Pertemuan 13 (1) – Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 13 (1)
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Rabu, 8 Juli 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

اِدفنْ وجودك في أرضِ الخُمول فما نبت مما لم يُدفن لا يتمّ نِتاجه

‘Sembunyikan keberadaanmu di dasar ketidaktenaran. Sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam (disembunyikan) niscaya tidak akan sempurna hasilnya’

Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari seorang murid (seseorang yang berkeingin menuju kepada Allah) berupa ketenaran dan tersiarnya reputasi yang baik. Karena sesungguhnya kepopuleran termasuk keberuntungan yang besar yang diperintahkan untuk ditinggalkan serta berusaha melatih jiwa untuk meninggalkannya. Terkadang nafsunya murid mentolerir meninggalkan keberuntungan-keberuntungan selain kepopuleran. Padahal cinta kepada kehormatan dan mendahulukan kepada kepopuleran adalah berlawanan dari sifat ibadah.

Ibrahim bin Adham berkata, “tidak dikatakan membenarkan Allah seseorang yang mencintai kepopuleran”

Sebagian dari mereka berkata, “jalan kami ini tidak layak kecuali bagi kaum-kaum yang ruh-ruh mereka dibersihkan dari kotoran-kotoran”

Ayun As-Sajastani berkata, “demi Allah, tidak membenarkan kepada Allah seorang hamba kecuali ia gembira agar tidak memberitahukan keberadaannya”

Seorang lelaki berkata kepada Basyar bin Al-Haris, “berilah wasiat kepadaku!” Diapun berkata, “buatlah tidak mashur terhadap penyebutanmu dan jadikan baik terhadap makanmu!”

Basyar Radiallahu Anhu berkata, “aku tidak mengenal kepada seorang lelaki yang lebih senang untuk dikenal terkecuali telah hilang agamanya dan terbuka kejelekannya”

Berkata pula ia, “tidak akan menjumpai manisnya akhirat seseorang yang lebih mencintai agar dirinya dikenal oleh manusia”

AL-Fudhail Radiallahu Anhu berkata, telah sampai kepadaku bahwasanya Allah Ta’ala berfirman kepada hamba-Nya di sebagian karunia yang telah diberikan-Nya; “Tidakkah Aku telah berikan nikmat kepadamu, tidakkah Aku telah menutupimu, tidakkah Aku telah membuat tidak tenar terhadap penyebutanmu”

Kemudian, sesungguhnya perkara-perkara tersebut yang kembali kepada kepopuleran dan perasaan tinggi hati adalah termasuk yang dapat menodai keikhlasan seorang hamba sesuai perbedaan tingkatan keikhlasannya. Karena boleh jadi ikhlasnya sebab telah menghilangkan dari penglihatan manusia atau telah menghilangkan penglihatan dari dirinya sendiri. Itu semua tidak dapat terealisasi bagi murid kecuali dengan ketidak populeran serta menghilangkan kedudukan di dalam dirinya dan pada manusia. Sebab bila murid tidak berada di tempat ini maka dia tidak akan lepas dari tujuan-tujuan yang akan mendorong kecenderungan hati-hati manusia terhadap kebenaran yang terdapat di dalam dirinya yang dapat dilihat oleh manusia. Lalu mendorong dirinya kepada kebenaran tersebut dengan dorongan yang samar. Maka tercelup amalnya kepada riya tanpa disadarinya. Sebagaimana yang akan dikatakan oleh penulis;

ربما دخل الرياء عليك حيث لا ينظر الخلق إليك
‘Terkadang riya masuk kepadamu meskipun manusia tidak melihat kepadamu’

Dengan mampunya engkau merealisasikan sifat ketidakpopuleran maka telah nyata bagimu maqam ikhlas. Sehingga engkau terlepas dengan sebab itu dari melihat ikhlasmu sendiri. Dengan ini menjadi jelas bagimu bahwa kebangkrutan semua manusia kecuali orang yang telah Allah berikan rahmat teruntuknya. Sesungguhnya ikhlas merupakan puncak kesukaran atas diri seseorang. Sesungguhnya ikhlas adalah paling agungnya sesuatu yang ada.

Ditanyakan kepada Sahal bin Abdullah Radiallahu Anhu, “sesuatu apa yang paling berat terhadap diri seseorang?” Dijawab, “ikhlas, sebab pada dirinya tidak ada bagian ikhlas”

Yusuf bin Husein Radiallahu Anhu berkata, “Paling mulianya sesuatu di dunia adalah ikhlas. Telah banyak aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya dari hatiku. Seakan riya tumbuh di hatiku dengan warna yang berbeda”

Syekh Abu Thalib al-Maky Radiallahu Anhu berkata, “Ikhlas menurut mukhlisin (orang-orang yang ikhlas), yaitu mengeluarkan makhluk untuk melakukan transaksi kepada khalik (Pencipta). Makhluk yang pertama adalah dirinya sendiri. Ikhlas menurut muhibbin (orang-orang mencintai Allah), yaitu ia tidak melakukan amal perbuatan terkecuali sebab dirinya sendiri. Jika tidak demikian maka ia telah masuk ke dalam permintaan imbalan atau melihat kepada keuntungan semata. Ikhlas menurut muwahhidin (orang-orang yang meyakini atas keesaan Allah), yaitu keluarnya manusia dari melihat kepadanya di dalam setiap amal perbuatan dan tetap bersama mereka di setiap keadaannya”

Ketika seorang hamba telah menjadikan dirinya berada pada ketidakpopuleran. Lalu menempatkan dirinya di tempat tawadhu dan kehinaan. Kondisinya terus seperti itu hingga membentuk menjadi kepribadiannya dimana tidak didapati rasa sakit di dalam kehinaannya tersebut maka ketika itu dirinya telah bersih dan tersinarinya hatinya dengan sinar ikhlas. Diapun memperoleh derajat spesial dari Tuhannya. Dia peroleh keberuntungan yang berlimpah berupa kecintaan yang bersifat hakiki.

Syekh Abu Thalib berkata, ketika seseorang menghinakan dan merendahkan dirinya maka tidak dirinya tidak merasakan hina dan renah diri. Saat itu dirinya telah menjadi hina dan merendahkan diri. Maka tidak dihiraukan celaan dari manusia sebab adanya kekurangan pada dirinya. Tidak juga ia mencintai pujian sebab ketiadaan derajat pada dirinya. Rasa hina dan rendah diri menjadi sifat baginya yang tidak terpisahkan. Tetap melekat pada dirinya laksana melekatnya kotoran bagi orang-orang yang membersihkan kotoran, melekatnta sampah bagi orang-orang yang membersihkan sampah. Hina dan rendah diri menjadi profesi baginya seperti halnya profesi-profesi yang lainnya. Dirinya bangga dengan yang disandangnya sebab tiadak melihat rendah kepada keduanya. Inilah kekuasaan yang agung yang diberikan Tuhan kepada dirinya. Tuhannya telah memberikan kekuasaan dan memberikan kepemilikan kepadanya. Maka ia telah menundukkannya dengan perantara keagungan Tuhannya. Ini adalah maqam yang terpuji yang dicintai. Setelah itu ia sampai kepada maqam muqasyafah, melihat kepada rahasia-rahasia Tuhan yang tersembunyi.

Setelah itu Abu Thalib berkata, barang siapa yang bersama Allah dalam keadaan dirinya hina maka Allah akan meminta dan membuat senang kepada kehinaan tersebut. Sebagaimana seseorang yang sombong merasa senang ketika datang sesuatu yang disombonginya itu. Ketika kehinaan itu terpisah sesaat dari dirinya maka akan berubah hatinya sebab keterpisahaannya itu. Seabagaimana seseorang yang kuat ketika hilang kekuatannya maka akan keruh kehidupannya sebab dari situlah kehidupannya.

Sebab itulah, semestinya bagi seorang murid untuk menghilangkan kehormatannya, mejadikan dirinya tidak populer, lari dari tempat-tempat yang membuatnya terkenal, melakukan hal-hal yang diperbolehkan yang menjadikan dirinya tidak dipandang oleh manusia. Seperti kisah seorang yang menetap di masjid dalam keadaan terus menerus berpuasa. Kemudian didengar oleh raja di masanya. Beberapa saat raja datang menemuinya. Ketika dirinya mengetahui kedatangan raja iapun meminta kubis (kol). Dengan bengis dia lahap kubis tersebut di hadapan raja. Tatkala raja melihatnya dalam keadaan demikian maka raja menganggap hina dan rendah lalu berpaling dari hadapannya sambil mencela. Akan datang kisah ini di dalam ungkapan penulis;

ربما دخل الرياء عليك من حيث لا ينظر الخلق إليك
‘Terkadang riya masuk kepadamu dari sisi manusia tidak melihat kepadamu’

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *