Hukum-Hukum Syar’i Tentang Sihir Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 101-103

Pertemuan ke-29

الأحكامُ الشرْعِيَّةُ
Hukum-hukum Syar’i tentang sihir dalam surat Al-Baqarah ayat 101-103

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 13 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

أَلْحُكْمُ الثَّالِثُ
Hukum yang ketiga
Apakah seorang penyihir harus dibunuh?

Berkata Abu Bakar Al-Jasshas, “Ulama Salaf sepakat wajib membunuh penyihir. Sebagian mereka mengatakan bahwa penyihir telah kafir, berdasarkan sabda Nabi Alaihissalam;

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا أوْ سَاحِرًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ , فقدْ كَفَرَ بِماَ أُنْزِلَ على محمدٍ

‘Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal atau penyihir kemudian membenarkan terhadap apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah menjadi kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad’

Para ahli fiqih Mesir berbeda pendapat tentang hukum penyihir.
Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah behwasanya ia berkata, “Penyihir harus dibunuh ketika diketahui bahwa ia seorang penyihir. Tidak perlu diminta untuk bertaubat. Tidak diterima ucapannya, ‘Aku telah meninggalkan sihir dan Aku telah bertaubat dari sihir’ Bila seseorang mengaku bahwa ia seorang penyihir maka halal darahnya. Demikian pula pengakuan dari seorang budak muslim dan orang yang merdeka dari kafir Zimmy (non muslim yang berada di bawah kekuasaan Islam). Mereka mengaku sebagai seorang penyihir maka halal darahnya.” Ini semua merupakan perkataan Abu Hanifah.

Berkata Ibnu Syuja, “Seorang hakim menghukumi penyihir laki-laki dan penyihir wanita dihukumi sebagai laki-laki murtad dan wanita murtad.” Ibnu Syuja berkata, – meriwayatkan dari Imam Abu Hanifah- “Sesungguhnya penyihir, terhimpun bersama kekufurannya, merangkap sebagai orang yang membawa juga sebagai pelaku kerusakan di muka bumi. Apabila dia membunuh orang lain maka diapun harus dibunuh.”

Diriwayatkan dari Imam Malik tentang seorang muslim yang menguasai ilmu sihir maka harus dibunuh dan tidak perlu diminta untuk bertaubat. Sebab seorang muslim apabila batinnya telah murtad maka tidak dianggap taubatnya dengan cara menampakkan keIslamannya. Adapun penyihir yang berasal dari Ahlul Kitab maka tidak dibunuh menurut pendapatnya Imam Malik, terkecuali apabila membahayakan kaum muslimin maka ia dibunuh.

Imam Syafi’i berkata, “Tidak menjadi kafir seseorang sebab sihirnya. Seseorang berkata, ‘Sihirku tersebut dapat membunuh seperti sihir yang lainnya. Aku melakukannya dengan sengaja!’ Maka ia dibunuh sebagaimana di dalam Qishas (Qishas adalah hukuman yang setimpal bagi pelaku yang menghilangkan nyawa, melukai anggota tubuh atau menghilangkan fungsi angota badan orang lain). Jika ia berkata, ‘Terkadang sihirku dapat membunuh terkadang tidak!’ Maka ia tidak dibunuh, namun wajib membayar Diyat (Diyat adalah kewajiban memberikan sejumlah harta kepada keluarga korban terhadap pelaku pembunuhan, melukai anggota badan atau menghilangkan fungsinya, kemudian dimaafkan, atau pelaku pembunuhan yang seperti disengaja dan pembunuhan yang keliru).

Imam Ahmad berkata, “Seorang muslim menjadi kafir dengan sebab sihirnya. Baik sihirnya dapat membunuh orang lain maupun tidak. Bagaimana dengan taubatnya, apakah dapat diterima? Terdapat dua pendapat (satu pendapat diterima taubatnya, satu pendapat lagi tidak diterima taubatnya) Adapun penyihir yang berasal dari Ahlul Kitab, maka tidak dibunuh terkecuali membahayakan kepada kaum muslimin.

وَالْخلاصَة:
Kesimpulannya;
Sesungguhnya Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa seorang penyihir menjadi kafir sebab sihirnya. Diperbolehkan untuk dibunuh dan menurutnya tidak diminta untuk bertaubat. Penyihir yang berasal dari Ahlul Kitab hukumnya seperti penyihir yang muslim. Imam Syafi’i berpendapat, seorang penyihir muslim tidak menjadi kafir sebab sihirnya. Menurutnya, tidak dibunuh pelaku sihir yang muslim terkecuali sengaja untuk membunuh lewat sihirnya. Imam Malik berpendapat, penyihir muslim harus dibunuh. Jika berasal dari Ahlul Kitab maka tidak dibunuh. Menurutnya, seseorang dihukumi kafir sebab sihirnya.
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هو مُوَلِّيْهَا (masing-masing mempunyai caranya tersendiri yang dipergunakannya)

مَا تُرْشِدُ إليه اﻟﺂياتُ الْكرِيْمةُ
Pengajaran yang di dapat dari Ayat-ayat al-Karim;

  1. Taurat adalah Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Musa Alaihissalam. Dan Al-Qur’an membenarkan apa yang terdapat di dalam Taurat.
  2. Orang-orang Yahudi menyembunyikan Taurat dan tidak mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya. Sebagaimana para pendahulu mereka yang telah menyembunyikan al-Qur’an.
  3. Sulaiman Alaihissalam adalah seorang Nabi juga seorang raja. Dia bukanlah seorang penyihir yang menjadikan sihir sebagai pekerjaannya.
  4. Setan-setan menjadikan sihir itu indah teruntuk manusia. Mereka memberikan angan-angan kepada manusia bahwasanya mereka mengetahui persoalan-persoalan ghaib.
  5. Sihir mempunyai realitas (nyata) dalam kehidupan dan berpengaruh kepada pribadi orang lain. Sehingga seseorang dengan media sihir mampu memisahkan hubungan antara seseorang dengan keluarganya.
  6. Allah Jalla Tsanauhu (Yang Mahatinggi Pujian-Nya), menguji kepada setiap hamba-Nya dengan sesuatu yang Dia kehendaki.
  7. Barang siapa yang menukar sihir dengan Kitabullah (mengamalkan sihir dengan tidak mengamalkan Kitabullah), maka di akhirat dia tidak mendapatkan rahmat Allah.
  8. Tempatnya pahala dan balasan di akhirat yaitu iman kepada Allah Ta’ala disertai dengan amal perbuatan yang ikhlas.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *