Pertemuan Ke – 19 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 19
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 18 Agustus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

مِما يدُلُّك على وجودِ قَهْرِهِ سُبْحانَهُ , أنْ حَجَبكَ عنه بما ليْسَ بِمَوْجُودٍ مَعه

‘Termasuk sesuatu yang menunjukkan kepadamu atas eksistensi keperkasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Allah menghalangimu dengan sesuatu yang wujudnya tidak ada jika bersama-Nya’

Sepakat ungkapan-ungkapan orang-orang yang telah mencapai ma’rifat, orang-orang yang nyata dekat kepada-Nya, isyarat-isyarat mereka, perasaan-perasaan hati mereka, atas apa yang telah kami sebutkan dipembahasan sebelumnya, bahwa sesuatu selain Allah adalah murni ketiadaan dari sisi zatnya jika disifati ada bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab bila disifati ada bersama Allah Ta’ala maka itu sama saja menyekutukan Allah dan menduakan-Nya. Hal tersebut bertentangan dengan kemurnian tauhid. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Qasas ayat 88;

كُلَّ نفسٍ هالِكٌ إلّا وجْهَهُ

‘Segala sesuatu pasti binasa, keciuali Allah’
Rasulullah Shallahu ‘Alai wa Sallam bersabda, “Aku membenarkan sebuah ungkapan yang dikatakan oleh seorang penyair:

ألاَ كُلُّ مَا خَلَا الله باطِلٌ . وكُلُّ نعيمٍ لا مَحالَةَ زَائِلٌ

‘Ingatlah, bahwa segala sesuatu selain Allah adalah tidak berharga. Setipa kenikmatan yang ada pasti hilang’

Sebagian orang-orang yang telah ma’rifat berkata, “Orang-orang yang telah sampai kepada Allah enggan melihat selain Allah. Sebab membuat nyata akan keberadaan Allah Yang Maha Berdiri sendiri, Maha Kekal”

Sayyidi Abu al-Hasan As-Syadzili berkata, “Sesungguhnya kita agar melihat kepada Allah dengan pandangan iman dan keyakinan, maka cukup hal tersebut menjadi argumentasi. Dengan itu pula kita dapat berargumentasi tentang makhluk, apakah pada yang berwujud terdapat selain Allah Yang Esa al-Haq? Maka tidak akan kita lihat selain Allah, laksana debu di udara. Jika engkau selidiki tentang mereka maka tidak akan engkau menemukan mereka sedikitpun” Dikatakan pula olehnya, “Menguatkan kepadaku satu kesaksian, aku meminta agar Allah menutup hal tersebut untukku. Kemudian ditanyakan kepadaku, “Seandainya engkau meminta dengan apa yang diminta oleh Musa, Isa dan Muhammad Shalatullah ‘Alaihim, maka tidak akan dikabulkan-Nya. Namun, memintalah untuk ditambahkan keyakinanmu” Akupun meminta agar Allah menambahkan keyakinan teruntukku”

Ibnu ‘Atha di dalam kitab at-Tanwir berkata, “Sesuatu selain Allah menurut orang-orang yang telah ma’rifat tidak dapat disifati dengan ‘ada’ dan tidak pula ‘tidak ada’ Sebab tidak didapati bersama Allah selain-Nya, karena esanya Allah. Dan tidak ditiadakan selain Allah, sebab tidak ditiadakan kecuali sesuatu yang telah diadakan. Seandainya terkoyak, sobek penutup keraguan maka terlihat dengan jelas ketiadaan selain Allah dan niscaya bersinar cahaya keyakinan kemudian menutupi ketiadaan selain Allah”
Pembicaraan ini adalah penjelasan yang disampaikan penulis di dalam kitab ini.

Sebagian mereka berkata, “Seandainya diriku dipaksa untuk melihat selain Allah niscaya aku tidak akan mampu. Tidak ada selain-Nya bersama-Nya hingga aku dapat melihat selain-Nya bersama-Nya” Berkata seorang penyair;

مُـذْ عــرفْـتُ الالـهَ لـم أَرَ غَيْـرًا . وكـذا الغَيْـرُ عنــدنـا ممنــوعٌ
مذْ تَجَمَّعْـتُ مـا خَشِيْـتُ افْتِـراقًـا . وأنـا اليـومَ واصِـلٌ مَجمُــوْعٌ

‘Sejak aku mengenal Tuhan, aku tidak dapat melihat selain-Nya. Demikian juga selain-Nya di sisi kami menjadi terhalang.
Sejak diriku telah menyatu maka tidak aku khawatirkan terjadi perpisahan. Aku, saat ini, telah menyatu, berkumpul’

Berkata yang lainnya;

اللـهَ قـُلْ , وذَرِ الوُجودَ وما حَوَى . إِنْ كُنْـــتَ مُــرْتــادًا بُلــُوغَ كمــالٍ
فـــــالكُـــــلُّ دون اللهِ أَنْ حَقَّقْتَـــــهُ . عَــدَمٌ علــى التّفْصيــلِ والإجْمــالِ
واعلــمْ بــأنّــك والعـــوالِـــمَ كُلَّهــا . لــولاه فــي مَحْـوٍ وفي اضْمحـلالٍ
مَــنْ لا وُجـــودَ لِــذاتِــهِ مِــنْ ذاتِـهِ . فـــوُجُـــوْدُهُ لـــولاه عَيـــْنُ مُحــالٍ
فالعـارِفـون فَنــَوْا بـأنْ لـم يَشْـهدُوا . شيْئًــا ســوى المُتَكبِّـــر المُتعـالِــي
ورَأَوْا سِـواه علـى الحقيقـةِ هـالِكًـا . فـي الحَـالِ والمـاضـي والإستقبـال

‘Katakanlah kepada Allah, tinggalkanlah sesuatu yang berwujud dan yang terhimpun jika kamu ingin mencari kepada kesempurnaan.
Maka semuanya selain Allah kamu yakini menjadi tiada, baik terinci maupun secara global.
Ketahuilah, sesungguhnya engkau dan alam sekitarnya, kesemuanya seandainya tidak ada Allah maka dalam ketiadaan dan lemah.
Barang siapa yang tidak berwujud zatnya sebab Dzatnya Allah. Maka wujudnya seandainya tidak ada Allah menjadi mustahil adanya.
Maka orang-orang yang telah ma’rifat mereka melebur dengan tidak melihat kepada sesuatupun kecuali kepada Dzat Yang Maha Agung, Yang Maha Luhur.
Mereka melihat selain Allah pada hakekatnya adalah binasa, saat ini, di masa lalu, dan masa yang akan datang’

Mereka telah mengarang beberapa karangan untuk menjelaskan persoalan ini. Mereka membagi-bagi dalam pembicaraan untuk memaknai ini ke dalam benuk prosa dan syi’ir. Semuanya diungkapkan sesuai dengan kebutuhan minumnya serta daya rasanya.

Ketika ini telah menjadi ketetapan. Kita mendapati mayoritas manusia sungguh telah terhalangi dari Allah oleh sebab keinginan-keinginan mereka akan persoalan duniawi, keinginan mereka kepada derajat di akhirat, dan maqam-maqam yang tinggi teruntuk mereka. Semuanya itu termasuk sesuatu di luar Allah yang menyibukkan hati yang tiada dan hal-hal yang berwujud yang bersifat dugaan. Maka sebab itu kita telah diajarkan kepada adanya kuasa Allah Ta’ala. Sebab termasuk ke dalam nama-nama Allah Ta’ala yaitu ‘Al-Qohhar’ (Yang Maha Perkasa). Seandainya Allah mengangkat hijab-hijab (penutup) dari mereka maka mereka melebur meninggalkan diri-diri mereka dan keinginan-keinginan mereka. Mereka kekal bersama Tuhan mereka. Mereka telah menjadi hamba-hamba Allah yang sebenar-benarnya.

Abu Said bin A’rabi Radiallahu ‘Anhu pernah ditanya tentang ‘fana’. Dia menjawab, “Fana adalah, seorang hamba melihat kebesaran dan keagungan Allah. Kemudian ia melupakan dunia, akhirat, keadaan-keadaannya, derajat-derajat serta dari segala maqam. Zikir-zikir akan membuat hamba fana (melebur) meninggalkan segala sesuatu, meninggalkan dirinya, meninggalkan dari fana menuju kepada fana berikutnya. Sebab akalnya telah menjadi terang hanya untuk mengagungkan Allah”

Mereka berkata, ‘Fana’ dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, ‘fana’ di dalam perbuatan-perbuatan. Merekapun berkata, “Tidak ada yang melakukan perbuatan kecuali perbuatan Allah” Kedua, ‘fana’ di dalam sifat-sifat. Maksudnya adalah, tidak ada yang memiliki kehidupan, tidak ada yang memiliki pengetahuan, tidak ada yang memiliki kemampuan, tidak ada yang memiliki kehendak, tidak ada yang memiliki pendengaran, tidak ada yang memiliki penglihatan, dan tidak ada yang memiliki pembicaraan. Pada hakekatnya semuanya tidak mempunyai itu semua kecuali milik Allah. Ketiga, ‘fana’ di dalam dzat. Maksudnya, secara keseluruhan tidak ada yang berwujud kecuali wujudnya Allah. Merekapun membacakan sebuah sya’ir terkait dengan hal itu;

فَيَفْنَــى ثــم يفنــى ثــم يفنــى . فكــان فَنــاؤُهُ عَيْــنَ الْبَقَــاء

‘Maka menjadi ‘fana’ (melebur kepada Allah) hamba tersebut. Lalu dia menuju kepada ‘fana’ berikutnya. Kemudian menuju kepada ‘fana’ selanjutnya. ‘Fana’ nya dia benar-benar berada kekal dalam Dzat Allah’

Sayyidi Muhyiddin berkata;

مَنْ شَهِدَ الخَلْقَ لا فِعْلَ لهم فقدْ فَازَ , ومنْ شَهِدَهم لا حَياةَ لهم فقدْ حَازَ , ومنْ شهدهم عَيْنَ العَدَمِ فقدْ وَصَلَ.

‘Barang siapa yang melihat makhluk dengan tanpa memiliki daya untuk berbuat maka ia telah beruntung. Barang siapa yang melihat makhluk dengan tanpa memiliki sifat kehidupan maka ia telah mendapatkan. Barang siapa yang melihat makhluk dengan betul-betul ketiadaan maka ia telah sampai’

Terkait dengan makna ini merekapun membacakan sebuah syi’ir;

مَنْ أَبْصَــرَ الْخَلــْقَ كَالسَّــرَابِ . فَقَــدْ تَــرَقَّــى عَــنِ الْحِجَــــابْ
إِلَــــى وُجُــــوْدٍ يَــــراهُ رَتْقًــــا . بِــــلَا ابْتِعــــادٍ ولا اِقْتِـــــرابْ
وَلَــــمْ يُشــــاهِـــــدْ بِــهِ سِــواهُ . هُنــــاك يُهْـــدَى إلى الصَّـوَابْ
فَـــــلا خِطَـــــابٌ بِــــهِ إليــــهِ . ولا مُشِيْــــــرٌ إلـــــى الْخِطـابْ

‘Barang siapa yang melihat makhluk laksana fatamorgana. Maka sungguh ia telah menapaki untuk meninggalkan hijab (penghalang).
Menuju kepada Wujud yang dilihatnya dalam keadaan memperbaiki. Tanpa menjauh juga tanpa mendekat.
Dia tidak melihat kecuali kepada-Nya. Di sana ia diberi petunjuk menuju kepada kebenaran.
Maka tidak ada pembicaraan untuk sampai kepada-Nya. Tidak ada pula yang memberikan petunjuk untuk dapat berbicara kepada-Nya’

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *