Hukum-Hukum Syar’i Tentang Sihir Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 101-103

Pertemuan ke-28

الأحكامُ الشرْعِيَّةُ
Hukum-hukum Syar’i tentang sihir dalam surat Al-Baqarah ayat 101-103

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 6 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

أَلْحُكْمُ الثَّانِي
Hukum yang kedua
Apakah diperbolehkan untuk mempelajari sihir dan mengajarkannya kepada orang lain?

Sebagian ulama berpendapat, bahwa mempelajari sihir hukumnya adalah mubah. Berdasarkan argumentasi bahwa malaikat telah mengajarkan sihir kepada manusia sebagaimana yang dikisahkan oleh Al-Qur’an. Sejalan dengan pendapat ini adalah pendapatnya Al-Fakhrurrazi yang merupakan ulama Ahlussunnah.

Jumhur (mayoritas ulama) menghukumi haram bagi seseorang yang mempelajari atau mengajarkan sihir. Sebab Al-Qur’anul Karim membicarakan sihir pada tempat yang tercela dan menjelaskan bahwa sesungguhnya sihir termasuk perbuatan kufur, bagaimana mungkin sihir menjadi halal untuk dipelajari? Sebagaimana Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam menganggap sihir termasuk ke dalam dosa-dosa besar yang dapat mencelakakan. Di dalam hadis saheh, sabda Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam;

إِجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ , قَالُوْا وَمَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : الشِّرْكُ بِاللهِ , وَالسِّحِرُ , وَقَتْلُ النَّفْسِ التي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ , وَأَكْلِ الرِّبَا , وَأَكْلِ مَالِ الْيَتِيْمِ , وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ , وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ.

“Jauhilah tujuh perkara yang mencelakakan!” Para sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan untuk dibunuh terkecuali dengan cara yang dibenarkan, memakan riba, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah yang baik-baik yang tidak tahu menahu”

Al-Alusi berkata, “Dikatakan bahwa mempelajari sihir diperbolehkan. Imam Ar-Razi cenderung kepada pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa orang-orang yang mendalam secara keilmuan sepakat bahwa mengetahui sihir tidaklah termasuk perbuatan tercela dan terlarang. Karena ilmu pada hakekatnya adalah mulia berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala dalam surat Az-Zumar ayat 9;

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ والَّذِيْنَ لا يَعْلمون

‘Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Seandainya sihir tidak diketahui maka tidak mungkin dapat membedakan antara sihir dan mu’jizat. Bagaimana mungkin mempelajari sihir adalah haram dan perbuatan yang tercela?

Sebagian ulama meriwayatkan kepada wajibnya mempelajari sihir bagi pihak yang punya otoritas fatwa sehingga ia dapat mengetahui sihir mana yang dapat membunuh dan yang tidak dapat membunuh. Berdasarkan itu ia kemudian berfatwa terhadap wajibnya qishos.

Al-Alusi kemudian berkata, “Yang benar menurutku adalah pendapat Jumhur ulama yang mengatakan bahwa sihir adalah haram, kecuali ada dorongan yang bersifat syar’i. Adapun pendapat yang diungkapkan oleh Imam Ar-Razi Rahimahullah, butuh beberapa perenungan;

Pertama, sesungguhnya kita tidak dapat mengklaim bahwa sihir termasuk perbuatan yang buruk secara dzatnya. Buruknya sihir semata-mata karena mempertimbangkan akibatnya. Maka keharaman sihir termasuk kedalam kaidah ‘Sadduz Zara’i’, yaitu demi mencegah sesuatu yang membahayakan yang kelak akan terjadi. Bukankah banyak persoalan yang diharamkan sebab ada motif lain?

Kedua, untuk mengetahui perbedaan antara sihir dan mu’jizat dengan cara terlebih dahulu mempelajari ilmu sihir merupakan sesuatu yang tercegah. Tidakkah engkau melihat bahwa mayoritas ulama, bahkan semua ulama, mereka mengetahui perbedaan antara keduanya tanpa harus terlebih dahulu mengetahui ilmu sihir. Seandainya mempelajari ilmu sihir itu wajib maka engkau akan melihat manusia yang paling mengetahui tentang sihir yaitu mereka yang berada di periode pertama umat Islam.

Ketiga, sesungguhnya apa yang telah diriwayatkan oleh sebagian ulama tidak dapat dibenarkan. Sebab memberikan fatwa bagi seorang mufti tentang wajib atau tidak wajibnya qishos tidak kemudian mengharuskan dirinya untuk mengetahui ilmu sihir. Sebab bentuk pemberian fatwa bagi seorang mufti – sesuai dengan apa yang telah disebutkan oleh al-Allamah Ibnu Hajar – yaitu jika dua saksi yang adil yang keduanya mengetahui sihir dan telah bertaubat dari sihir maka biasanya pelaku sihir dapat dibunuh. Jika sudah demikian maka mufti dapat memberikan fatwa agar pelaku sihir dibunuh. Jika tidak demikian maka tidak terjadi hukum qishos.

Abu Hayyan berkata, adapun hukumnya sihir, jika mengagungkan sesuatu selain Allah, baik kepada bintang-bintang dan setan-setan atau menyandarkan setiap kejadian yang merupakan ciptaan Allah kepada bintang-bintang atau setan-setan maka itu merupakan perbuatan kufur menurut konsensus ulama. Tidak halal untuk dipelajari maupun diamalkan. Demikian pula tidak bisa dibenarkan mempelajari sesuatu yang bertujuan terjadinya pertumpahan darah atau untuk tujuan memisahkan ikatan suami istri maupun kerabat.

Adapun bila tidak diketahui tujuan dari mempelajari sihir atau hanya sebatas asumsi-asumsi maka secara pandangan zahir tidak diperbolehkan untuk mempelajarinya. Sesuatu yang bersifat khayalan, dusta dan sulapan maka sepatutnya untuk tidak mempelajarinya sebab termasuk perkara yang batil. Jika tujuannya hanya sebatas hiburan, permainan dan untuk melapangkan manusia dalam rangka meringankan beban pekerjaan kesehariannya maka mempelajarinya adalah makruh.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *