Pertemuan Ke – 20 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 20
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 25 Agustus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجَبَهُ شَيْءٌ , وهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ

‘Bagaimana mungkin bisa tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, sementara Dia yang memperlihatkan segala sesuatu?’
Dengan cahaya keberadaan-Nya Dia menyinari segala sesuatu. Sungguh segala sesuatu itu berada dalam kegelapan. Sebagaimana yang telah dijelaskan di muka.

وَكَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجَبَهُ شَئٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيْءٍ

‘Dan bagaimana mungkin dapat tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, sementara Dia lebih dominan atas segala sesuatu?’
Hingga orang-orang mendapatkan petunjuk-Nya dari segala sesuatu yang terlihat oleh mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Fussilat ayat 53, سَنُرِيْهِمْ ﺁيَاتِنَا فِى اﻟﺂفَاقِ وَفِي اَنْفُسِهِمْ (Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri)

وَكَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجَبَهُ شَيْءٌ وهو الّذي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ

‘Dan bagaimana mungkin dapat tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, sementara Dia yang terlihat di segala sesuatu?’
Sebab Dia menjelma di segala sesuatu dengan sifat-sifat baik-Nya dan nama-nama-Nya.

كَيْفَ يتصوّرُ أنْ يحجبه شيءٌ وهو الذي ظهر لِكُلِّ شيءٍ

‘Bagaimana mungkin bisa tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, sementara Dia terlihat bagi segala sesuatu?’
Dia terlihat di dalam berbagai bentuk segala sesuatu tersebut. Oleh karenanya ada yang bersujud teruntuk-Nya, ada yang mengucapkan tasbih untuk memuji-Nya. Namun kita tidak mengetahui hal tersebut.

كيفَ يتصوّرُ أنْ يحْجبَهُ شَيْءٌ وهو الظَّاهِرُ قَبْلَ وُجُوْدِ كُلِّ شيءٍ

‘Bagaimana mungkin dapat tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, sementara Dia yang terlihat sebelum adanya segala sesuatu?’
Oleh sebab kenyataan nama-Nya ada sejak azali (dahulu) hingga tanpa batas.

كيف يتصوّرُ أنْ يَحجبَه شيءٌ وهو أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شيءٍ

‘Bagaimana mungkin dapat tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, sementara Dia lebih terlihat dari segala ssuatu?’

كيف يتصوّرُ أنْ يَحجبَه شَيْءٌ وهو الْواحدُ الذي ليسَ معهُ شيءٌ

‘Bagaimana mungkin dapat tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, sedangkan Dia Esa yang tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya?’

كيف يتصوّرُ أنْ يحجبهُ شيءٌ وهو أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شيءٍ

‘Bagaimana mungkin dapat tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, sementara Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu?’

كيف يتصوّرُ أنْ يَحْجَبَهُ شيءٌ ولَوْلَاهُ ما كانَ وُجُوْدُ كُلِّ شيءٍ

‘Bagaimana mungkin dapat tergambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi-Nya, seandainya Dia tidak ada maka tidak mungkin ada segala sesuatu?’

يَا عَجَبًا , كيفَ يَظْهَرُ الْوُجُوْدُ في العَدَمِ

‘Sungguh ajaib!, bagaimana bisa terlihat sesuatu yang berwujud padahal dia berasal dari ketiadaan?’

أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الْحَادِثُ مَعَ مَنْ لهُ وَصْفُ الْقِدَمِ

‘Atau bagaimana dapat stabil sesuatu yang bahru bila bersama dengan Dzat yang mempunyai sifat terdahulu?’

Sebab sesuatu yang batil, palsu tidak mungkin bisa terealisasi ketika tampak kebenaran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Israa ayat 81;

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

‘Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap’

Firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Anbiya ayat 18;

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هَوَ زَاهِقٌ

‘Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu yang batil lenyap’

Aku katakan, “Pasal ini, dari perkataannya pengarang اَلْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ … sampai pada tulisannya saat ini, Muallif (penulis) membuat kalam badi’ (susunan yang sangat baik). Perkataan penulis dapat meyenangkan mata, membuat nyaman pendengaran. Dia memaparkan semua hal-hal yang terkait dengan penglihatan, menghilangkan setiap penghalang, baik gelap maupun cahaya. Memperlihatkan kepadamu yang hak dengan sebenar-benarnya melihat. Mengangkatmu dari maqam iman kepada derajat ihsan yang tertinggi. Semuanya itu di dalam lafaz yang sangat ringkas, ibarat yang paling jelas, penjelasan yang paling sempurna, dan isyarat yang paling halus. Seandainya tidak terdapat di dalam kitab ini terkecuali pasal ini, niscaya kitab ini sudah dianggap mencukupi. Semoga Allah menempatkan kita pada tempatnya penulis, di tempat kebaikan”.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *