Hikmah disyariatkannya Surat Al-Baqarah Ayat 101-103

Pertemuan ke-30

حِكْمَةُ التَّشْرِيْعِ
Hikmah disyariatkannya surat Al-Baqarah ayat 101-103

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 20 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

حِكْمَةُ التَّشْرِيْعِ
Hikmah disyariatkannya surat Al-Baqarah ayat 101-103

Sungguh Islam berkeinginan di semua syariatnya untuk menyelamatkan akidah di hati setiap muslim. Agar hati setiap muslim bersambung kepada Allah selama-lamanya. Hanya berpegang teguh kepada-Nya. Mengakui akan ketuhanan-Nya. Hanya kepada-Nya tempat meminta pertolongan atas kerasnya kehidupan ini. Ketika berdoa tidak menghadap kecuali kepada-Nya. Tidak mengakui adanya pengaruh atau akibat kepada selain-Nya. Tidak mengakui pula hukum ketentuan dari hukum-hukum alam yang Allah sendiri ciptakan. Dia yang telah menggerakkan dengan Ilmu-Nya, Kuasa-Nya serta Kehendak-Nya.

Bintang-bintang dan planet-planet tunduk kepada perintah Allah. Seperti ciptaan Allah yang lainnya. Semua berjalan sesuai catatan yang telah ditetapkan di alam Azali. Gerak edarnya tidak mempunyai pengaruh apapun kepada manusia. Allah ciptakan manusia di muka bumi ini dengan telah ditentukan rizkinya, umurnya. Maka tidak berakhir umur sesorang dengan sebab terbitnya bintang atau sebab terbenamnya bintang. Tidak bertambah, tidak pula berkurang rizki seseorang dari kadar yang Allah Ta’ala telah tentukan baginya. Semua urusan di kehidupan ini telah diatur atas perintah Allah.

Jika manusia mengklaim bahwasanya dirinya mengetahui sesuatu yang ghoib dengan sebab dikaitkan dengan bintang-bintang dan mengagungkannya, atau dikaitkan dengan jin dan setan-setan. Dengan sebab itu dirinya merasa mampu untuk mempengaruhi ketentuan kehidupan ini dan menghukumi sesuatu lewat gambar bintang-bintang (ramalan bintang). Maka dengan sebab itu semua, sungguh dirinya telah menyimpang dari syariat yang Allah telah jelaskan dalam kitab-Nya. Dirinya telah melampaui batas terhadap ketentuan yang telah diciptakan teruntuknya. Dirinya telah keluar dari aturan agama yang lurus serta toleran. Dengan demikian, dirinya dihukumi kafir sebab mengagungkan kepada selain Allah, sebab meminta pertolongan kepada selain Dzat Yang Mencipta, sebab mengatakan ada pengaruh terhadap makhluk, bukan kepada Allah Yang Maha Mengadakan, Jalla wa ‘Ala. Sebagai seorang muslim dirinya mengetahui –dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadanya – bahwa sesungguhnya sihir dapat menjadi sebab terjadinya bahaya, kesusahan, serta dapat menyakitkan kepada orang lain. Sebab sihir, hubungan seseorang dengan pasangan hidupnya dapat tercerai berai. Namun itu semua tidak mungkin mampu untuk melakukan sesuatu terkecuali dengan izin Allah Ta’ala.

Ketika sihir merupakan perbuatan kufur dan keluar dari syariat Islam, maka tidak mungkin untuk mensifati salah satu utusan Allah Ta’ala dengan mengatakan sebagai penyihir atau memutuskan persoalan dengan sihir serta datang dengan sesuatu yang di luar kebiasaan manusia serta mu’jizat dengan media sihir. Dengan itu semua maka datanglah Al-Qur’an, Kitabullah, sebagai penjelas, untuk mensucikan Sulaiman bin Daud ‘Alaihissalam dari pribadi seorang penyihir, sebagai hakim yang memutuskan persoalan dengan sihir, sebagai orang yang memerintahkan dengan media sihir. Maka apa yang diklaim oleh Bani Israil tentang Nabi yang mulia, Sulaiman ‘Alaihissalam merupakan klaim yang tidak benar, perkataan yang jauh dari kebenaran, yang menunjukkan kepada kebodohan mereka, bahkan itu menunjukkan kepada tersesatnya mereka dari jalan yang benar serta jauhnya mereka dari jalan yang lurus. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya mengenal. Mereka tidak mengetahui kepada yang wajib dimiliki oleh para Rasul ‘Alaihimussalam, dan kepada yang mustahil bagi Rasul. Para Rasul yang mulia disucikan dari meminta pertolongan kepada setan-setan. Bahkan setan-setanlah yang ditundukkan oleh Sulaiman ‘Alaihissalam atas perintah Allah Ta’ala, bukan dengan sihir.

Ini merupakan syariat Allah yang kokoh. Suci bagi Allah dari menyekutukan kepada makhluknya dalam hal memberikan pengaruh. Suci bagi para Rasul-Nya dari sesuatu yang dapat menjauhkan diri mereka kepada jalan kebenaran. Sebagai penjelas bagi pribadi muslim dari sesuatu yang wajib untuk diyakininya.

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *