Pertemuan ke – 23 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 23
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 15 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

لَا تَطْلُبْ منه أنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فيما سِوَاها , فلَوْ أَرَادَكَ لَاسْتَعْمَلَك مِنْ غَيْرِ إِخْراجٍ

‘Kamu jangan meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari suatu keadaan agar kamu dapat dipekerjakan kepada keadaan yang lain. Seandainya Allah berkeinginan terhadapmu maka kamu akan dipekerjakan tanpa harus dikeluarkan’

Sebagaimana apabila seseorang berada dalam suatu keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya, baik terkait dengan persoalan agama maupun dunia, maka tidak sepatutnya baginya berkeinginan untuk keluar dari keadaan tersebut serta menentang dengan hukum waktu yang telah ditetapkan teruntuknya. Dia kemudian menciptakan selain apa yang Allah telah perlihatkan baginya. Sebagaimana keterangan yang lalu di dalam ungkapan penulis;

مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ

‘Tidak sedikitpun meninggalkan kebodohan bagi seseorang yang berkeinginan menjadikan waktunya untuk selain sesuatu yang Allah telah perlihatkan baginya’

Di samping adanya tambahan syarat pada pertemuan yang lalu, yaitu tidak diperbolehkan dalam keadaannya tersebut menyimpang dari perintah Allah dan melakukan apa yang dilarang-Nya. Maka patut baginya juga untuk tidak menentang hukum waktu yang telah ditetapkan dan meminta kepada Tuhannya untuk dikeluarkan dari keadaannya tersebut serta mempekerjakannya di tempat yang lainnya. Sebab ini merupakan pilihan Allah Ta’ala. Tidak ada pilihan baginya tentang itu. Bahkan semestinya untuk baik adab kepada Allah. Mendahulukan keinginan Allah atas keinginan dirinya. Ketika itu, ia yakin berada dalam suatu keadaan yang akan membawanya mengetahui kepada cintanya Allah dan kehendaknya Allah teruntuknya. Maka Allah akan mempekerjakannya kepada suatu pekerjaan yang Allah cintai, tetap di dalam keadaannya tersebut. Keadaan tersebut merupakan kehendak Allah Ta’ala yang diberikan teruntuknya. Bukan keinginan dirinya. Itu merupakan pilihan yang terbaik baginya ketimbang pilihannya sendiri.

Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, di dalam kitab At-Tanwir fi Isqati at-Tadbir, berkata, diceritakan oleh sebagian mereka yang berkata, “Aku ingin bila diriku meninggalkan seluruh sebab-sebab duniawi. Aku hanya menginginkan dua roti setiap harinya” Dia berkeinginan untuk istirahat dari penatnya sebab-sebab duniawi. Dia berkata, “Lalu diriku dipenjara. Di penjara aku diberikan roti roti setiap harinya. Itu berlangsung lama hingga timbul kebosanan dalam diriku. Hingga di suatu hari aku memikirkan tentang persoalanku. Kemudian aku ditanya, “Engkau yang meminta kepada kami agar memberikan dua roti setiap hari dan tidak meminta kesehatan dari kami. Maka kami berikan kepadamu apa yang menjadi permintaanmu” Akupun meminta ampun kepada Allah dari dosa yang telah aku perbuat. Akupun kembali kepada Allah. Tiba-tiba pintu penjara diketuk. Akupun bebas lalu keluar dari penjara”

Berkata Ibnu ‘Athaillah di dalam kitab At-Tanwir, “Hendaknya engkau mempunyai adab wahai orang yang beriman! Jangan engkau meminta kepada Allah untuk keluar dari suatu persoalan serta memasukkanmu di luar persoalan tersebut. Ketika Allah telah menempatkanmu di dalamnya maka ini termasuk kesesuaian antara ungkapan dan makna yang sebenarnya. Sesungguhnya hal tersebut termasuk buruknya adab kepada Allah Ta’ala. Maka sabarlah kamu untuk tidak meminta keluar dengan pilihan dirimu sendiri. Kemudian diberikan apa yang kamu ingini namun hampa oleh perasaan nyaman. Banyak orang yang meninggalkan sesuatu kemudian masuk kepada yang lainnya untuk mendapati kekayaan dan kesenangan namun berakhir dengan kelelahan. Dibalas dengan adanya kesulitan sebagai akibat adanya pilihan bagi dirinya, bukan semata pilihan Allah Ta’ala.”

Demikian berakhir perkataan Imam Ibnu ‘Athaillah di dalam kitab At-Tanwir. Itu seperti tafsir dari apa yang di sebutkan di sini. Oleh karenanya aku datangkan perkataan Imam Ibnu ‘Athaillah di sini ..

Wa Allahu Al-Muwaffiq

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *