Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 6)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 6)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 29 Agustus 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

فصلٌ فى شُروط الصلاة

Pasal tentang syarat-syarat shalat

فَرْعٌ –
لَوْ أَدْخلَ الْمُتَوَضِّئُ يَدَه بِقَصْدِ الْغُسْلِ عَنِ الْحدَثِ أو لا بِقَصْدٍ بعد نِيَّةِ الجُنُبِ أو تثْلِيْثِ وجهِ المُحدِثِ أو بعد الغسلة الأولى إن قَصدَ الإقتصارَ عليها بلا نيةِ اغترافٍ ولا قصدِ أخْذِ الْماءِ لغرضٍ ﺁخرَ صارَ مستعملا بالنِّسبةِ لغير يدِه فله أن يغسِلَ بما فيها باقىَ ساعدِها

Seandainya orang yang berwudlu memasukkan tangannya dengan niat membasuh dari hadas atau tanpa niat setelah niat junub (hadas besar) atau memasukkannya tangan orang yang berwudlu setelah mentigakalikan membasuh wajahnya atau setelah basuhan yang pertama jika berkeinginan mencukupkan dengan hanya satu basuhan dengan tanpa niat menciduk dan tanpa bermaksud mengambil air untuk tujuan yang lain (seperti untuk minum) maka air tersebut menjadi musta’mal dilihat dari sisi selain tangan. Maka diperbolehkan untuk membasuh sisa bagian lengan tangannya.

و- غير (متغير) تغيرا (كثيرا) بحيث يمنع إطلاق اسم الماء عليه بأن تغير أحد صفاته من طعم أو لون أو ريح ولو تقديريا أو كان التغير بما على عضو المتطهر فى الأصح وإنما يؤثر التغير إن كان (بخليط) أى مخالط للماء وهو ما لا يتميز فى رأى العين

Syarat wudlu yaitu dengan air yang mutlak yang tidak musta’mal dan kondisi air tidak berubah dengan perubahan yang banyak sehingga dapat menghalangi kemutlakan nama air. Perubahan yang banyak tersebut dapat diketahui dari perubahan salah satu sifat air, yaitu rasa, warna dan bau. Meskipun perubahan air dapat diketahui melalui perkiraan dengan sesuatu yang berlawanan dengan karakteristik air. Atau adanya perubahan air disebabkan oleh sesuatu yang ada di anggota wudlunya orang yang bersuci maka tidak dapat dibuat untuk berwudlu menurut pendapat yang lebih tepat. Perubahan air dapat berpengaruh terhadap sahnya wudlu jika ada sesuatu yang bercampur dengan air. Yang dimaksud sesuatu yang bercampur dengan air di sini yaitu sesuatu yang tidak dapat dibedakan oleh pandangan mata (tidak mungkin terpisah dari air)

طاهر- وقد (غنى) الماء (عنه) كزعفران وثمر شجر نبت قرب الماء وورق طرح ثم تفنت لا تراب وملح ماء وإن طرحا فيه ولا يضرّ تغير لا يمنع الاسم لقلته ولو احتمالا بأن شك أهو كثير أو قليل وخرج بقولى بخليط المجاور وهو ما يتميز للناظر كعود ودهن ولو مطيبين ومنه البخور وإن كثر وظهر نحو ريحه خلافا لجمع ومنه أيضا ماء أغلى فيه نحو بر وتمر حيث لم يعلم انفصال عين فيه مخالطة بأن لم يصل إلى حد يحدث له اسم ﺁخر كالمرقة ولو شك فى شيء أمخالطة هو أم مجاور له حكم المجاور وبقولى غنى عنه ما لا يستغنى عنه كما فى مقره وممره من نحو طين وطحلب مفتت وكبريت وكالتغير بطول المكث أو بأوراق متناثرة بنفسها وإن تفنت وبعدت الشجرة عن الماء

Perubahan air yang menyebabkan tidak dapat digunakan untuk bersuci yaitu disebabkan oleh benda yang suci yang bercampur dengan air pada saat air tidak membutuhkannya, seperti kunyit, buah pohon yang tumbuh berdekatan dengan air, dan dedaunan yang dengan sengaja dilemparkan ke air kemudian hancur. Perubahan air tidak bermasalah bila disebabkan oleh debu dan garam yang berada di dalam air meskipun keduanya sengaja dilemparkan ke dalam air.

Tidak dipersoalkan adanya perubahan air ketika tidak menghalangi kemutlakan nama air oleh sebab perubahan pada air tidak banyak (sedikit), meskipun sedikitnya perubahan pada air itu bersifat dugaan, apakah banyak atau sedikit? Ucapanku yang mengatakan ‘sesuatu yang bercampur’ meniadakan kepada ‘sesuatu yang berdampingan’, yaitu sesuatu yang dapat dibedakan oleh pandangan mata (yang mungkin untuk dipisahkan dari air), seperti dahan kayu dan minyak, meskipun wangi keduanya. Termasuk ‘sesuatu yang berdampingan’ yaitu dupa/kemenyan, meskipun banyak dan terasa baunya. Namun menurut sekelompok ulama bau kemenyan dapat merusak kesucian air. Termasuk juga ‘sesuatu yang bercampur’ yaitu air yang digunakan untuk merebus semisal gandum atau kurma, sekiranya tidak diketahui adanya pemisahan benda yang bercampur dengan air, dan dengan catatan adanya perubahan tidak melampaui batas kewajaran hingga menimbulkan nama lain bagi air seperti ‘kuah’. Seandainya ada keraguan pada diri seseorang tentang hukumnya sesuatu, apakah sesuatu itu ‘sesuatu yang bercampur’ atau ‘sesuatu yang berdampingan’? Maka berlaku baginya hukum ‘sesuatu yang berdampingan’.

Ucapanku tentang ‘sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh air’ yang menyebabkan air tidak dapat digunakan untuk bersuci meniadakan ‘sesuatu yang dibutuhkan oleh air’ sehingga air tetap dapat digunakan untuk bersuci, sebagaimana sesuatu yang berada di tempat diam dan tempat berlalunya air, seperti lumpur, lumut yang telah hancur dengan sendirinya (tanpa sengaja dilemparkan), dan belerang. Sama seperti ‘sesuatu yang dibutuhkan oleh air’ yaitu perubahan air disebabkan oleh lama tinggalnya air atau dedaunan yang bertebaran dengan sendirinya, meskipun telah hancur dan pohonan jauh dari air.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *