Pertemuan Ke – 18 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 18
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 11 Agustus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

الْكَوْنُ كلُّهُ ظُلْمةٌ , وإنما أناره ظُهورُ الحقّ فيه
فمن رأى الكونَ , ولم يشهدْه فيه , أو عنده , أو قبله , أو بعده , فقد أعْوَزَه وجودُ الأنوار , وحجبتْ عنه شُموسُ المعارف بسُحُبِ الاثار.

‘Alam kesemuanya adalah kegelapan. Hanyasanya sebab adanya cahaya Ilahy sehingga alam dapat bercahaya. Barang siapa yang melihat alam namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau bersamanya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka sungguh sulit baginya mendapatkan cahaya. Matahari ma’rifat terhalang oleh awan-awan peninggalan barang duniawi’

Ketiadaan berarti kegelapan. Keberadaan berarti cahaya. Alam dilihat dari hakekatnya tidak ada serta gelap. Dilihat dari penampakan cahaya Ilahi atasnya dan tampak jelas keberadaan Allah di dalamnya maka alam menjadi ada yang mendapatkan cahaya dari-Nya. Kemudian keadaan manusia di sini menjadi berbagai macam keadaannya. Sebagian manusia tidak melihat terkecuali hanya sebatas segala sesuatu yang ada di alam raya dalam pandangannya. Sesuatu di alam raya telah menghalanginya untuk melihat kepada Sang Pencipta. Maka mereka telah tersesat di dalam kegelapan, terhalang sebab awan peninggalan barang duniawi.

Sebagian dari mereka tidak terhalang oleh barang-barang dunia untuk melihat kepada Sang Pencipta. Keadaan mereka dalam melihat Pencipta terbagi kepada beberapa kelompok. Ada yang mampu melihat Pencipta sebelum alam semesta. Mereka adalah orang-orang yang berpegang kepada sebab-akibat. Ada yang melihat kepada Pencipta sesudah alam semesta. Mereka adalah orang-orang yang berpegang kepada akibat-sebab. Sebagian lagi melihat kepada Pencipta bersama dengan alam semesta. Kebersamaan di sini boleh jadi kebersamaan yang menyatu, yaitu mereka melihat Pencipta di alam semesta ini. Boleh jadi kebersamaan yang terpisah, yaitu mereka melihat Pencipta di hadapan alam semesta. Keadaan-keadaan yang telah disebutkan bukan bermakna waktu dan tempat. Sebab waktu dan tempat termasuk ke dalam alam semesta. Ketersambungan dan keterpisahan di sini tidak juga dipahami sebagaimana makna biasanya yang merupakan bagian dari alam semesta.

Pengetahuan tentang rincian persoalan-persoalan ini dan memisah-misah di antara hakekat-haket ini berdasarkan keadaannya masing-masing, itu diserahkan kepada ahlinya. Maka kami mencukupkan diri dari apa yang telah kami sebutkan. Dari persoalan ini banyak kaki-kaki manusia tergelincir . Mereka berbicara dengan kalimat-kalimat yang mencurigakan serta mengungkapkan dengan ungkapan-ungkapan yang keluar dari syariat, oleh sebab itulah mereka dianggap kafir dan dianggap telah berbuat bid’ah. Maka milikilah keyakinan dengan cara betul-betul mensucikan Allah dan meniadakan untuk menyerupakan-Nya dan berpeganglah dengan firman Allah dalam surat Asy-Syura ayat 11;

ليس كمثلِه شيئٌ وهو السميعُ البصيرُ

‘Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat’ Tidak ada tuhan kecuali Dia.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *