Sihir Dalam Sudut Pandang Syari’at (4)

Pertemuan ke-21

موقف الشريعة من السحر
Sihir dalam sudut pandang Syari’at

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 19 Juli 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

قال الله تعالى :
وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُوْلٌ مِنْ عِنْدَ اللهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيْقٌ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَل يَعْلَمُونَ . وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِيْنُ عَلىَ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوْتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُوْلَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَاهُمْ بِضَارِّيْنَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَالَهُ فِى الأَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُوْنَ . وَلَوْ أَنَّهُمْ اَمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَمَثُوْبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ .

المعنى الإجمالى
Makna global ayat tentang sihir

Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para tokoh agama Yahudi dan ulama mereka menyembunyikan kitab Taurat yang telah Allah turunkan kepada hamba dan Rasul-Nya, yaitu Musa ‘Alaihissalam. Sebagaimana juga para pengikut mereka yang telah menyembunyikan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi-Nya, yaitu Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal Rasulullah datang dengan membenarkan isi Taurat yang ada di tangan-tangan mereka. Tidak mengherankan bila perilaku mereka demikian oleh karena mengikuti perilaku orang-orang sebelum mereka yang memiliki sifat sombong serta menentang. Mereka mewarisi para pendahulu mereka yang lalim, membuat kerusakan dan bersikap menentang.

Sungguh mereka telah melempar Kitabullah di belakang punggung-punggung mereka seakan mereka tidak mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah Kitabullah yang telah diturunkan kepada nabi-Nya. Mereka mengikuti jalan-jalan sihir dan sulap yang diinformasikan oleh setan-setan. Setan-setanlah yang telah menghasut para manusia serta memberikan khayalan bahwa mereka mengetahui sesuatu yang ghoib. Merekalah yang telah mengajarkan tentang sihir sehingga meluas di kalangan manusia.

Sebagaimana para tokoh agama Yahudi yang mengikuti sihir dan sulap. Mereka juga mengikuti apa-apa yang telah diturunkan kepada dua lelaki yang sholeh atau dua Malaikat yang bernama Harut dan Marut pada masa kerajaan Babilonia. Allah turunkan keduanya ke bumi untuk mengajarkan sihir sebagai ujian dari Allah kepada manusia. Keduanya tidak mengajarkan sihir dengan tujuan demi sihir itu sendiri, namun untuk membatalkan sihir agar manusia dapat membedakannya dengan mukjizat. Allah menguji kepada para hamba-Nya dengan cara yang Dia inginkan, sebagaimana juga ujian yang telah diberikan kepada kaum Thalut dengan sebuah sungai (QS. Al-Baqarah: 149).

Sungguh sihir telah meluas pada masa itu. Para penyihir memperlihatkan perkara-perkara yang sulit dipahami menurut akal sehingga dapat menimbulkan keraguan kepada misi kenabian. Kemudian Allah mengutus dua malaikat untuk mengajarkan sihir sehingga dapat menghilangkan keserupaan antara sihir dan mukjizat, dapat menyingkirkan bahayanya sihir. Selain itu, keduanya memperingatkan kepada manusia akan bahaya mempelajari dan mempergunakan sihir. Keduanya akan berkata kepada seseorang pada saat usai diajarkan sihir, “Ini (sihir) adalah ujian dan cobaan dari Allah, maka janganlah kamu menjadi kafir dengan sebab mempelajarinya. Bertakwalah kepada-Nya. Jangan kamu mempergunakannya untuk membuat bahaya kepada orang lain. Barang siapa yang mempelajari sihir demi terpelihara dari bahaya sihir itu sendiri yang berasal dari orang lain maka sungguh ia telah selamat dan tetap dalam keimanan. Barang siapa yang mempelajarinya dengan meyakini bahwa sihirlah yang dapat menyebabkan bahaya kepada orang lain maka sungguh ia telah tersesat dan menjadi kafir”

Manusia terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, mereka mempelajari sihir dengan niat yang benar untuk mencegah bahaya sihir yang akan dilakukan oleh orang lain. Kelompok kedua, mempelajari sihir dengan niat yang buruk, yaitu agar dapat memisahkan hubungan seseorang dengan keluarganya, memisahkan seseorang dengan pasangannya. Sehingga menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara manusia. Mereka telah kehilangan dunia dan akhirat mereka. Mereka telah mengetahui bahwa seseorang yang mengerjakan semata-mata demi sesuatu yang menimbulkan bahaya kepada orang lain maka tidak ada bagi orang tersebut bagian yang menguntungkan kelak di kehidupan akhirat. Seburuk-buruknya sesuatu yaitu mereka yang menjual diri-diri mereka dengan sihir. Itu bila mana mereka memiliki pemahaman dan ilmu.

Seandainya mereka yang mempelajari sihir tetap beriman kepada Allah serta takut akan azab-Nya maka Allah akan memberikan pahala teruntuk mereka. Balasan dari amal-amal mereka berupa pahala itu lebih baik daripada kesibukan mereka kepada sihir, dari hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya yang akan menghantarkan mereka ke neraka Wail.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *