan kepada-Nya itu bagian dari sesuatu yang Dia berikan untukmu?’

Ma’rifatullah (mengetahui Allah) merupakan akhir dari setiap pencarain, puncak segala pengharapan dan kebutuhan. Ketika Allah Ta’ala mengarahkan hamba-Nya kepada sebagian sebab-sebab menuju kepada ma’rifat, membukakan hamba-Nya kepada pintu ma’rifat, lalu memberikan kepada hamba-Nya ketenangan serta kedamaian. Maka yang demikian itu merupakan kenikmatan yang teramat besar teruntuk hamba. Sepatutnya baginya untuk tidak memperhatikan amal kebaikan yang akan hilang oleh sebab ma’rifat. Tidak memperdulikan ganjaran yang besar sebab hilangnya amal kebaikan tersebut. Hamba tersebut mesti yakin bila ia sedang bersama Allah menuju ke tempat orang-orang yang khusus yang dekat kepada-Nya, menghantarkannya kepada hakekat tauhid dan keyakinan tanpa usaha dan amal dari seorang hamba. Adapun amal-amal kebaikan yang melalui usahanya hamba maka boleh jadi tidak selamat dari berbagai penyakit yang dapat merusaknya, rusaknya keikhlasan yang menjadi tuntutan, hingga ketika terjadi hisab (perhitungan) boleh jadi tidak tercapai keinginan dari seorang hamba untuk mendapatkan pahala. Bagaimana dapat disamakan antara pemberian Allah tanpa usaha hamba dengan amal-amal yang diusahakan oleh hamba?

Contohnya, berbagai musibah berupa ujian maupun bencana yang menimpa manusia. Sehingga menyusahkan hidupnya di dunia dan menghalanginya untuk memperbanyak amal baik.

Keinginan manusia adalah terus hidup abadi di dunia, cukup kehidupannya serta bahagia keadaannya. Sementara keadaannya di dalam mencari kebahagiaan kehidupan akhirati seperti orang-orang yang berlindung dari ketakutan. Dirinya tidaklah menjadi dermawan terkecuali dengan amal-amal yang terlihat yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak bersusah payah, tidak terputus kelezatan serta keinginannya.

Sementara keinginan Allah bagi hamba yaitu membersihkannya dari akhlak yang tercela, menghalanginya dari sifat-sifat yang tercela, mengeluarkannya dari tahanan terhadap dirinya menuju kepada keluasan menyaksikan kehadiran Allah Ta’ala. Tidak ada jalan yang sempurna untuk bisa sampai kepada maqam ini terkecuali oleh sesuatu yang berlawanan dengan keinginannya, berbeda dari kebiasaannya. Bila sudah demikian maka keadaannya saat itu ia sedang bermualah (berdagang) dengan amal yang bersifat batin. Tidak ada keterkaitan antara amal batin dengan amal dzohir.

Apabila seorang telah memahami tentang ini maka ia mengetahui bahwa pilihan dan keinginan Allah merupakan yang terbaik teruntuknya ketimbang pilihan dan keinginan dirinya.

Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada sebagian nabi-nabi-Nya, “Aku turunkan ujian kepada hamba-Ku. Kemudian ia berdoa kepada-Ku. Lalu Aku tidak kabulkan doanya. Diapun mengadu kepada-Ku. Aku katakan padanya, wahai hamba-Ku, bukankah Aku menyayangimu dengan sesuatu yang menimpamu yang menjadikan sebab Aku menyayangimu?”

Di dalam hadis Abu Hurairoh radiallahuanhu, bahwa sesungguhnya Nabi bersabda,

قال الله تبارك وتعالى : إذا ابتليتُ عبدي المؤمن فلم يَشْكِني إلى عُوّادٍ أنشطتُه من عِقاله , وأبْدلْتُه لحماً خيرًا من لحمه , ودما خيرا من دمه , ويستأنف العمل .

‘Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Apabila Aku berikan ujian kepada hamba-Ku yang mukmin lalu ia mengadu kepada-Ku melalui para penjenguk maka Aku kencangkan belengguku atasnya. Aku ganti dagingnya dengan daging yang lebih baik dari sebelumnya. Aku ganti darahnya dengan darah yang lebih baik dari sebelumnya. Ditutup amal yang lama dengan memulai amal yang baru”

Diriwayatkan dari Sa’id Al-Maqbari, dia berkata;

سمعتُ أبا هريرة رضي الله عنه يقول : قال الله تبارك وتعالى : إني أبتلي عبدي المؤمن , فإذا لم يشكني إلى عُوّاده حللتُ عنه عُقَدي , وبدّلتُه لحماً خيرًا من لحمه , ودماً خيرًا من دمه , ثم قلتُ له : استأنفِ العملَ .

‘Aku mendengar Abu Hurairoh ra berkata; Aku mendengar Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku menguji kepada hamba-Ku yang mukmin. Apabila ia tidak mengadu kepada-Ku melalu para penjenguk maka Aku lepaskan ikatan-Ku. Aku ganti dagingnya dengan daging yang lebih baik dari sebelumnya. Aku ganti darahnya dengan darah yang lebih baik dari sebelumnya. Kemudian Aku katakan padanya, mulailah dengan amal yang baru”

Berkata Abu Abdillah Muhammad bin ‘Ali At-Tirmidzi ra, “Sungguh aku telah menjalani hari-hari dengan sakit. Ketika Allah sembuhkan penyakitku maka aku berikan gambaran kepada diriku antara ukuran penyakitku ini yang Allah sendiri telah mengaturnya dan ibadah atsaqalain (seluruh jin dan manusia) di masa-masa sakitku. Aku katakan, seandainya aku memilih diantara sakitku ini dan ibadah atsaqalain di masa sakitku tersebut, mana diantara keduanya yang cenderung aku pilih? Maka keinginanku yang paling sesuai, ketetapan keyakinanku serta pengetahuan mata hatiku, yaitu bahwa pilihan Allah adalah lebih mulia, lebih besar kedudukannya serta lebih manfaat akibatnya. Pilihan Allah tersebut adalah penyakit yang Allah telah atur teruntukku. Tidak ada ketercampuran di dalamnya. Itu merupakan perbuatan-Nya. Maka sungguh perbedaannya teramat jauh, antara perbuatan Allah yang ada padamu untuk menyelamatkanmu dan perbuatanmu untuk menyelamatkanmu. Ketika aku melihat itu maka teramat sukar untuk kupahami pada ibadah atsaqalain di masa sakitku dalam hal pahala yang aku dapatkan. Penyakit bagiku adalah nikmat. Nikmat menjadi karunia. Karunia menjadi harapan. Dan harapan menjadi belas kasihan. Maka aku katakan kepada diriku, sebab inilah, mereka terus menerus ada dalam ujian dengan jiwa-jiwa yang rela bersama dengan Allah. Sebab ini pula yang telah Allah buka, mereka bergembira dengan ujian yang ada pada mereka”.

Inilah jalan ma’rifat yang telah dibuka Allah Ta’ala teruntuknya. Ia telah mendapatkan kegembiraan dengan jalan tersebut. Dia telah mendahulukannya ketimbang ibadah atsaqalain. Wa Allahu A’lam ..

Apabila Allah turunkan ujian-ujian kepada hamba maka rasakanlah sesuatu yang telah kami sebutkan. Jadikanlah sesuatu tersebut ada di hadapannya. Buatlah sebagai tugu peringatan untuk dirinya sehingga lahir perasaan tenang untuk memikul beratnya ujian serta menghilangkan pahitnya ujian. Dia akan mendapati manisnya ujian. Ketika itulah keadaannya pada saat diuji seperti keadaannya orang-orang yang bersyukur berupa rasa gembira. Kemudian dia melihat dari rasa syukurnya tersebut untuk datang membawa amal-amal baiknya. Ambilah pelajaran atas semua yang telah kami ucapkan pada masalah ini dengan cerita yang dituturkan oleh Abu Al-Abbas Ibnu Al-Arif rahimahullah di dalam kitabnya ‘Miftahu as-Sa’adah wa Minhaju Suluki Thariqi al-Iradah’ berikut;

Di negeri Maroko –mudah-mudahan Allah ma’murkan Islam di sana- terdapat seorang lelaki yang dipanggil dengan Abu Al-Khayyar, mudah-mudahan Allah merahmatinya serta memberikan manfaat teruntuk kita ketika disebutkan namanya. Dia berasal dari negeri Sicilia. Tempat tinggalnya di Baghdad. Usianya telah mencapai 90 tahun. Dia adalah seorang budak yang belum dimerdekakan oleh tuannya. Menjadi budak merupakan tujuan dan pilihan hidupnya. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan penyakit kusta. Namun bau minyak kasturi tercium darinya meski dari jarak yang jauh. Berkata seseorang yang menceritakan kepadaku, “Aku melihatnya shalat di atas air!”. Setelah itu aku bertemu dengan Muhammad Al-Isfanji. Tanpa diduga diapun menderita penyakit kusta. Aku katakan, “Wahai Tuanku, sepertinya Allah tidak menemukan tempat untuk diletakkan bencana bagi musuh-musuh-Nya sehingga Dia turunkan teruntukmu. Sedangkan engkau termasuk kekasih-Nya?”

Dia melanjutkan ceritanya tersebut. Muhammad Al-Isfanji berkata kepadaku, “Diamlah !!, jangan ucapkan itu. Sesungguhnya ketika kami dekat dengan almari-almari pemberian maka tidak kami dapati di sisi Allah sesuatu yang lebih dekat dari-Nya terkecuali bala (ujian). Kamipun meminta bala kepada-Nya. Ada apa dengan engkau! Seandainya engkau melihat pemimpin orang-orang zuhud, pemimpin para wali, berada di gua, di gunung-gunung kota Tarsus (Turki) dengan daging yang rusak dan kulit dipenuhi nanah. Dikelilingi oleh lalat dan semut. Ketika masuk waktu malam maka dirinya tidak cukup puas hanya dengan berzikir kepada Allah, bersyukur atas rahmat yang telah diberikan oleh-Nya serta menjadikan dirinya sehat meski harus ditopang dengan besi. Dia menghadapkan dirinya ke kiblat di seluruh malam-malamnya hingga datang fajar.

Akan datang dari kalam muallif (pengarang) rahimahullah tentang maknanya ini serta peringatan darinya. Wa Allahu wa Li At-Ataufik …

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *