Pertemuan Ke – 21 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 21
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 1 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ

‘Tidak sedikitpun meninggalkan kebodohan bagi seseorang yang berkeinginan menjadikan waktunya untuk selain sesuatu yang Allah telah perlihatkan baginya’

Apabila Allah Ta’ala telah tempatkan bagi seorang hamba di dalam suatu keadaan yang tidak dicela oleh-Nya maka wajib baginya untuk baik adab di dalam pilihan untuk tetap serta ridho berada dalam keadaan tersebut. Hendaknya takut kepada Allah dalam menjaga adab keadaannya itu. Hendaknya sesuai dengan keinginan Allah Ta’ala dalam kondisi tersebut hingga Allah sendiri yang akan memindahkannya.

Abu Usman Radiallahu Anhu berkata, “Selama empat puluh tahun lamanya, tidak Allah tempatkan diriku di dalam suatu keadaan kemudian aku tidak menyukainya. Tidak pula Allah pindahkan diriku ke selainnya untuk kemudian aku membencinya.”

Sungguh teah berlalu hikayatnya penulis Rahimahullahu Ta’ala bersama dengan gurunya, Abi al-Abbas al-Mursi ketika ia berkeinginan untuk menyendiri dan meninggalkan menyibukkan diri dengan ilmu zohir. Sang gurupun tidak memberikan jawaban. Ini merupakan termasuk hasil ma’rifat kepada Allah. Ketika seseorang tidak menyukai keadaan tersebut dan memperlihatkan diri untuk berpindah serta berkeinginan untuk menjadikan kepada selain dari apa yang telah Allah perlihatkan kepadanya maka sungguh ia telah mencapai puncak kebodohan kepada Tuhannya. Dia telah membuat jelek adab di hadapan Tuhannya Azza wa Jalla. Ini termasuk penentangan bagi seseorang terhadap hukumnya waktu yang telah diisyaratkan oleh para ahli sufi. Orang tersebut menurut ahli sufi telah melakukan dosa besar. Maka wajib baginya untuk berserah diri bagi hukum (ketentuan) Allah Ta’ala di waktu tersebut. Inilah adab ketuhanan dan merupakan tuntutan untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Ini merupakan salah satu makna kata ‘waktu’ menurut istilah ahli sufi.

Berkata Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi Radiallu Anhu, “Mereka berkeinginan dengan ‘waktu’, yaitu kondisi yang Allah telah pilihkan kepada mereka, bukan keadaan yang mereka pilih sesuai keinginan mereka. Merekapun berkata, Fulan berada di dalam hukumnya waktu” Maksudnya, Fulan telah berserah diri bagi sesuatu yang ghaib yang terlihat baginya tanpa punya pilihan teruntuk dirinya.

Persoalan ini bukanlah tentang kewajiban hamba kepada Allah, yang di dalamnya ada perintah dan ketentuan yang merupakan haknya Allah. Sebab mengabaikan sesuatu yang telah diperintahkan kepadamu dan memindahkan persoalan yang berdasarkan perkiraan serta meninggalkan memperhatikan kelalaian yang disebabkan olehmu, itu semua telah keluar dari agama.

Termasuk ucapan mereka, اَلْوَقْتُ سَيْفٌ (waktu laksana pedang), maksudnya sebagaimana pedang yang dapat memotong. Maka ‘waktu’ dengan apa yang Allah telah tentukan dan tetapkan dapat mengalahkannya.

Ada yang mengatakan, السيف (pedang) itu terasa lembut bila disentuh, ketajamannya dapat memotong. Barang siapa yang besikap lembut maka akan selamat. Dan barang siapa yang bertindak kasar maka ia akan tercabut dari akarnya (celaka). Demikian juga waktu, barang siapa yang berserah diri dengan hukum (ketentuan) waktu maka dia akan selamat. Dan barang siapa yang menantangnya dengan tidak ridho maka ia akan jatuh tersungkur.

Tentang itu, para ahli sufi membacakan sebuah syair;

وَكَـالسَّيْـفِ إِنْ لَايَنْتَـهُ لَانَ مَسُّـهُ . وَحَـدَّهُ إِنْ خَـاشَنْتـَهُ خَشْنَـانٌ

‘Seumpama pedang, jika kamu bersikap halus kepadanya maka menjadi halus untuk disentuhnya. Jika bersikap kasar kepadanya maka ketajamannya bisa menjadi kasar’

Barang siapa yang ditolong oleh waktu maka waktu menjadi keuntungan di dalam waktunya tersebut. Barang siapa yang dibuat susah oleh waktu maka waktu baginya adalah kebencian. Ini adalah ungkapan Imam Abu al-Qasim. Sesuai dengan apa yang telah diungkapkan oleh pengarang kitab.

Wa Allahu Al-Muwaffiq

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *