Pertemuan Ke – 22 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 22
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 8 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ على وُجُوْدِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ

‘Kamu akan beralih kepada amal-amal baik saat datangnya waktu luang. Yang demikian itu termasuk kebodohan seorang hamba’

Apabila seorang hamba terlibat di dalam urusan dunianya. Dia dalam kondisi sibuk sehingga tercegah untuk melakukan amal-amal baik. Dia akan beralih untuk melakukan amal baik jika datang waktu luangnya. Diapun berkata, “Apabila datang waktu luang maka aku akan berbuat baik” Maka yang demikian itu termasuk kebodohan dirinya.

‘Ru’unah’ merupakan bagian dari kebodohan. Adapun kebodohan seorang hamba terdiri dari berbagai macam cara;

Pertama, mendahulukan dunia dibandingkan akhirat. Bagian ini bukanlah termasuk dari keadaannya orang-orang yang berakal yang beriman. Sebab menyalahi dari yang menjadi tuntutan Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-A’la ayat 16;

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحياةَ الدُّنيا والأخِرةُ خيرٌ وأَبْقَى

‘Sedangkan kamu (orang-orang kafir) mendahulukan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal’

Kedua, menangguhkan untuk berbuat baik di saat datangnya waktu luang. Sungguh dia tidak mendapati waktu yang tepat. Sampai akhirnya datang kematian merenggut nayawanya sebelum tiba waktu luang. Atau bertambah kesibukannya. Sebab kesibukan-kesibukan dunia dapat menarik dari sebagian kesibukan kepada kesibukan yang lainnya. Sebagaimana dikatakan;

فَمَا قَضَى أَحَدٌ مِنْهَا لُنَانَتَهُ . وَلَا اِنْتَهَى أَرَبٌ إِلّا إلى أَربٍ

‘Tidak akan pernah usai seseorang dari keinginan dunia. Dan tidak akan berakhir keinginan seseorang kecuali berhenti di keinginan yang lain’

Ketiga, menghabiskan sesuatu yang dia cintai dari kehidupan dunia. Seandainya diduga bahwa kehidupan dunia akan kosong oleh sebab melakukan amal baik maka sungguh dia akan berubah pikiran dan melemahkan niatnya. Kemudian dia mengklaim adanya kebebasan dan melihat daya dan kekuatan di seluruh keadannya sehingga memandang remeh kepada persoalan ini. Bahkan wajib baginya untuk bersegera melakukan amal baik bagaimanapun keadaannya. Mempergunakan kesempatan dengan segera sebelum direnggutnya nyawa. Dan menyerahkan kepada Allah agar dipermudah urusan dunianya, dihilangkan penghalang-penghalang yang merintanginya untuk meraih dunia. Alangkah indah ungkapan Ibnu al-Farid terkait dengan ini;

وَعُـدْ مِـنْ قريْـبٍ فاسْتَجِبْ واجْتَنِبْ غَدًا . وشَمِّرْ عنِ السَّاقِ اِجْتهادًا بِنَهْضةٍ

‘Kembalilah dari waktu yang dekat serta mohonlah. Jauhilah kata esok. Singsingkan dengan bersungguh-sungguh untuk bangkit’

وَكُنْ صارِمًا كالْوَقْتِ فَالْمَقْتُ فى عسى . وَإِيَّــاك مَهْـلًا فهــي أخْطَــرُ عِلَّــةٍ

‘Jadilah laksana Singa yang pemberani, seperti halnya waktu. Maka kebencian terdapat dalam kata ‘barang kali’. Takutlah akan kata ‘menunda-nunda’, sebab itu paling gawatnya penyakit’

وَسِـــرْ زَمِنًــا وانْهَــــضْ كَسِيْــرًا فَحَظُّ . ك البِطَالةَ ما أَخَّرْتَ عَزْمًا لِصِحَّةٍ

‘Berjalanlah laksana orang yang sakit menahun. Dan bagkitlah seperti orang yang patah hati. Maka keberuntunganmu akan sia-sia selama engkau menunda-nunda berkeinginan untuk sehat’

وَجُــذَّ بِسَيْــفِ الْعَــزْمِ ســوف فإنْ تَجُدْ . تَجِــدْ نَفَسًــا فالنَّفْسُ إنْ جُدْتَ جَدَّتْ

‘Potonglah dengan pedang yang kuat, yaitu kata ‘akan’. Jika engkau merasa lebih baik maka engkau merasakan keluasan. Jiwa itu akan bernasib baik jika engkau merasa lebih baik’

Wa Allahu Al-Muwaffiq

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *