Latifah (Kelembutan) Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 101-103, 1-7

Pertemuan ke-24

لطائف التفسير, ١-٧
Latifah (kelembutan) tafsir surat Al-Baqarah ayat 101-103, 1-7

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Sabtu, 8 Agusutus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

اللطيفة الخامسة
Latifah kelima

Al-Qur’an al-Karim menerangkan tentang sihir dengan menggunakan lafaz ‘kufur’ sebagaimana firman-Nya, وما كَفَرَ سُليْمانُ (Sulaiman itu tidaklah kafir). Keterkaitan lafaz menunjukkan bahwa yang dimaksud dari lafaz ‘kafara’ adalah sihir, maka tafsir susunan kalimatnya adalah وما سَحَرَ سليمان (Sulaiman itu bukanlah seorang penyihir). Penggunaan lafaz ‘kafara’ semata-mata untuk mencela dan menumpat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran ayat 97 tentang seseorang yang enggan untuk melaksanakan ibadah haji ketika dirinya mampu untuk melaksanakannya;

وَ مَنْ كَفَرَ فإنَّ اللهَ غَنِيٌّ عن العالمين

‘Barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam’

Pada keterangan ayat ini manusia diberi julukan jelek sebab melakukan sihir dan sebagai dalil (argumentasi) bahwa sihir adalah termasuk perbuatan dosa besar yang dapat mencelakakan pelakunya. Bahkan dia menjadi kafir dan dapat menyekutukan Allah. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh firman Allah, إنّما نحن فِتْنَةٌ فلا تَكْفُرْ (Sesungguhnya kami hanyalah sebatas cobaan bagimu, oleh sebab itu janganlah kamu menjadi kafir).

اللطيفة السادسة
Latifah keenam

Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki berbicara dengan gaya bicara yang fasih di hadapan Umar bin Abdul Aziz. Umar pun berkomentar, هذا واللهِ السِّحْرُ الْحَلَالُ (Demi Allah, ini adalah termasuk sihir yang dihalalkan)

Diriwayatkan di dalam suatu hadis;

أنَّ الزِّبْرِقَان بن بَدَر وعَمْرُو بن الأَهْتَمْ وقَيْس بن عَاصِمْ قَدَمُوا على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال لِعَمرٍو : خبِّرْني عن الزبرقان ؟ فقال : مُطاعٌ في نَاديه , شَديدُ العارضةِ , مانعٌ لما وراء ظهرِه .. فقال الزبرقان : هو واللهِ يعلمَ أني أفضل منه , فقال عَمْرٌو : إنه زَمِرُ الْمُرُوءَةُ , ضَيِّقُ الْعَطَنِ , أحْمَقُ الأبِ , لَئِيْمُ الخَال .. ثمّ قال يا رسولَ الله : صَدَقْتُ فيهما , أَرْضَانِي فقلتُ أَحْسَنَ ما عَلِمْتُ , وأَسْخَطَنِي فقلتُ أَسْوَأَ ما علمتُ , فقال عليه السلام : إنّ من البَيانِ لَسِحْرًا .

‘Sesungguhnya Zibriqon bin Badar dan ‘Amar bin al-Ahtam dan Qais bin ‘Ashim, mereka berkunjung kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah kemudian bersabda kepada ‘Amar, “Ceritakanlah kepadaku perihal Zibriqon?” ‘Amar pun menjawab, “Dia dipatuhi di tempat pertemuannya, sangat bagus gagasannya, dapat menghalangi apa yang ada di belakangnya. Zibriqon lalu berkata, “Demi Allah, dia (‘Amar) tahu bahwa sesungguhnya diriku lebih dari apa yang dikatakannya!” ‘Amar pun berkata, “Sesungguhnya ia (Zibriqon) adalah pribadi yang kurang sifat keperwiraannya, lemah pemahamannya, ayahnya bodoh, dan pamannya adalah seorang penjahat!” Kemudian ‘Amar melanjutkan ucapannya, “Wahai Rasulullah, aku berkata jujur terhadap pembicaraanku yang pertama maupun yang kedua. Dia (Zibriqon) telah membuatku senang kemudian aku mengatakan sesuatu yang paling baik yang aku ketahui darinya. Dia pun membuatku marah maka aku pun mengatakan sesuatu yang paling buruk yang aku ketahui tentangnya!” Rasulullah kemudian bersabda, “Sesungguhnya kekuatan retorika (bayan) seperti sihir!”

Diceritakan bahwa dua orang lelaki mendatangi Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satu dari keduanya kemudian berbicara dengan fasih dan indah sehingga membuat kagum manusia. Rasulullah lalu bersabda, إنّ من البيانِ لسحرًا (Sesungguhnya kekuatan retorika seperti sihir).

Jika ditanyakan, bagaimana Rasulullah mengatakan bahwa sihir termasuk retorika yang indah padahal di satu sisi sihir merupakan perbuatan yang tercela, baik menurut akal maupun secara agama? Maka jawabannya adalah bahwa sihir yang di maksudkan di sini adalah sihir secara majaz (bukan makna yang sesungguhnya), bukan sihir secara hakekat (makna yang sesungguhnya). Penceramah dapat menarik hati-hati manusia dengan baiknya retorika, indahnya penyampaian serta elok ungkapannya. Sebagaimana penyihir menarik hati-hati manusia dengan ketangkasan, kecekatan serta menyembunyikannya dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Melalui cara inilah retorika disamakan dengan sihir.

اللطيفة السابعة
Latifah ketujuh

Jika ada pertanyaan, bagaimana mungkin dua malaikat mengajarkan sihir kepada manusia padahal sihir diharamkan dan orang yang meyakininya termasuk kafir? Jawabnya adalah, kedua malaikat tersebut mengajarkan sihir kepada manusia tidak untuk diamalkan. Keduanya mengajarkan sihir agar dapat terhindar dan terpelihara dari bahaya sihir. Sebab pengetahuan tentang keburukan dalam rangka untuk terhindar dari bahaya keburukan tersebut merupakan suatu kebaikan. Berikut sebuah ungkapan;

عرفتُ الشَرَّ لا للشرّ . لـكــن لـتـو قـِيـِّه
ومن لا يعرف الشَّرَّ . من الناس يقع فيه

‘Aku mengetahui keburukan. Bukan untuk berbuat buruk namun untuk menjaga dari perbuatan buruk tersebut. Barang siapa yang tidak mengetahui keburukan yang berasal dari manusia maka boleh jadi ia akan melakukan keburukan tersebut’

Umar bin Khottob Radiallahu ‘Anhu pernah ditanya, “Sesungguhnya Fulan tidak mengetahui suatu keburukan !” Umar menjawab, “Kemungkinan besar dia akan terjerumus ke dalam keburukan tersebut !”

Jawaban yang paling tepat yaitu perkataan dari Al-Alusi, “Sesungguhnya apa yang di lakukan oleh dua malaikat tersebut yaitu sebagai ujian dan untuk membedakan antara mu’jizat dan sihir”

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *