Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 8)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 8)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 19 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

وَشُرُوْطُهُ أى الوضوءِ
Syarat-syarat wudhu

– و- ثَانِيْها (جَرْىُ ماءٍ على عُضْوٍ) مَغْسولٍ فلا يَكْفى أَنْ يَمّسَّهُ الْماءُ بِلا جَرَيانٍ لأنه لا يُسَمَّى غُسْلًا

Syarat-syarat wudhu yang kedua adalah mengalirkan air ke anggota wudhu yang dibasuh. Maka tidak dianggap cukup bila hanya menyentuhkan air ke anggota wudhu tanpa dialirkan, sebab tidak dianggap membasuh.

-و- ثَالِثُها (أن لا يكونَ عليه) أى على الْعُضْو (مُغَيِّرٌ للماء تَغَيُّرًا ضارًّا) كزعفرانٍ وصَنْدَلٍ خِلافاً لِجمعٍ

Syarat wudhu yang ketiga yaitu tidak ada pada anggota wudhu sesuatu yang dapat merubah air dengan perubahan yang banyak sehingga dapat merusak kemutlakan sifat air, seperti kunyit dan sejenis kayu cendana. Berbeda dengan sekelompok ulama yang mentolerir sesuatu yang berada di anggota wudhu yang dapat merusak kemutlakan sifat air.

-و- ورابِعُها أن لا يكون على العُضوِ ((حائِلٌ) بين الماءِ والمغسولِ (كَنُوْرَةٍ) وشَمْعٍ ودُهْنٍ جامدٍ وعَيْنِ حِبْرٍ وحِنَّاءٍ بخلافِ دُهْنٍ جارٍ أى مائعٍ وإنْ لم يثْبًتْ الماءُ عليه وأثَرِ حِبْرٍ وحِنَّاءٍ وكذا يُشْتَرطُ على ما جزَمَ به كثيرون أن لا يكونَ وَسَخٌ تحت ظُفُرٍ يمنع وصولَ الماء لِما تحته خِلافًا لجمعٍ منهم الغزالىُّ والزَّرْكشىُّ وغيرُهما وأطالُوْا فى ترْجيحِهِ وصَرَّحُوا بالمُسامحةِ عما تحتها من الوسَخِ دون نحو الْعجينِ وأشار الأذْرَعِىُّ وغيرُهُ إلى ضُعْفِ مقالَتِهم وقد صرَّحَ فى التَّتِمَّةِ وغيرِها بما فى الروضةِ وغيرِها من عدم المسامحة بشىءٍ مما تحتها حيث منع وصولَ الماءِ بمَحَلِّهِ وأفْتَى الْبغَوىُّ فى وسَخٍ حصل من غُبارٍ بأنه يمنع صحّةَ الوضوءِ بخلافِ ما نشأّ من بدنِهِ وهو الْعَرَقُ المُتَجَمِّدُ وجزم به فى الأنوار

Syarat wudhu yang keempat yaitu tidak ada penghalang antara air dan anggota wudhu yang dibasuh, seperti kapur, lilin, minyak yang membeku, tinta dan pacar. Lain halnya dengan minyak yang cair meskipun air tidak menempel pada anggota wudhu. Lain halnya juga dengan warna sebab bekas tinta dan bekas pacar. Demikian pula dipersyaratkan – sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh kebanyakan ulama – tidak adanya kotoran di bawah kuku yang dapat menghalangi air untuk bisa sampai kepada anggota wudhu yang berada di bawah kuku. Berbeda bagi sekelompok ulama, di antaranya adalah Imam Al-Ghazali dan Az-Zarkasyi dan selain keduanya, mereka memperpanjang pembahasan dengan mengajukan dalil (argumentasi) untuk menguatkan pendapat mereka bahwa kotoran yang berada di bawah kuku dapat ditolerir, kecuali sesuatu yang jarang terjadi seperti adonan roti. Sementara Imam Azra’i dan lainnya menunjukkan kepada lemahnya pendapat mereka. Imam Abu Sa’id Abdurrahman Ibnu Ma’mun menjelaskan di dalam kitab Tatimmah dan lainnya sebagaimana keterangan di dalam kitab Ar-Raudhah (Imam Nawawi) dan lainnya dari ketiadaan ditolerirnya sesuatu yang berada di bawah kuku yang dapat menghalangi masuknya air. Imam Al-Baghawi berfatwa bahwa kotoran yang berasal dari debu dapat mencegah kepada sahnya wudhu. Berbeda dengan kotoran yang berasal dari badannya berupa keringat yang membeku maka tidak dapat mencegah kepada sahnya wudhu. Hal tersebut juga ditetapkan oleh Syekh ‘Izzuddin di dalam kitab al-Anwar.

-و- خامسها (دُخُولُ وقْتٍ لِدائمِ حدَثٍ) كسَلِسٍ ومُستحاضةٍ ويُشْترطُ له أيضاً ظَنُّ دخُولهِ فلا يتوضّأُ كالمتيمم لفرضٍ أو نَفْلٍ مُؤَقَّتٍ قبل وقْتِ فِعْله ولصلاة جنازةٍ قبل الغُسل وتحيّةٍ قبل دخول المسجد والرواتب المتؤَخَّرة قبل فعل الفرض ولزم وضوﺁنِ أو تَيَمُّمان على خطيبٍ دائم الحَدَثِ أحدُهما للخطبتين واﻟﺁخرُ بعد هما لصلاة جمعةٍ ويكفى واحدٌ لهما لغيره ويجب عليه الوضوءُ لكل فرضٍ كالتيمُّم وكذا غسلُ الْفرْجِ وإبدالُ القُطْنة التى بِفَمِهِ والعِصَابَةِ وإنْ لم تَزَلْ عن موضِعها وعلى نحو سَلِسٍ مبادرةٌ بالصلاة فلو أَخَّرَ لِمصلحتِها كانْتِظارِ جماعةٍ أو جمعةٍ وإنْ أُخِّرَتْ عن أول الْوقْتِ وكذهابٍ إلى مسجدٍ لم يَضُرَّهُ.

Syarat wudhu yang kelima yaitu telah masuknya waktu bagi seseorang yang selalu dalam keadaan hadas, seperti salis (seseorang yang tidak dapat menahan kencing atau kentut) dan wanita yang keluar darah istihadloh (bukan sebab haid atau melahirkan). Disyaratkan pula baginya dengan menduga bahwa telah masuk waktu. Maka seseorang yang selalu dalam keadaan hadas tidak boleh berwudhu – seperti halnya orang yang bertayammum – untuk melakukan shalat fardhu atau shalat sunah yang terkait dengan waktu (seperti shalat gerhana dan shalat Ied) sebelum tiba waktu pelaksanaan. Tidak boleh berwudhu untuk shalat jenazah sebelum mayit dimandikan (sebab waktu shalat jenazah masuk setelah dimandkan). Tidak boleh berwudhu untuk shalat tahiyatul masjid sebelum masuk masjid. Tidak boleh berwudhu untuk shalat sunah rawatib yang diakhirkan sebelum melaksanakan shalat fardhu. Wajib berwudhu dua kali atau bertayammum dua kali bagi seorang khatib yang selalu dalam keadaan hadas, satunya untuk dua khutbah, satu lainnya untuk shalat Jum’at setelah dua khutbah. Bagi seseorang yang tidak dalam keadaan selalu hadas maka cukup satu wudhu atau satu tayammum untuk dua khutbah dan shalat Jum’at sekaligus. Wajib bagi yang selalu dalam keadaan hadas berwudhu untuk setiap fardhu, seperti halnya tayammum. Demikian pula wajib membasuh kemaluan (bagi salis dan yang istihadloh), mengganti kapas yang berada di bibir kemaluannya, serta pembalut untuk setiap fardhunya, meskipun pembalut tidak bergeser dari tempat asal. Wajib bagi yang selalu dalam keadaan hadas untuk mensegerahkan shalat. Seandainya ia menunda untuk kemaslahatan shalat itu sendiri, seperti menunggu untuk berjamaah atau shalat Jum’at, meskipun berjamaah atau shalat Jum’at ditangguhkan dari awal waktunya. Sama seperti menunggu untuk berjamah atau shalat Jum’at yaitu pergi menuju masjid. Maka penundaan shalat oleh sebab itu semua tidak menjadikannya berdosa.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *