Pertemuan 1, Surat Al-FatihahTafsir Jalalain, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

Pertemuan 1, Surat Al-Fatihah
Tafsir Jalalain, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi
Pengajian Yasinan, Blok B, Perum. Wahana Pondok Ungu, Babelan, Bekasi.
Kamis, 20 Agustus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

سورةُ الفاتِحَةِ
Surat Al-Fatihah

مَكِيَّةٌ. سبعُ اياتٍ بِالبسملةِ إِنْ كانتْ منها, والسَّابِعةُ (صِرَاطَ الَّذِيْنَ) إِلى اخِرِها وإِنْ لَمْ تكنْ مِنْها, فالسَّابِعةُ (غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ) إِلى اخِرِها. وَيُقَدَّرُ في أَوَّلِها : قُوْلُوْا. لِيَكُوْنَ مَا قَبْلَ (إِيَّاك نَعْبُدُ) مُنَاسِبًا لَهُ بِكَوْنِهَا مِنْ مَقُوْلِ الْعِبَادِ.
Surat Al-Fatihah termasuk kelompok surat yang diturunkan di Mekah. Terdiri dari tujuh ayat bila بسم الله الرحمن الرحيم termasuk ke dalam surat Al-Fatihah. Ayat yang ketujuh adalah, صراط الذين أنعمتَ عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضّالين . Jika بسم الله الرحمن الرحيم bukan bagian dari surat Al-Fatihah maka ayat yang ketujuh adalah, غير المغضوب عليهم ولا الضّالين . Bila ‘Basmalah’ bukan bagian dari surat Al-Fatihah maka kalimat yang dikira-kira di awal surat adalah, قُوْلُوْا (ucapkanlah olehmu), agar ayat-ayat sebelum إِيَّاك نَعبد (Hanya kepada-Mu kami beribadah) menjadi sesuai sebagai ucapan para hamba.
بسم الله الرحمن الرحيم
Aku mulai dengan menyebut nama Allah sebelum mengingat kepada selain-Nya. Seraya memohon pertolongan kepada-Nya atas seluruh persoalanku. Sesungguhnya Dia Maha Mampu atas segala sesuatu. Maha Pengasih, Maha Penyayang.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ – جُمْلَةٌ خَبَرِيَةٌ قَصَدَ بِهَا الثَّنَاءُ على اللهِ بِمَضْمُونِهَا مِنْ أنّه تعالى مالِكٌ لِجَمِيعِ الْحمدِ مِن الْخَلْقِ, أو مُسْتحِقٌّ لِأَن يحمَدوه, واللهُ عَلَمٌ على المعبودِ بحقٍّ
الحمد لله , adalah jumlah khobariah yang bertujuan untuk memuji kepada Allah dengan arti yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Ta’ala adalah pemilik seluruh pujian yang datangnya dari makhluk, atau yang mempunyai hak agar hamba memuji kepada-Nya. Allah adalah nama yang wajib disembah dengan sebenar-benarnya.

رَبِّ الْعالمين- أي مالكِ جميعِ الْخَلْقِ من الإنْسِ والْجِنِّ والملائكةِ والدوابِ وغيرِهِمْ, وكلٌّ منها يُطْلَقُ عليه عَالَمٌ, يُقالُ: عالمُ الإنسِ, وعالمُ الجِنِّ, إلى غيرِ ذلك. وغَلَبَ في جَمْعهِ بالياءِ والنونِ أُولِي العِلْمِ على غيرِهم, وهو من العلامةِ لأنّه علامةٌ على مُوْجِدِهِ.
ربّ العالمين , maksudnya adalah Dia yang memiliki seluruh makhluk, baik manusia, jin, malaikat, hewan dan yang lainnya. Semua itu disebut dengan alam. Maka dikatakan, alam manusia, alam jin dan lainnya. Biasanya kalimat العالمين , bentuk jama’nya dengan mendapat tambahan huruf ‘Ya’ dan ‘Nun’, lebih dominan digunakan untuk makna yang memiliki pengetahuan ketimbang yang lainnya. Asal kata العالمين adalah العَلَامَة (tanda), sebab keberadaannya menjadi tanda atas Yang Menciptakannya.

الرّحمنِ الرّحيمِ – أي ذي الرحمةِ وهي إِرادةُ الخيرِ لأهْلِهِ .
الرحمن الرحيم , maksudnya adalah Yang Memiliki kasih sayang. Kasih sayang adalah keinginan untuk berbuat baik bagi pemiliknya.

ﻣ︣لك يَوم الدّين – أي الْجزاء وهو يومُ الْقِيامةِ, وخُصَّ بالذِّكْرِ لأنه لا مَلَكَ ظاهرًا فيه لِأحَدٍ إلّا للهِ تعالى, بِدلِيْلِ (لِمَنِ الْمُلْكُ اليومَ للهِ) وَمَنْ قَرَأَ (مَالِكِ) فمعناه مالِكُ الأَمْرِ كُلِّهِ في يومِ الْقِيامَةِ: أي هو مَوْصُوفٌ بذلك دائماً كـ (غَافِرِ الذَّنْبِ) فصَحَّ وقوعُهُ صفةً لمعرِفةٍ.
مالك يوم الدين , maksudnya adalah balasan, yaitu di hari kiamat. Kalimat tersebut secara khusus disebutkan, sebab realitasnya memang tidak ada bagi yang lainnya kecuali Allah Ta’ala yang memiliki hari akhir, berdasarkan firman Allah, لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَومَ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّار (Allah berfirman, “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan). Barang siapa yang membaca مَالِك , maka maknanya adalah Yang Memiliki semua urusan di hari kiamat. Dia bersifatan dengan itu selamanya, sebagaimana kata غَافِرُ الذَّنْبِ (Yang Mengampuni setiap dosa). Maka dibenarkan jika kalimat مَالِكِ menjadi sifat bagi isim ma’rifat.

إيَّاك نعْبُدُ وإيّاك نستعين – أي نَخُصُّك بِالْعِبادةِ مِن تَوْحيْدٍ وغَيْرِهِ ونَطْلُبُ الْمَعُوْنَةَ على العبادةِ وغيرها.
إياك نعبد وإياك نستعين , maksudnya adalah, hanya kepada-Mu kami beribadah dengan meng-Esakan-Nya dan lainnya. Kami meminta pertolongan dalam hal ibadah dan yang lainnya.

اهْدِنا الصِّراطَ الْمُسْتقيمَ – أي أَرْشِدْنا إليه, ويُبْدَلُ منه.
Berikan kami hidayah menuju jalan yang lurus. Maksudnya, tunjukkan kami ke jalan yang lurus. Kalimat tersebut kemudian dijadikan ‘Mubdal Minhu’.

صِراطَ الَّذينَ أنْعَمْتَ عليهم – بالهِدايةِ, ويُبْدَلُ من (الذين) بِصِلَته (غَيْرِ الْمغْضُوبِ عليهم) وهم اليَهودِ. – وَلا – وغَيْرِ الضَّالِّيْنَ – وهم النَّصارى. ونُكْتَةُ الْبَدَلِ إفادةُ أنَّ الْمُهْتَدِيْنَ لَيْسُوا يهودا ولا نصارى.
واللهُ أَعْلمُ بالصّواب وإليه الْمَرْجِعُ والْﻣﺂبُ
صراط الذين ÷نعمت عليهم (yaitu jalannya orang-orang yang benar-benar telah Engkau berikan kenikmatan kepada mereka) dengan melalui hidayah. Lafaz الذين beserta ‘Silah’nya menjadi ‘Mubdal Minhu’, dengan ‘Badal’nya adalah kalimat غير المغضوب عليهم (bukanlah jalan orang-orang yang dimurkai), yaitu orang-orang Yahudi. ولا الضالين , maksudnya adalah وغير الضالين (dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat), yaitu orang-orang Nasrani. Makna yang agung yang didapat dari ‘Badal’ di sini yaitu berfaedah bahwa orang-orang yang mendapatkan itu bukanlah orang-orang Yahudi bukan pula orang-orang Nasrani.

وصلّى اللهُ على سيِّدِنا محمدٍ وعلى ﺁلِه وصحبه وسلَّمَ تسْلِيْمًا كثيرًا دائمًا أبدًا, وحسبُنا اللهُ ونِعْم الوكيلُ, ولا حولَ ولا قُوَّةَ إلا باللهِ العَليِّ العظيمِ.
Mudah-mudahan rahmat serta penghormatan Allah selalu tercurahkan teruntuk junjungan kita, Nabi Muhammad, keluarga beserta para sahabatnya, dengan penghormatan yang banyak lagi abadi. Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Agung.

Wa Allahu A’lam …

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *