Sebab Turunnya Ayat, Macam-Macam Qiraat, Dan Macam-Macam I’rab Surat Al-Baqarah Ayat 101-103

Pertemuan ke-22

سبب النزول ووجوه القراءات ووجوه الإعراب
Sebab turunnya ayat, macam-macam Qiraat, dan macam-macam I’rab surat Al-Baqarah ayat 101-103

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 26 Juli 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

سبب النزول
Sebab turunnya surat Al-Baqarah ayat 101-103

Berkata Ibnu Al-Jauzi Rahimahullahu, yang menjadi sebab turunnya ayat ini terdapat dua pendapat. Pertama, bahwa sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak bertanya kepada Nabi Sallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang sesuatu apapun di dalam kitab Taurat terkecuali akan dijawab oleh Nabi. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi perihal sihir. Mereka berbantah kepada Nabi tentang sihir sehingga Allah turunkan ayat ini. Pendapat ini diungkapkan oleh Abu Al-‘Aliyah.

Pendapat kedua, ketika Al-Qur’an menyebutkan kata Sulaiman Alaihissalam, berkata Yahudi Madinah, “Tidakkah membuatmu heran kepada Muhammad yang mengira bahwa putra Daud adalah seorang nabi? Demi Allah, Sulaiman itu bukanlah seorang nabi tapi seorang penyihir!” Kemudian turunlah ayat ini, وما كفر سليمانُ ولكنَّ الشياطينَ كفروا … . Ini merupakan pendapatnya Ibnu Ishak.

وجوه القراءات
Macam ragam bacaan

Pertama, firman Allah Ta’ala, ولكنّ الشياطينَ كفروا . Jumhur (mayoritas) ulama membaca ولكن الشياطينَ , dengan tasdid huruf ‘Nun’ lafaz لكنَّ dan dibaca nashab (fathah) huruf ‘Nun’ kalimat الشياطينَ . Sementara Hamzah dan Al-Kasa’i membaca, ولكنْ الشياطينُ , dengan meringankan bacaan huruf ‘Nun’ lafaz لكنْ dan dibaca rofa (dhommah) kalimat الشياطينُ .

Kedua, firman Allah Ta’ala, وما أُنْزِلَ على المَلَكَيْنِ . Jumhur ulama membaca الْمَلَكَيْنِ dengan fathah huruf ‘Mim’, ‘Lam’ dan berbentuk mutsanna (makna dua). Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jabir membaca الملِكَيْنِ dengan dikasrahkan huruf ‘Lam’ dan berbentuk mutsanna dari bentuk tunggal ملِكٌ . Ibnu Jauzi berkata, pendapat Jumhur itu lebih tepat.

Al-Qurthubi berkata, diriwayatkan dari sebagian ahli qiraat bahwasanya mereka membaca, وما أُنْزِلَ على الملِكَيْنِ , maksudnya adalah dua lelaki dari keturunan Nabi Adam Alaihissalam.

Ketiga, firman Allah Ta’ala, هاروتَ وماروتَ , jumhur ulama membacanya dengan diberi harkat fathah huruf ‘Ta’. Sementara Al-Hasan dan Az-Zahri membaca kedua huruf ‘Ta’ dengan dhommah, dengan perkiraan kalimatnya, هما هاروتُ وماروتُ .

وجوه الإعراب
Macam-macam I’rab

Pertama, firman Allah Ta’ala, واتّبعوا ما تتلوا الشياطين , huruf ‘Wawu’ adalah Wawu Athof. Kalimat اتّبعوا menjadi ‘Ma’thuf”, diathofkan dari firman Allah Ta’ala نبذ فريقٌ , termasuk kategori ‘athof jumlah atas ma’thuf yang jumlah’. Dhomir (kata ganti) yang ada pada kalimat اتّبعوا kembali kepada kaum Yahudi. Lafaz ما adalah ‘isim maushul’ menjadi ‘maf’ul bih’. Kalimat تتلوا menjadi ‘shilah maushul’. Sementara itu lafaz الشياطينُ menjadi ‘fa’il’ yang dibaca ‘rafa’ (dhammah), yaitu terkait dengan informasi keadaan mereka (kaum Yahudi) yang mengikuti sesuatu (sihir) yang tidak layak untuk diikuti. Kata ‘Ittiba’ (mengikuti) di sini tidak terkait dengan kedatangan Rasulullah. Berbeda dengan kata نبذ كتابَ الله (menyembunyikan Kitabullah), maka ini terkait dengan kedatangan Rasulullah.

Kedua, firman Allah Ta’ala, يُعلِّمون الناسَ السحرَ وما أُنْزِلَ على الملَكَيْنِ .. . Jumlah kalimat يعلمون الناس السحرَ , menempati posisi ‘nashab’ menjadi ‘hal’ dari ‘dhomir’ yang ada pada kalimat كفروا , dengan perkiraan susunan kalimat asalnya menjadi كفروا مُعلِّمين الناس السحرَ . Ada yang mengatakan, jumlah kalimat tersebut menjadi ‘badal’ dari kalimat كفروا , sebab mempelajari sihir adalah kufur secara makna. Lafaz ما أُنْزِلَ adalah ‘isim maushul’. ما , di athafkan kepada kalimat ما تَتْلو , dengan menempati posisi ‘nashab’. Maknanya adalah, اتّبعوا ما تتلوه الشياطينَ واتّبعوا ما أُنزل على الملكين (mereka megikuti apa yang telah dibacakan oleh setan-setan dan juga mengikuti kepada apa yang telah diturunkan kepada dua malaikat). Ada yang berpendapat, kalimat ما أنزل , lafaz ما di sini berbentuk ‘nafi’ (meniadakan), maka asal kalimatnya menjadi لم يُنْزَلْ على الملكين ( yang tidak diturunkan kepada dua malaikat). Ibnu Al-Anbari mengomentari hal tersebut dengan mengatakan bahwa pendapat yang demikian adalah sangat lemah, sebab telah menyalahi zohirnya kalimat dan maknanya. Jika demikian maka selain sesuatu yang diturunkan kepada dua malaikat itu lebih utama kadarnya.

Ketiga, firman Allah Ta’ala, ولقد عَلِمُوا لَمنِ اشتراه ما له في الأخرة من خلاقٍ (sungguh mereka sudah tahu, barang siapa yang membeli (menggunakan) sihir maka tidak ada keuntungan baginya di akhirat). Huruf ‘lam’ pada kalimat لمن اشتراه adalah ‘lam ibtida’ (lam untuk permulaan). Lafaz من bermakna الذي dengan menempati posisi ‘rofa’ oleh sebab menjadi ‘mubtada’. ‘Khobar mubata’ nya adalah jumlah dari kalimat ما له في الأخرة من خلاقٍ . Lafaz مِن pada kalimat مِنْ خلاق merupakan huruf tambahan (tidak punya pengaruh dalam struktur i’rab) yang berfungsi untuk memperkokoh lafaz ما yang berbentuk ‘nafi’ (meniadakan). Maka perkiraan kalimatnya adalah ما له في الأخرة خلاقٌ .

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *