Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke-4)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke-4)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 15 Agustus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

تنبيه – من مات وعليه صلاة فرضٍ لم تُقضَ ولم تُفْدَ عنه وفى قولٍ أنها تُفعَل عنه أوصى بها أم لا حكاه العَبادِى عن الشافعيّ لخبرٍ فيه وفعل به السبكى عن بعض أقاربه

(Pemberitahuan) Barang siapa yang mati dengan meninggalkan shalat fardu maka tidak ada qadha dan tidak ada fidyah atas namanya. Di dalam satu pendapat diqadha atas namanya, baik ia berwasiat maupun tidak. Sebagaimana dikatakan oleh al-Abadi dari As-Syafi’i sebab terdapat hadis Nabi yang diriwayatkan dari al-Bukhori dan lainnya. As-Subki melakukan hal tersebut (mengqadha) atas nama sebagian kerabat-kerabatnya.

(ويؤمر) ذو صِبا ذكرا أو أنثى (مميِّزٌ) بأن صار يأكل ويشرب ويستنجى وحدَه أى يجب على كلٍّ من أبويه وإن علا ثم الوصيُّ وعلى مالك الرقيق أن يأمره (بها) أى الصلاة ولو قضاءً وبجميع شروطها (لسبع) أى بعد سبعٍ من السنين أى عند تمامها وإن مَيّزَ قبلها وينبغى مع صيغة الأمر التهديدُ

Diperintahkan anak usia dini, baik laki-laki maupun perempuan yang telah tamyiz, yaitu anak yang sudah mandiri dari makan, minum dan istinja (membersihkan sendiri tempat keluarnya kotoran). Maksudnya, wajib bagi orang tua hingga jalur ke atas, lalu orang yang diserahi wasiat, kemudian para pemilik budak/hamba sahaya untuk memerintahkan shalat kepada anaknya yang masih kecil meskipun shalat qadha (shalat yang telah tertinggal) dengan semua syaratnya shalat. Perintah shalat kepada anak ketika anak telah berusia sempurna tujuh tahun. Ketika belum mencapai sempurna tujuh tahun maka belum ada kewajiban untuk memerintahkan anak meskipun sebelum tujuh tahun ia telah tamyiz. Perintah dengan sedikit ancaman diperbolehkan ketika memang dibutuhkan.

ويُضْرَبُ – ضرباً غير مُبَرِّحٍ وجوبا ممن ذكر (عليها) أى على تركها ولو قضاءً أو ترك شرطا من شروطها (لعشر) أى بعد استكمالها للحديث الصحيح مُرُوا الصبيَّ بالصلاة إذا بلغ سبع سنين وإذا بلغ عشْر سنين فاضربوه عليها (كصوم أطاقه) فإنه يُؤْمَر به لسبع ويُضرب عليه لعشر كالصلاة وحكمة ذلك التمرين على العبادة ليتعوّدها فلا يتركها وبحث الأذرعى فى قِنٍّ صغير كافر نطق بالشهادتين أنه يُؤمر ندبا بالصلاة والصوم ويُحثُّ عليهما من غير ضربٍ لِيألَف الخير بعد بلوغه وإن أبى القياسُ ذلك انتهى ويجب أيضا على من مرّ نهيُه عن المحرَّمات وتعليمُه الواجباتِ ونحوَها من سائر الشرائع الظاهرة ولو سنةً كسواكٍ وأَمَره بذلك ولا ينتهى وجوبُ ما مرّ على من مرَّ إلا ببلوغه رشيدا وأجرةُ تعليمه ذلك كالقران والاداب فى ماله ثم على أبيه ثم على أُمه

Wajib untuk memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan kepada anak yang meninggalkan shalat, meskipun shalat qadha atau meninggalkan syarat-syarat shalat, ketika anak sudah berusia sempurna sepuluh tahun. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, di dalam hadis soheh bersabda;

مُرُوْا الصبيَّ بالصلاةِ إذا بلغ سبع سنين وإذا بلغ عشْر سنين فاضربوه عليها

‘Perintahkan shalat kepada anak kecil ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Apabila telah mencapai sepuluh tahun dan enggan untuk melaksanakan shalat maka pukullah ia”
Seperti halnya shalat, puasa demikian juga. Ketika anak tersebut telah mampu berpauasa maka wajib bagi orang tua untuk memerintahnya dan dipukul ketika ia enggan melaksanakannya saat usianya telah mencapai sepuluh tahun. Hikmah dari itu, untuk melatih agar terbiasa dengan melaksanakan ibadah dan tidak meninggalkannya. Al-Azra’i membahas persoalan budak sahaya yang masih kecil yang dapat mengucapkan dua kalimat syahadat, sunah hukumnya untuk diperintahkan shalat dan puasa dengan cara diarahkan untuk melaksanakannya tanpa dipukul agar dirinya senang dengan kebaikan setelah berusia baligh. Meskipun secara qiyas (mengarahkan) kepada sunah itu tertolak sebab dimungkinkan budak sahaya yang masih kecil itu dalam keadaan kafir.
Wajib pula bagi orang tua untuk melarang anaknya yang masih kecil melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama, mengajarinya kepada hal-hal yang wajib seperti shalat, puasa, zakat, haji dan aturan-aturan syariat yang lainnya, meskipun sunah seperti bersiwak. Kewajiban memerintahkan kepada anak tidak berhenti kecuali sampai ia telah mencapai usia dewasa (baligh). Upah untuk mengajarkannya, seperti belajar Al-Qur’an dan adab dibebankan kepada harta milik anak kemudian ayah lalu ibu.

تنبيه – ذكر السمعانى فى زوجةٍ صغيرةٍ ذات أَبَوينِ أنّ وجوب ما مرّ عليهما فالزوجِ وقضيَّتُه وجوبُ ضربها وبه ولو فى الكبيرةِ كما صرّح به جمالُ الإسلام البِزِرِى قال شيخنا وهو ظاهرٌ إن لم يخش نشوزا وأطلق الزركشي الندبَ (وأول واجبٍ) حتى على الأمر بالصلاة كما قالوا (على الأباء) ثم على من مرّ (تعليمه) أى المميز (أنّ نبيَّنا محمدا صلى الله عليه وسلم بُعث بمكة) ووُلِد بها (ودُفن بالمدينة) ومات بها.

(Pemberitahuan). As-Syam’ani menuturkan tentang istri yang masih kecil yang masih mempunyai kedua orang tua, bahwa kewajiban yang telah disebutkan di muka dibebankan kepada kedua orang tua istri kemudian suami. Termasuk wajib memukul istri yang meninggalkan shalat dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Kewajiban memukul istri, meskipun istri yang telah dewasa, sebagaimana ditegaskan oleh Jamalul Islam al-Biziri, berkata Syaikhuna, hal tersebut sudah jelas jika tidak dikhawatirkan terjadinya nusuz (istri durhaka kepada suami). Sementara az-Zarkasi menghukumi sunah secara mutlak. Awal perintah kepada sesuatu yang wajib dari orang tua kepada anaknya yaitu mengajarkan bahwa Nabi kita adalah Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi diutus di Mekah dan dilahirkan di Mekah pula. Nabi dikubur di Madinah dan meninggal di Madinah. Perintah tersebut lebih didahulukan ketimbang perintah shalat.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *