Pertemuan 15 (1) – Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 15 (1)
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 21 Juli 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

ما نفع القلبَ شيءٌ مثل عزلةٍ يدخل بها ميدانُ فكرةٍ

‘Tidak ada sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepada hati terkecuali uzlah (mengasingkan diri dari manusia) yang disertai dengan tafakkur (banyak berfikir)’

Mengobati penyakit-penyakit hati merupakan suatu kewajiban bagi seorang murid (yang menuju kepada Allah). Penyakit-penyakit hati terjadi disebabkan oleh lebih dominannya tabiat (watak) murid untuk memutuskan berkawan kepada hal-hal yang kontradiksi. Dirinya terbiasa dengan itu. Tunduk kepada hawa nafsu. Senang dengan apa yang sedang terjadi di alam sadarnya.

Obat penyakit ini melalui beberapa cara. Obat yang paling efektif dan paling bermanfaat adalah dengan uzlah, mengasingkan diri dari manusia dengan dibarengi berfikir. Dengan uzlah maka sesuatu yang terlihat dibatasi untuk mempergauli seseorang yang tidak layak untuk digauli. Dibatasi juga untuk mempergauli seseorang yang tidak aman dimasuki penyakit-penyakit hati ketika bersamanya. Dengan demikian, orang yang melakukan uzlah akan terbebas dari maksiat-maksiat yang akan terbuka sebab adanya pergaulan, seperti ghibah, menjilat, riya, dan keterpura-puraan. Akan terbebas pula dari terseret kepada tabiat yang jelek serta akhlak yang tidak terpuji. Akan pula didapatkan perlindungan kepada agamanya dan dirinya untuk menghadapi musuh-musuh dan berbagai macam keburukan serta kesesatan-kesesatan. Sebab nafsu sangat mencintai dan bersegera untuk dapat memasukinya. Maka wajib bagi orang yang melakukan uzlah untuk menahan lisannya dari bertanya tentang kabar manusia, tentang sesuatu yang membuat mereka sibuk, membuat mereka asyik dan menekuninya. Wajib pula menjaga pendengarannya dari mendengarkan berita-berita dusta yang menyebar di suatu negeri. Dapat menjaga pendengarannya dari hal-hal yang telah kami sebutkan di muka. Ketika dalam kesendirian dan uzlahnya, hendaknya ia berkeinginan untuk tidak menutupi dan membahas hal tersebut. Hendaknya ia menjauhi untuk berkumpul kepada orang yang tidak wara (menahan) dari ucapannya. Menjauhi untuk berkumpul kepada orang yang tidak dapat menjaga lisannya dari memperpanjang ghibah-ghibah yang halus, mengumpat dan menyebarkan fitnah di kalangan manusia. Sesungguhnya hal tersebut dapat mengotori kebersihan hati. Dapat pula menghantarkan untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Tuhan. Hendaknya seseorang yang melakukan uzlah meninggalkan serta lari dari itu. Seperti berlarinya ia dari singa yang ingin menerkamnya. Jangan sekali-kali berkumpul di suatu tempat untuk itu. Hendaknya ia mengingkari kepada setiap orang yang mengaku ma’rifat kepadanya meskipun orang tersebut termasuk ke dalam ciri-ciri yang disebutkan di dalam agama, terlebih kepada yang lainnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ahli sufi;

أنكرْ من تَعرّف ولا تتعرفْ إلى من لا تعرفَ
‘Ingkari seseorang yang mengaku ma’rifat. Dan jangan mengaku ma’rifat kepada seseorang yang tidak ma’rifat’

Di dalam khobar dikatakan;

مَثَلُ الجليس السوء كمثل الْكِيْر إن لم يحرّقك بِشَرَرِه علِقَ بك مِن ريحه
‘Perumpamaan teman yang buruk yaitu semisal alat peniup api tukang besi. Jika alat tersebut tidak membakarmu lewat percikan apinya maka baunya pasti akan melekat padamu’

Di dalam hadis-hadis yang telah disebutkan, sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada Musa ‘Alaihissalam;

يا ابن عِمران كن يَقْظانًا , وارْتَدْ لنفسك إخوانًا , وكلّ أخٍ أو صاحبٍ لا يؤازرك على مَبَرَّتِي فهو لك عدُوٌّ
‘Wahai putra Imron, jadilah kamu pribadi yang waspada. Carilah teman teruntukmu. Setiap saudara atau sahabat yang tidak membantumu mendorong untuk berbuat baik kepada-Ku maka bagimu adalah musuh’

Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada Daud ‘Alahissalam. Dia berfirman kepadanya;

يا داود مالي أراك مُنْتَبِذًا وحدانيا ؟ فقال: , إلهي , قليتُ الخلقَ من أجلك . فقال : يا داود كن يقْظاناً وارتَدْ لنفسك أخدانًا , وكل خِدْنٍ لا يوافقك على مَبَرَّتي فلا تُصْحِبه فإنه لك عدوٌّ , ويُقَسِّى قلبَك ويُباعدك منّى
‘Wahai Daud, mengapa Aku melihatmu menjauh dalam kesendirian? Daud berkata, Wahai Tuhanku, sebab diri-Mu aku membenci manusia. Allah kemudian berfirman, Wahai Daud, jadilah engkau pribadi yang waspada. Carilah teman zohir dan batin teruntukmu. Tiap-tiap teman yang tidak membantumu mendorong untuk berbuat baik kepada-Ku maka jangan jadikan sahabatmu. Bagimu dia adalah musuhmu yang akan membuat hatimu keras dan menjauhkanmu dari-Ku’

Alangkah baiknya perkataan Abu Ishak Ibrahim bin Mashud Al-Ukbairi berikut ini;

فَخَفْ أبناءَ جنسك واخش منهم . كما تخشى الضراغم وَالسَّبْتَا
وخالِطْــــهم وزايِلْـــــهم حُذّارًا . وكن كالسامريِّ إذا لمسْتَـــــا
‘Takutlah kamu kepada manusia dan khawatir kepada mereka. Sebagaimana engkau khawatir kepada singa-singa dan harimau tutul. Bergaullah kepada mereka tinggalkanlah mereka dengan sangat kehati-hatian. Jadilah seperti Samiri yang ketika kamu sentuh maka akan merasakan panas’

Dengan uzlah akan berkumpul pula segala keinginan dan cita-cita. Menguatkan keinginan menuju kepada Dzat Allah. Berbeda dengan kebersamaan yang akan mencerai beraikan keinginan dan cita-cita. Akan melemahkan keinginan.

Dikatakan;

إن العبد لَيعقدُ في خُلْوته على خصالٍ من الخير يعملها , فإذا خرج إلى الناس حَلُّوْا عليه ذلك عُقْدةً عقدةً حتى يرجع إلى بيته وقد انْحلّتْ العقد كلها.
‘Sesungguhnya hamba ketika menyendiri mengikatkan amal-amal baik yang ia lakukan. Ketika ia keluar menuju kepada manusia maka ia telah membuka ikatan tersebut satu demi satu hingga ia kembali lagi ke rumahnya dalam keadaan terbuka semua ikatan tersebut’

Diriwayatkan dari Isa Alaihissalam;

لا تُجالسوا الموتى فتموتَ قلوبُكم. قيل: ومن الموتى؟ قال: المُحبّون للدنيا الراغبون فيها.
‘Jangan engkau bergaul kepada orang-orang yang telah mati maka akan menjadi mati hati-hati kamu. Nabi Isa ditanya, siapa orang-orang yang telah mati tersebut? Nabi Isa menjawab, yaitu orang-orang yang mencintai dan senang kepada dunia’

Di dalam hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;

أخوفُ ما أخاف على أُمتي ضُعفُ اليقين .
‘Paling khawatirnya sesuatu yang aku takuti yang menimpa umatku yaitu lemahnya keyakinan’ (HR. At-Tirmidzi)
Lemahnya keyakinan itu disebabkan bergaul dengan orang-orang yang lupa, bergaul dengan orang-orang yang tidak ada amalnya serta keras hatinya.

Berkata Abu Thalib Al-Maki Radiallahu ‘Anhu;

وأَضَرُّ ما ابْتُلِيَ العبدُ به وأدخَلُه وأعملُه في هلاكه , وأشدُّه لِحَجْبِهِ وإبْعادِه , ضعفُ يقينه لِنا وعد من الغيب وتَوَعَّدَ عليه بالشهادة , وقوّةُ اليقين أصلُ كل عملٍ صالحٍ.
‘Paling berbahanya sesuatu yang diuji kepada hamba-Ku, sesuatu yang paling membuat rusak kepadanya, sesuatu yang paling merintangi dan menjauhkannya, yaitu lemahnya keyakinannya kepada sesuatu yang ghoib yang Allah telah janjikan serta ancaman Allah yang Dia telah persaksikan. Kuatnya keyakinan merupakan asal setiap amal yang baik’

Berkata sebagian golongan ini, aku berkata kepada sebagian wali abdal yang seluruh waktunya dihabiskan untuk Allah; Bagaimana jalan yang bisa sampai menuju kepada Allah? Mereka menjawab, kamu jangan melihay mahkluk, karena melihat makhluk merupakan kedzoliman. Aku berkata, tidak mungkin aku bisa menghindar dari mereka. Mereka menjawab, jangan engkau mendengar pembicaraan mereka, sebab pembicaraan mereka dapat mengeraskan hati. Aku berkata, tidak mungkin aku bisa menghindar dari mereka. Mereka menjawab, jangan engkau bermu’amalah dengan mereka, sebab bermu’amalah dengan mereka dapat menyebabkan kerugian, kesedihan dan duka cita. Aku berkata, aku berada di tengah-tengah mereka, tidak mungkin aku terhindar dari bermu’amalah dengan mereka. Mereka menjawab, jangan tinggal engkau bersama mereka, sebab tinggal bersama mereka dapat membuat rusak. Aku berkata, inilah sumber penyakitnya. Mereka menjawab, iya ini, apakah tidak kamu melihat kepada orang-orang yang bermain-main, engkau mendengar kepada pembicaraan orang-orang yang bodoh, engkau melakukan mu’amalah kepada orang yang tidak ada amalnya, engkau tinggal di tempat orang-orang yang rusak. Engkau berkeinginan merasakan manisnya ta’at sementara hatimu bersama selain Allah Azza wa Jalla? Jauh, ini tidak mungkin bisa terjadi ..

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *