Latifah (Kelembutan) Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 101-103, 1-7

Pertemuan ke-23

لطائف التفسير, ١-٧
Latifah (kelembutan) tafsir surat Al-Baqarah ayat 101-103, 1-7

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 2 Agusutus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

اللطيفة الأولى
Latifah pertama

Surat Al-Baqarah ayat 101, 102 dan 103 ini membicarakan tentang kejelakan perilaku orang Yahudi, kebusukan niat mereka, serta usaha mereka untuk membuat celaka kepada hamba-hamba Allah. Sihir tidak dikenal terkecuali di masa orang-orang Yahudi. Sejarah sihir dapat mengemuka sebab dipopulerkan oleh mereka. Mereka telah menyembunyikan Kitabullah kemudian berjalan di jalan sihir. Mereka rusak akal-akal serta akidah manusia dengan melalui sihir, permainan sulap serta menuduh sesat. Inilah yang menjadi dasar bahwa orang-orang Yahudi adalah asal setiap keburukan, asal setiap kesesatan. Al-Qur’an menggambarkan kejiwaan orang-orang Yahudi dengan sindiran yang halus;

كُلَّما اَوْقَدُوْا نارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللهُ ويَسْعَوْنَ في الْأَرْضِ فسادًا , واللهُ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

‘Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha menimbulkan kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan’ (QS. Al-Maidah: 64)

اللطيفة الثانية

Latifah kedua

Sebagaimana pada ayat yang sebelumnya (QS. Al-Baqarah ayat 98) yang membicarakan tentang ancaman, فإن الله عدوٌّ للكافرين (sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir), juga pada ayat 99, وما يَكْفُرُ بها إلا الْفاسِقون (dan tidaklah ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang fasik), dan menyebutkan tentang pelanggaran janji-janji yang dibuat oleh orang-orang Yahudi (ayat 100), juga perbuatan mereka yang menyembunyikan Kitab Allah (ayat 101), lalu perbuatan mereka yang mengikuti setan-setan, serta mempelajari sesuatu yang dapat membuat bahaya dan tidak bermanfaat bagi orang lain (102). Maka datang firman Allah Ta’ala yang mengiringi ayat-ayat tersebut yang berisikan janji Allah yang baik terhadap orang yang beriman dan bertakwa. Oleh karena itu, dalam ayat-ayat ini terhimpun antara ancaman dan janji, antara pemberian semangat dan intimidasi, antara peringatan dan kabar gembira. Pada ayat-ayat tersebut, terjadi pola mengikutsertakan sesuatu kepada sesuatu yang lain, memberitahukan sesuatu yang ghoib setelah terjadi sesuatu yang ghoib, ayat-ayat tersebut tersusun rapi seperti mutiara-mutiara yang berada dalam ikatannya, yang menghimpun kepada terangnya bintang-bintang yang berada di tempat terbitnya, yang memberitahukan akan kebenaran seseorang yang datang dengan membawa ayat-ayat tersebut, yang tidak pernah membaca kitab-kitab sebelumnya, yang tidak pernah belajar, yang tidak pernah pergi ke negeri orang, yang tidak pernah bergaul dengan para pendeta, yang tidak pernah menangani suatu persoalan;

وما يَنْطِقُ عن الهوى . إنْ هو إلا وحيٌ يُوْحى

‘Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya’ (QS. An-Najm: 3-4).
Mudah-mudahan rahmat Allah dan keselamatan terkirim teruntuknya. Aku sampaikan sebaik-baiknya penghormatan teruntuknya.

اللطيفة الثالثة
Latifah ketiga

Firman Allah Ta’ala, نبذ فريقٌ من الذين أوتوا الكتاب كتاب الله وراء ظهورهم (sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah itu ke belakang punggung mereka). Ungkapan kata ‘melempar Kitab Allah ke belakang punggung mereka’, sebagai ungkapan yang menambah umpatan dan celaan kepada orang-orang Yahudi, di mana mereka meninggalkan melakukan amal perbuatan dengan berpegang kepada Kitab Allah, mereka telah berpaling secara total dalam keadaan meremehkan dan mengejeknya. Mereka berpegang kepada hikayat-hikayat yang terdapat di dalam buku-buku sihir dan mantera-mantera.

Berkata Sayyid Qutub Rahimahullah, orang-orang yang diberi Kitab, mereka telah melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka. Maksudnya, secara watak sesungguhnya mereka mengingkari Kitab Allah dan meninggalkan untuk beramal menggunakan Kitab Allah. Namun ungkapan yang tergambar yaitu berpindah makna dari wilayah hati kepada wilayah panca indera (dapat terlihat), tergambar perbuatan mereka dengan gerakan yang bersifat materi yang dapat dibayangkan, tergambar tingkah lakunya ini sebagai tingkah laku yang buruk lagi hina, ternoda oleh kedurhakaan, ditandai dengan kekeliruan dan kebodohan, melahirkan buruknya adab, lalu berimajinasi untuk bersenang-senang dengan gerakan yang bengis ini sebagaimana gerakan tangan yang membuang Kitab Allah ke belakang punggung’

اللطيفة الرابعة
Latifah keempat

Cara mempersamakan antara penyebutan الشياطين dan السحر di dalam ayat yaitu, sesungguhnya sihir meminta pertolongan kepada ruh-ruh yang jahat lagi keji dari golongan bangsa jin, sedangkan setan-setan diduga mengetahui perkara yang ghoib, dan manusia membayangkan hal tersebut. Sebagian manusia mempercayai setan-setan perihal perkara yang mereka bayangkan. Mereka berlindung kepada setan-setan di dalam kesusahan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Jinn ayat 6;

وأنه كان رجالٌ من الإنسِ يَعُوْذُوْنَ برجالٍ من الجنِّ فَزَادَوْهُمْ رَهَقًا.

‘dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat’

Meriwayatkan Ibnu Jarir dan Al-Hakim dari Ibnu Abbas Radiallau ‘Anhuma bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda;

إن الشياطين كانوا يسترقون السمعَ من السماء , فإذا سمِع أحدُهم بكلمةٍ كذب عليها ألفَ كَذِثةٍ , فأشربَتْها قلوبُ الناس واتخذوها دواوينَ , فأطْلعَ الله على ذلك – سليمان بن داود – فأخذها وقذَفها تحت الكرسي , فلما مات سليمانُ قام شيطان بالطريق فقال : ألا أدُلُّكم على كنْز سليمان الذي لا كنزَ لأحدٍ مِثلَ كنزه المُمَنِّعِ ؟ فقالوا : نعم فأخرَجوه فإذا هو سحرٌ , فتناسختْها الأمم فأنزل الله تعالى عُذْرَ سليمان فيما قالوا من السحر.

‘Sesungguhnya setan-setan, mereka mencuri pendengaran dari langit. Apabila salah satu dari mereka mendengar satu kalimat maka mereka membuat seribu dusta terhadap kalimat tersebut. Kemudian hati-hati manusia menjadi dahaga atas kalimat tersebut. Setan-setan lalu menjadikannya ke dalam buku-buku. Allah kemudian memperlihatkannya kepada Sulaiman bin Daud. Sulaiman kemudian mengambilnya lalu dibuang di bawah kursi. Ketika Sulaiman meninggal dunia maka setan-setan berdiri di jalan sambil berkata, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian harta simpanan Sulaiman yang tidak ada seorangpun yang memilikinya kecuali Sulaiman?” Mereka menjawab, “Iya”. Setan-setan itupun kemudian mengeluarkannya yang tidak lain adalah sihir. Kemudian silih berganti umat mempelajarinya. Sampai kemudian Allah menurunkan ayat sebagai pembelaan kepada Sulaiman perihal sihir yang mereka katakan’

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *