Hukum-Hukum Syar’i Tentang Sihir Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 101-103

Pertemuan ke-27

الأحكامُ الشرْعِيَّةُ
Hukum-hukum Syar’i tentang sihir dalam surat Al-Baqarah ayat 101-103

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 30 Agusutus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

أَلتَّرْجِيْح
Pendapat yang lebih diunggulkan antara pendapat Mu’tazilah dan Jumhur (mayoritas ulama)

Dari dalil-dalil yang diajukan kedua belah pihak, maka dapat kita lihat bahwa dalil Jumhur (mayoritas ulama) lebih kuat dari argumentasi yang dikemukakan oleh Mu’tazilah. Sesungguhnya sihir mempunyai realitas (nyata) dan dapat mempengaruhi jiwa seseorang. Terjadinya perasaan benci antara suami-istri dan tercerai berainya seseorang dari keluarganya yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’anul Karim, itu tidak lain merupakan satu dari sekian pengaruh sihir. Seandainya sihir tidak berpengaruh maka tidak mungkin Al-Qur’an memerintahkan untuk berlindung dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan buhul-buhul (semacam benang halus berupa kabel ghaib yang menghubungkan benda sihir, seperti jimat, boneka dan lainnya terhubung dengan target). Namun sihir ini mayoritas meminta bantuan kepada arwah setan-setan sehingga kita dapat memastikan bahwa sihir dapat berpengaruh serta membawa kesengsaraan. Namun demikian, pengaruh dan kesengsaraan yang disebabkan oleh sihir tidak mungkin bisa terealisasi untuk seseorang terkecuali dengan izin Allah. Sihir merupakan salah satu sebab dari berbagai macam sebab-sebab yang nyata. Semua yang menjadi sebab menunggu kepada kehendak yang menciptakan semua sebab, yaitu Rabbul ‘Alamin, Allah Jalla wa ‘Ala.

Terkait dengan dalil-dalil yang diajukan oleh Mu’tazilah bahwa terjadi ketidakjelasan (kabur) antara mu’jizat dan sihir bila kita mengatakan bahwa sihir adalah nyata. Kitapun mengatakan, bahwa perbedaan di antara keduanya sudah teramat jelas. Sesungguhnya mu’jizat para Nabi Alaihimussalam bersifat hakikat (nyata), artinya nyata demikian, baik zahirnya maupun batinnya. Ketika kamu merenungkan secara mendalam maka kamu akan dapatkan argumentasi yang nyata bahwa mu’jizat betul-betul nyata. Adapun sihir, zahirnya berbeda dengan batinnya. Apa yang terlihat pada sihir bukanlah sebagai bentuk yang hakiki (nyata). Itu bisa diketahui dengan cara perenungan yang mendalam. Oleh karena itu Al-Qur’an mengomentari perihal para penyihir yang membuat takut manusia, mereka mendatangkan sihir yang menakjubkan. Padahal apa yang mereka datangkan tidak lain merupakan sesuatu yang mereka sembunyikan dan berupa khayalan belaka.

Al-Allamah, Al-Qurtubi berkata, “Tidak ada seorangpun yang mengingkari bahwa di tangan penyihir terlihat hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan pada umumnya yang tidak mampu dilakukan oleh manusia, diantaranya membuat orang lain sakit, membuat retak hubungan sesama, menghilangkan akal, membuat anggota tubuh tidak normal, dan lainnya dari sesuatu yang secara argumentasi mustahil dilakukan oleh manusia.”

Mereka berkata, “Yang sering kali di dalam sihir yaitu tubuh penyihir mengecil sehingga dapat masuk ke lubang yang kecil di dinding maupun ke pintu kecil yang terdapat di pintu gerbang, berdiri di ujung bambu, berlari di atas benang yang kecil, terbang di udara, berjalan di atas air, mengendarai anjing, dan lainnya. Pada kenyataannya, sihir bukan menjadi penyebab terjadinya itu semua, bukan menjadi illat (alasan) terjadinya itu, bukan menjadi sebab yang melahirkan itu semua, dan tidak pula penyihir menjadi aktor yang berdiri sendiri yang menciptakan sihir. Allah lah yang meciptakan semua itu. Dia yang menciptakan itu semua ketika adanya sihir. Sebagaimana Dia ciptakan rasa kenyang ketika makan. Dia ciptakan rasa segar hilang dari haus ketika meminum air.”

Al-Qurtubi kemudian berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa apa yang Allah telah perbuat bukanlah termasuk sihir, di antaranya diturunkan belalang, kutu, katak, membelah lautan, dan merubah tongkat menjadi ular yang terjadi pada masa Nabi Musa, menghidupkan orang yang telah mati pada masa Nabi Isa, membuat binatang bisa berbicara terjadi pada masa Nabi Sulaiman, dan lainnya yang merupakan keagungan tanda-tanda kerasulan mereka Alaihimussalam. Ini merupakan bagian yang wajib dipastikan bahwasanya tidak terjadi di dalam sihir. Sedangkan perbuatan sihir bukanlah Allah sebagai pelakunya.”

Berkata Abu Hayyan, terjadi perbedaan pendapat tentang haikat sihir;
Pertama, sihir membalik serta menipu mata manusia, menyerupai mu’jizat dan karamah, seperti mampu terbang, memotong jarak-jarak pada malam hari.
Kedua, sihir hanya sebatas tipu muslihat, menyembunyikan hal-hal yang sebenarnya, dan sulapan. Kesemuanya tidak mempunyai realitas (tidak nyata). Ini sebagaimana pendapat Mu’tazilah.
Ketiga, sihir merupakan suatu perkara yang dimulai dengan cara menipu mata. Sebagaimana yang dilakukan oleh para penyihir Firaun yang memasukkan air raksa ke tali-tali dan tongkat-tongkat, mereka lalu mengalirkan api di bawahnya. Sebab adanya hawa panas tali-tali dan tongkat-tongkat tersebut kemudian bergerak dan berjalan.
Keempat, sihir merupakan satu bentuk dari pekerjaan jin dengan meminta pertolongan kepada mereka. Merekalah yang merubah sihir menjadi bentuk yang halus, lembut, samar dan tersembunyi.
Kelima, sihir berasal dari benda-benda yang dikumpulkan kemudian dibakar dan dibacakan di atasnya nama-nama dan mantera-mantera lalu digunakan untuk perkara-perkara sihir.
Keenam, asal sihir adalah mantera-mantera yang didasarkan kepada pengaruh dari bintang-bintang khusus atau meminta bantuan kepada setan-setan untuk mempermudah perkara yang sulit.
Ketujuh, sihir terdiri dari kalimat-kalimat yang bercampur dengan perbuatan kufur. Bersandar kepada ini diantaranya sulapan, sihir Naranjiat, jampi-jampi dan lainnya.

Abu Hayyan kemudian berkata, di zaman sekarang ini, meskipun kita telah mengetahui melalui buku-buku bahwa hal tersebut tidak lain merupakan dusta, membuat-buat, tidak mempunyai akibat terhadap apapun, dan sama sekali tidak dapat dibenarkan. Demikian pula jampi-jampi dan tradisi pukul mandal, yaitu tradisi mengetahui pelaku pencurian dengan media mangkok berisi air yang dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an kemudian disebutkan nama pencuri atau ciri-cirinya. Namun demikian, manusia malah mempercayai dengan hal-hal tersebut dan mendengarkannya dengan penuh keyakinan.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *