Pertemuan 12 – Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 12
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Rabu, 30 Juni 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

الأعمال صوَرٌ قائمةٌ وأرواحها وجود سِرّ الإخلاص فيها

‘Amal perbuatan merupakan bentuk-bentuk yang konkrit . Sedangkan adanya ikhlas merupakan ruh dari setiap amal perbuatan’

Keikhlasan seorang hamba di dalam amal perbuatannya ditentukan oleh tingkatan dan maqamnya. Bagi yang berada di maqam ‘al-Abrar’ maka puncak keikhlasannya ditandai dengan segala amal perbuatannya terhindar dari riya jaly (jelas) dan riya khofy (samar), terhindar dari keinginan dirinya untuk meminta kepada sesuatu yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang ikhlas berupa ganjaran pahala yang besar, tempat akhir kembali yang baik, terhindar dari keinginan untuk lari dari ancaman bagi orang-orang yang tidak ikhlas berupa azab yang pedih dan buruknya hisab. Maqam inilah yang Allah maksudkan dalam firman-Nya, إياك نعبد (kami tidak menyembah kecuali kepada Engkau dan kami tidak menyekutukan kepada selain Engkau di dalam ibadah kami)

Hasil dari maqam ‘al-Abrar’, yaitu mengeluarkan makhluk dari pandangannya ketika melakukan amal-amal baik. Tidak untuk dirinya sendiri yang mesti tetap harus melihat serta menjaga setiap amal-amal baiknya.

Adapun seseorang yang berada di maqam ‘muqarrabin’ maka dia telah melampaui maqam ‘al-Abrar’. Dia tidak lagi melihat amal-amal baik teruntuk dirinya. Keikhlasannya ditandai dengan kesaksian bahwa setiap gerak dan diamnya hanya karena Allah Ta’ala. Dia tidak melihat kepada dirinya akan daya dan kekuatan. Dia layak disebut dengan ‘as-Sidqi’ yang berhak atas ‘maqam ikhlas.’ Dia telah berada di jalan tauhid, jalan keyakinan. Dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, وإياك نستعين (kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada Engkau, tidak kepada diri kami, tidak ada daya, tidak pula ada kekuatan)

Amal yang pertama (maqam al-Abrar) yaitu ‘amal lillah’. Sedangkan amal yang kedua (maqam muqarrabin) yaitu ‘amal billah’. ‘Amal lillah’ menghantarkan kepala pahala. ‘Amal billah’ menghantarkan kepada dekat kepada Allah. ‘Amal lillah’ menjadi sebab terealisasinya ibadah. Sedangkan ‘amal billah’ menjadi sebab pengakuan atas Kuasa Allah. ‘Amal lillah’ adalah sifat bagi para hamba. Sedangkan ‘amal billah’ adalah sifat bagi siapa yang ingin menuju kepada Allah. ‘Amal lillah’ melahirkan hukum-hukum zohir. Sedangkan ‘amal billah’ melahirkan hukum-hukum batin. Ini merupakan ungkapan dari Imam Abu Qosim al-Qusyairi, radiallahu anhu.

Dari sini nyata perbedaan di antara dua maqam tersebut. Perbedaannya terletak pada kemuliaan dan keagungannya. Maka keikhlasan tiap-tiap hamba merupakan ruh dari amal-amal perbuaan mereka. Dengan ikhlas maka kehidupan dan kepantasan amal-amal perbuatan semata-mata untuk pendekatan diri kepada Allah. Ketika itu maka setiap amal-amal perbuatan menjadi layak untuk diterima di sisi Allah Ta’ala. Namun ketika tidak ada ikhlas maka amal-amal perbuatan menjadi mati serta terjatuh dari derajat yang layak dipertimbangkan. Amal-amal perbuatan hanya sebatas khayalan tanpa ruh, sebatas gambaran tanpa makna. Berkata sebagian para masyayikh;

صحِّحْ عملَك بالإخلاص , وصحح إخلاصك بالتبرِّي من الحول والقوّة
‘Perbaiki amalmu dengan ikhlas. Dan perbaiki ikhlasmu dengan meniadakan daya dan kekuatanmu’

Demikianlah. Muallif (penulis kitab ini) akan melanjutkan kepada suatu kondisi yang bila seorang hamba ada di dalamnya maka ia akan menjadi mukhlis, pribadi yang ikhlas …

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *