Hijrah Dengan Kebersamaan

Oleh. Ahmad Lahmudin

Malam itu Rasulullah berusaha keluar dari kediamannya. Sementara di luar rumah sekelompok Quraisy menanti beliau dengan pedang terhunus di tangan mereka. Hanya satu tujuan mereka yaitu membunuh Nabi. Oleh Nabi, diambilnya segenggam debu kemudian dilempar ke hadapan mereka sambil membaca awal surat Yasin yang berakhir di ayat ke 9;

فَاَغْشينَاهم فهم لا يُبْصرون

‘Dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat’
Dengan kuasa Allah, Nabi keluar dari kediamannya dengan selamat.

Abu Bakar RA menangis tatkala Nabi datang dan meminta kepadanya untuk bersama menemaninya berhijrah dari Mekah menuju Madinah. Tangisan beliau bukanlah tangis kesedihan, tapi tangis kebahagiaan. Betapa tidak? Manusia teragung sepanjang zaman, kekasih Allah SWT, Muhammad ‘Alaihissalam memintanya untuk menemaninya berhijrah. Suatu kehormatan yang tiada terkira.

Hari itu, saat keberangkatan Nabi dan Abu Bakar keluar dari kota Mekah terjadi pada hari Kamis, awal bulan Rabi’ul Awwal, bertepatan dengan tanggal 27 Juni tahun 622 Masehi. Selama dua belas hari lamanya perjalanan, keduanya sampai di Madinah, tepat hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal.

Tidak dapat ditutupi kesedihan Rasulullah saat meninggalkan kota kelahirannya, Makkatul Mukarramah. Beliau bersabda ketika keluar dari kota Mekah,

اللهم انك تعلم أنهم أخرجونى من أحبِّ البلاد الىّ فاسكنى أحبّ البلاد اليك

‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, mereka telah mengusirku dari negeri yang teramat aku cintai. Maka tempatkanlah diriku di negeri yang Engkau cintai’

Sungguh teramat istimewa tahun hijriyah kali ini, tahun 1442. Sebab bertepatan dengan hari pertama Rasulullah hijrah, yaitu hari Kamis. Perjalanan hijrah Nabi menjadi awal titik kebangkitan peradaban umat manusia, bukan hanya teruntuk umat muslim, tapi umat manusia pada keseluruhan. Keterpurukan umat manusia dari kelamnya kebodohan ilmu pengetahuan perlahan tercerahkan. Dari Madinah cahaya Islam menyebar ke seantero pelosok dunia dengan membawa kedamaian. Dari Madinah lahir forum toleransi antar umat beragama pertama di dunia lewat Piagam Madinah. Hijrah dapat berarti bangkit dari keterpurukan menuju kepada keunggulan, dari ketidakberadaban menuju kepada keadaban, dari tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Kurang lebih tiga belas tahun lamanya sejak risalah kenabian harus disampaikan, siksaan, intimidasi, kekerasan kepada kaum muslimin yang dilakukan oleh kaum Quraisy Mekah terus berlangsung. Bukan hanya kehilangan harta, jiwa juga menjadi taruhan demi menjaga keimanan yang telah bersemai di dada-dada kaum muslimin Mekah saat itu. Akhirnya Allah memberikan izin kepada Nabi untuk meninggalkan Mekah menuju Madinah.

Kecemerlangan hasil hijrah Nabi bukanlah tanpa jerih payah. Kebersamaan adalah kunci kesuksesan misi hijrah. Peran semua lini yang terlibat sesuai dengan rencana. Di situ ada peran para pemuda. Ali bin Abi Thalib, berperan sebagai pengganti di tempat tidur Nabi. Dengan keyakinan dan keberaniannya dia pertaruhkan nyawanya demi misi hijrah. Abdullah bin Abu Bakar, pemuda yang pandai lagi cerdik, adalah informan yang memberi setiap informasi pada malam hari dan telah kembali sebelum menjelang subuh. Asma binti Abu Bakar, seorang pemudi yang bersusah payah naik ke gunung Tsur, tempat persembunyian Nabi dan ayahnya, Abu Bakar, yang bertugas sebagai penyuplai logistik selama tiga hari lamanya. Tidak hanya menyuplai makanan saat Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di gunung Tsur. Dialah wanita yang kelak mendapat julukan dari Nabi dengan sebutan Dzatin Nithoqain, yaitu pemilik dua ikat pinggang, sebab ia telah memotong ikat pinggangnya menjadi dua bagian, satu bagian dibuat untuk alas makanan bagi Rasulullah, satu bagian lagi diperuntukkan untuk alas makanan Abu Bakar. Ada ‘Amar bin Fuhairoh, seorang budak dari Abu Bakar yang bertugas menghapus setiap jejak yang menuju ke gua Tsur dengan hewan-hewan ternak milik Abu Bakar sambil memberikan asupan gizi lewat susu yang diperah dari domba peliharaannnya tersebut. Ada juga Abdullah bin Ariqat, seorang musyrik, non muslim, yang punya peran sangat penting sebagai petunjuk jalan yang teraman menuju Madinah yang disewa oleh Abu Bakar. Yang tidak kalah besar peran orang tua yang diperankan oleh Abu Bakar As-Shiddiq, sahabat Nabi yang kelak juga akan menjadi mertua Nabi, yang bukan hanya telah mengorbankan hartanya, jiwanya, juga jiwa seluruh keluarganya demi melaksanakan misi hijrah. Nabi sendiri sebagai aktor utama misi hijrah, meskipun Beliau seorang utusan Allah, tidak kemudian segala fasilitas yang dibutuhkan untuk hijrah dapat dia peroleh dengan cuma-cuma. Alat transportasi, berupa onta yang diberikan cuma-cuma oleh Abu Bakar tidak mau dipergunakannya sebelum ia beli dengan uangnya sendiri. Satu tauladan yang mestinya ditiru oleh pejabat masa kini.

Demikianlah, kebersamaan di antara kita mesti kita tumbuhkan bila rencana besar para pendiri bangsa ini ingin kita lanjutkan. Jangan lagi kita perdebatkan landasan bernegara yang sudah menjadi kesepakatan, tentang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Mari bersama kita bicarakan bagaimana cara mencerdaskan anak bangsa, bagaimana cara mensejahterakan kehidupan anak bangsa. Terlebih pada masa pandemi saat ini. Hijrahnya Nabi mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan untuk menyelesaikan solusi bangsa ini. Hanya dengan kebersamaan sesuatu yang kita cita-citakan bersama akan terwujud. Kemiskinan, kebodohan, ketimpangan yang terjadi di dunia muslim sekarang ini disebabkan semakin pudarnya kebersamaan di antara kita. Kita mulai dari institusi terkecil yaitu keluarga lalu di lingkungan kita masing-masing. Harus saling bahu membahu antara yang tua dan muda, lelaki dan wanita, pemimpin dan yang dipimpin, muslim dan non muslim.

Ada baik kita renungkan ungkapan Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, agar kita yang cinta dengan negeri ini tidak bercerai berai hingga dapat dikalahkan oleh mereka yang tidak cinta dengan NKRI yang jumlahnya jauh lebih sedikit tapi lebih solid.

إِنَّ الْحَقَّ يَضْعُفُ بِالْاِخْتِلَافِ وَالإِفْتِرَاقِ . وَانَّ الْبَاطِلَ قَدْ يَقْوَى بِالْاِتِّحَادِ وَالْاتِّفَاقِ

‘Sesungguhnya kebenaran dapat terkalahkan sebab perselisihan dan bercerai berai. Dan sesungguhnya yang batil, salah itu dapat mendapatkan kemenangan sebab bersatu dan bersama’

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *