Pertemuan 13 (2) – Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 13 (2)
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 14 Juli 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

اِدفنْ وجودك في أرضِ الخُمول فما نبت مما لم يُدفن لا يتمّ نِتاجه

‘Sembunyikan keberadaanmu di dasar ketidaktenaran. Sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam (disembunyikan) niscaya tidak akan sempurna hasilnya’

Sungguh para imam sufi radiallahu anhum, berusaha dengan keras mengobati penyakit ingin dihormati yang menggelantung di hati-hati. Hingga mereka melakukan cara yang bertentangan secara dzohir syar’i. Mereka berkeyakinan hal tersebut diperbolehkan untuk dilakukan oleh mereka. Merekapun memerintahkan hal tersebut untuk dilakukan. Seperti kisah seorang lelaki yang masuk ke kamar mandi lalu keluar mengenakan pakaian mewah seraya memperlihatkan kepada manusia. Dia berjalan dengan tampak bingung agar dilihat dan diduga oleh manusia bahwa pakaian yang dkenakan adalah hasil curian. Tatkala manusia melihatnya, merekapun memegang serta menamparnya. Mereka melepaskan pakaian yang ia kenakan. Lelaki itupun masyhur di kalangan mereka sebagai pencuri. Sejak itu ia mendapati julukan sebagai pencuri tempat pemandian. Maka ketika itulah ia menemukan hatinya.

Semisal itu, kisah yang datangnya dari Abi Yazid Radiallahu ‘Anhu, bahwa seseorang bernama Syahid memerintahkan kepadanya agar rambut kepala dan jenggotnya dipotong. Di lehernya digantungkan keranjang kelapa. Diapun meminta kepada anak-anak yang menampar tengkuknya untuk melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat oleh Abi Yazid. Dalam keadaan demikian ia berkeliling menuju tempat-tempat keramaian.

Dua kisah di atas telah masyhur adanya. Imam Al-Ghazali Radiallah ‘Anhu dan lainnya juga telah menyebutkan cerita tersebut.

Sebagian pengarang berkata, “Apabila diperkenankan terhadap orang yang mulutnya telah dipenuhi oleh makanan yang halal untuk memudahkan masuknya makanan tersebut dengan seteguk khomer manakala tidak didapati minuman selain khomer. Padahal sudah maklum atas keharaman khomer. Sementara kehidupan harus berlanjut. Itu hanya bisa terjadi jika dengan khomer. Maka diperbolehkan suatu keadaan yang melebihi kondisi ini. Sebab untuk kepentingan kehidupan abadi, mendekat kepada Allah. Manakala seorang hamba telah menetapkan dirinya di jalan ini dengan cara melatih jiwa maka nafsunya telah mati, hatinya menjadi hidup, dia mendekat kepada Tuhannya, dan memetik buah yang telah ditanamnya dengan teramat sempurna. Buah tersebut merupakan akhlak-akhlak keimanan yang telah memotong-motong nafsunya. Buah tersebut telah membentuk kepribadiannya. Allah telah menumbuhkan buah hikmah di hati-hati para hamba-Nya yang memiliki sifat tawadhu. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 269;

يُؤْتِى الْحكْمَةَ من يَشَاءُ. ومن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فقدْ اُوتِيَ خيرًا كثيرًا
‘Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak’

Berkata Isa Alaihissalam kepada para sahabatnya;

أين تنبت الحبة؟ قالوا : في الأرض , فقال عيسى عليه السلام : كذلك الحكمة لا تنبت إلا في قلبٍ مثل الأرض

‘Di mana tempat tumbuhnya biji? Mereka menjawa, di bumi. Isa Alaihissalam kemudian berkata, demikian pula hikmah, tidak dapat tumbuh kecuali di hati seperti halnya bumi’

Aku berkata, sungguh banyak hadis-hadis yang memuji kepada ketidak populeran dan mencela kepopuleran. Diantaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Amamah Radiallahu ‘Anhu, dari Nabi Sallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah Azza wa Jalla berfirman;

إنّ أغبط أوليائي عندي لَمؤمنٌ خفيفُ الحاذ , ذو حظٍّ من الصلاة , أحسنَ عبادةَ ربه , وأطاعه فى السِرّ , وكان غامضاً في الناس لا يشار إليه بِالأصابع , وكان رزقه كفافًا فصبر على ذلك , ثم نفض يده , فقال: عجّلْتَ مَنِيَّتُه , قلَّتْ بواكيه , قلّ بُراثُهُ – أخرجه الترمذي –
‘Sesungguhnya paling bergembiranya para kekasih-Ku di sisi-Ku adalah seorang mukmin yang ringan punggungnya, memiliki bagian dari shalat, yang memperbaiki ibadah kepada Tuhannya, dia ta’at kepada Tuhannya dengan sembunyi-sembunyi, dia bersembunyi di antara manusia tanpa bisa diketahui dengan telunjuk-telunjuk manusia, sabar menjalani hidup dengan rizki yang secukupnya, lalu membersihkan tangannya dari perkara itu. Allah berfirman, kematian telah mendahuluinya, sedikit ratapannya dan sedikit pula warisannya’

Di dalam hadis Abu Hurairoh Radiallu ‘Anhu, Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;

رُبَّ أشعَثَ أغبرَ ذي طِمْرَين تنبو عنه أعينُ الناس لو أقسم على الله لأَبَرَّه
‘Banyak orang yang tidak teratur rambutnya hingga berwarna seperti debu, yang hanya memiliki dua kain yang lusuh, tidak nyaman dilihat oleh pandangan manusia. Seandainya ia berjanji kepada Kepada niscaya ia akan melaksanakan sesuai dengan janjinya’

Dari Mu’az bin Jabal Radiallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;

إنّ يسيرًا من الرياء شركٌ , وإنّ من عادى أولياء اللهَ بالمحاربة , وإن الله يحب الأتقياء الأخفياء الذين إذا غابوا لم يُفْتَقدُوا , وإذا حضروا لم يدعَوْا ولم يُعْرفوا , قلوبُهم مصابيح الهدى يخرجون من كل غبراء مُظلمةٍ
‘Sesungguhnya sedikitnya itu bagian dari syirik. Sesungguhnya orang-orang yang memusuhi para kekasih Allah maka sungguh Allah akan bertarung untuk memeranginya. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa yang bersembunyi dari keramaian, yaitu orang-orang yang apabila pergi mereka tidak dicari. Jika mereka hadir mereka tidak dipanggil dan tidak dikenali. Hati-hati mereka laksana pelita-pelita petunjuk. Mereka keluar dari tempat-tempat yang gelap’

Abu Hurairoh Radiallahu ‘Anhu meriwayatkan dari Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadis yang terucap lewat bibirnya nama Uwais al-Qarni. Nabi memberi isyarat dengan menyebut Uwais a-Qarni dan memberitahukan tentang perkara besar yang ada padanya. Bahwasanya Abu Hurairoh berkata, ketika kami bersama Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam satu kumpulan dengan para sahabatnya, tiba-tiba ia bersabda, “Sungguh, esok seorang lelaki dari ahli surga shalat bersama kalian.” Berkata Abu Hurairoh, “Aku ingin ada bersamanya. Maka keesokannya akupun shalat di belakang Nabi Sallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku berdiam di masjid hingga tidak tersisa manusia terkecuali aku dan Nabi Sallahu ‘Alaihi wa Salallam. Seketika datang seorang lelaki yang hitam warna kulitnya, menggunakan sarung dari sobekan kain, dengan pakaian ditambal. Dia datang kepada Nabi hingga tangannya diletakkan di tangan Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu berkata, “Wahai Nabi Allah, berdoalah kepada Allah teruntukku dengan syahadat.” Rasulullah kemudian mendoakan teruntuknya dengan syahadah. Sungguh kami mendapati dari tubuhnya bau minyak kasturi yang bagus. Akupun berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ini orangnya?” Nabi menjawab, “Iya, sesungguhnya ia adalah budak yang dimiliki oleh seseorang.” Aku berkata, “Tidakkah engkau membeli lalu memerdekakannya wahai Nabi Allah?” Rasul menjawab, “Dengan keadaannya itu ia dekat denganku ketika Allah Allah Ta’ala berkeinginan menjadikannya termasuk raja di surga, pemimpin penduduk surga. Wahai Abu Hurairoh sesungguhnya bagi penduduk surga ada pemimpin-pemimpin. Sesungguhnya lelaki hitam ini termasuk pemimpin ahli surga. Wahai Abu Hurairoh, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai hambanya yang bersih, yang tidak terkenal, yang bersembunyi, yang bertaqwa, yang bercerai berai rambutnya, berdebu wajah-wajah mereka, sebab usaha yang halal mereka menjadi lapar, orang-orang yang ketika meminta izin kepada para penguasa mereka tidak diberi izin, ketika mereka melamar wanita yang disukai mereka tidak dinikahkan, jika pergi mereka tidak dicari, jika ada mereka tidak diundang, jika terlihat mereka tidak membuat gembira orang lain, jika sakit mereka tidak dijenguk, jika mati mereka tidak dipersaksikan. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasululah, adakah dari kami termasuk dari mereka?”. Nabi menjawab, “Dialah Uwais al-Qarni”. Mereka bertanya, “Siapa Uwais al-Qarni?” Nabi menjawa, “yang berwarna biru matanya, rambutnya merah, jauh diantara dua pundaknya, tingginya sedang, kulitnya sawo matang, dagunya datar sampai ke dadanya, pandangan matanya jatuh ke tempat sujud, tangan kanannya diletakkan ke tangan kiri, yang membaca al-Qur’an, menangisi dirinya, mempunyai dua kain lusuh, dirinya tidak diketahui keberadaannya, ia mengenakan selimut dan selendang dari bulu domba, makhluk bumi tidak mengenalnya, ia dikenal oleh makhluk yang ada di langit, seandainya ia berjanji kepada Allah maka ia laksanakan janjinya, di bawah pundak kirinya terdapat bintik putih. Ketahuilah, sesungguhnya pada hari kiamat nanti dikatakan kepada para hamba, “Masuklah ke dalam surga!” Dan dikatakan kepada Uwais al-Qarni, “Berdirilah, mintalah syafaat!” kemdudian Allah berikan syafaat kepadanya sebanyak bilangan kabilah Rabi’ah dan Mudhor. “Wahai Umar, Wahai Ali, apabila kalian berdua bertemu dengannya maka mintalah kepadanya ampunan Allah. Allah akan mengampunimu …!”

Di dalam hadis lain, sesungguhnya Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada seorang laki-laki di kalangan umatku dikenal dengan nama Uwais al-Qarni yang memberikan syafaat sejumlah bilangan kabilah Rabi’ah dan Mudhor. Ketika berjanji ia akan melaksanakannya. Barang siapa yang bertemu dengannya maka ucapkanlah salam teruntukku. Kemudian tanyakan tandanya.” Nabi melanjutkan perkataannya, “Dia laki-laki yang berambut merah, matanya berwarna biru, mempunyai dua kain lusuh berwarna putih, dia mempunyai seorang ibu, seluruh tubuhnya berwarna putih, ia berdoa kepada Allah agar hilangkan warna putihnya itu hingga hanya menyisakan seukuran dinar atau dirham yang tidak diketahui, tidak dikenal oleh makhluk di bumi, dikenal oleh makhluk langit, saking tidak dikenal dan sangat lemahnya hingga manusia mempekerjakannya tanpa diberi upah, mereka mengejeknya, menyakitinya, mereka menuduhnya sebagai penipu dan pencuri. Dikisahkan bahwasanya sebagian ahli fiqih menyerahkan dua baju kepadanya ketika mereka duduk dalam satu majelis bersamanya. Di suatu waktu mereka menghentikan kebersamaan dengannya sebab ia melepaskan pakaian dari tubuhnya. Dia kembalikan kedua pakaian yang sebelumnya ia telah ambil. Dia berkata, sesungguhnya manusia berkata, “Dari mana dia miliki kedua baju ini? Bisa dilihat bila kamu telah mendapatkannya dari cara menipu!” Kejadian tersebut terjadi ketika ia duduk bersama para ahli fikih dan disaksikan oleh manusia. Itu semua saat ia belum diketahui ketinggian derajatnya, agung kedudukannya. Kemudian Sayidina Umar Radiallahu ‘Anhu menyebutkan namanya di atas mimbar. Ketika manusia telah mengetahuinya maka dia lari dan bersembunyi dari mereka. Diapun menyamar sebagai pengembala onta, dan lainnya.

Dikatakan kepada Sayyidina Umar Radiallahu ‘Anhu, ketika kaumnya bertanya kepadanya, “Adakah bersama kami seseorang yang tidak dikenal namanya?” Ketika Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali Radiallahu ‘Anhuma bertemu Uwais al-Qarni, Sayyidina Umar bertanya kepada kaumnya, “Siapakah dia?” Kaumnya menjawab, “Dia adalah pengembala kambing, pelayan bagi kaum!” Diapun menyembunyikan sebutan nama ‘Uwais”. Ketika ditanya tentang namanya, diapun menjawab, “Abdullah!” Ketika ditanya nama yang diberikan oleh ibunya, diapun enggan menjawabnya. Manakala Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali memberitahukan kepadanya dengan sifat yang diinformasikan oleh Nabi Sallahu ‘Alaihi wa Sallam, diapun menjawab, “Barang kali bukan aku orangnya!” Keduanyapun memeberitahukan kepadanya, “Kami telah diberitahukan oleh Nabi bahwa di pundakmu yang sebelah kiri terdapat bintik yang berwarna putih!” Keduanya meminta untuk diperlihatkan tanda tersebut. Dia tetap tidak memperlihatkan kepada keduanya. Tujuan keduanya –Allah lebih mengetahui- agar diperlihatkan kepada keduanya dengan mata sendiri atas kebenaran sabda Nabi Sallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan perkara yang ghaib yang merupakan perkara yang wajib bagi Nabi. Jika dia tetap pada pendiriannya dengan enggan membuka identitasnya, maka boleh jadi itu hanya sebatas mencari-cari alasan sebagaimana yang telah dilakukan pada setiap persoalan yang ditanyakan kepadanya. Kemudian setelah itu, ketika Sayyidina Umar meminta kepadanya untuk bertemu, hanya Sayyidina Umar dan dirinya. Uwais pun berkata, ‘Wahai Amirul Mu’minin, tidak akan ada lagi tempat bagiku dan dirimu. Aku tidak akan lagi mengenali dirimu. Dirimupun tidak akan mengenaliku setelah hari ini !” Dia pun menyerahkan onta yang digembala kepada pemiliknya. Dia tidak lagi sebagai pengembala.

Demikian pula yang telah dilakukan Uwais al-Qarni bersama Haram bin Hayyan Radiallahu ‘Anhu, ketika dia bertemu dengan Uwais al-Qarni di tepi sungai Efrat. Keduanyapun saling mengenal. Berkata Haram kepada Uwais, “Telah menceritakan kepadaku sebuah hadis dari Rasulullah Sallahu ‘Alai wa Sallam tentang dirimu!” Uwais berkata, “Aku tidak suka untuk membuka bab ini untuk diriku. Aku bukanlah ahli hadis, bukan ahli fatwa, bukan pula seorang hakim!” Ketika keduanya telah usai dengan pembicaraan yang menjadi tujuannya. Haram meminta kepada Uwais agar ia ingin selalu berkumpul dengannya. Namun Uwais enggan serta menolaknya. Dia berkata, “Setelah hari ini aku tidak akan lagi melihat engkau saat engkau mencariku. Jangan engkau bertanya tentang diriku. Pergilah! Engkau tetap di sini saat aku pergi. Aku akan di sana!” Demikianlah, sejak itu aku sangat berkeinginan untuk mencarinya namun tidak ada lagi kabar berita tentang dirinya ..

Sungguh telah datang perkara yang besar teruntuk Uwais al-Qarni. Allah Ta’ala telah menetapkan suatu keadaan baginya, yaitu ketidak populeran di masa hidupnya. Allah sempurnakan perkara yang besar tersebut setelah kematiannya dengan tanda-tanda yang diperlihatkan-Nya. Berkata Abdullah bin Musallamah, “Kami menyerbu daerah Azarbaijan di masa Umar bin Khattab Radiallahu ‘Anhu. Ikut serta bersama kami Uwais al-Qarni Radiallahu ‘Anhu. Ketika kami kembali ia dalam kondisi sakit. Iapun meninggal. Saat kami singgah tiba-tiba kuburnya telah digali. Air, kain kafan dan obat untuk memandikan mayit telah tersedia. Kamipun memandikan, mengkafankan, menshalatkan serta menguburkannya. Sebagian dari kami saling berbicara, “Seandainya kami kembali akan kami memberitahukan kuburnya. Saat kami kembali tidak kami jumpai kubur maupun jejaknya!”

Aku katakan, banyak sekali hikayat serta kisah tentang pujian terhadap ketidak populeran dan mencela kepada kepopuleran. Para Imam banyak mengarang terhadap ilmu ini. Maka bersungguh-sungguhlah engkau wahai Murid kepada Allah agar diberi taufik.

Ungkapan muallif (penulis) Rahimahullah Ta’ala di sini tentang الدفن , الأرض , النبات , dan النتاج , merupakan bentuk isti’arah (lafaz yang dipakai bukan pada tempatnya, sebab ada alaqah persamaan antara kedua-duanya).

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *