Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke-9)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 9)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Minggu, 27 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

وَفُرُوْضُهُ سِتَّةٌ
Fardhu-fardhunya wudhu yaitu enam

أحدُها (نِيَّةُ) وُضوءٍ أو أداءِ (فرْضِ وضوءٍ) أو رفعِ حدثٍ لِغَيْرِ دائمِ حدثٍ حتى فىِ الوضوءِ المُجَدَّدِ أو الطّهارةِ عنه أو الطّهارةِ لِنحْوِ الصَّلاةِ مِمَّا لا يُباحُ إلّا بالوضوءِ أو اسْتِباحةِ مُفْتَقرٍ إلى وضوءٍ كالصَّلاة ومسِّ الْمُصْحفِ ولا تَكْفِى نيةُ استباحةِ ما يُنْدَبُ له الوضوءُ كقراءةِ القُرانِ أو الحديثِ وكَدُخولِ مسجدٍ وزِيارةِ قبرٍ والأصْلُ فى وُجوبِ النِّيَّةِ خبرُ إنَّما الأعمالُ بِالنياتِ أى إنما صِحَّتُها لا كمالها

Fardhu wudhu yang pertama yaitu niat untuk berwudhu (نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ), atau niat untuk melaksanakan fardhu wudhu (نَوَيْتُ أَدَاءَ فَرْضِ الْوُضُوْءِ), atau niat untuk menghilangkan hadas (نَوَيْتُ رَفْعَ الْحَدَثِ), niat yang terakhir ini tidak dapat digunakan bagi orang yang selalu hadas oleh sebab hadasnya yang tidak dapat dihilangkan, atau niat untuk bersuci dari hadas (نَوَيْتُ الطَّهَارَةَ عَنِ الْحَدَثِ), atau niat untuk bersuci dari hal-hal tidak diperbolehkan terkecuali dengan wudhu, seperti shalat (نَوَيْتُ الطَّهَارَةَ لِلصَّلَاةِ), atau niat untuk diperbolehkannya sesuatu yang membutuhkan wudhu, seperti shalat dan menyentuh Al-Qur’an (نَوَيْتُ اسْتِبَاحَةَ مَسِّ الْمُصْحَفِ), tidak cukup niat untuk diperbolehkannya sesuatu yang bersifat sunah yang membutuhkan wudhu, seperti membaca Al-Qur’an, membaca hadis, masuk ke dalam masjid dan ziarah kubur (نَوَيْتُ اسْتِبَاحَةَ الْقِرَاءَةِ). Niat yang demikian itu diperuntukkan juga bagi seseorang yang ingin memperbaharui wudhunya. Yang menjadi dasar diwajibkannya niat adalah hadis Nabi, إِنما الأعمالُ بِالنِّيَّاتِ (Segala sesuatu bisa sah hanya dengan niat). Niat menjadi syarat sahnya wudhu bukan menjadi kesempurnaan wudhu.

ويجبُ قَرْنُها (عِنْدَ) أوَّلِ غَسْلِ جُزْءٍ مِن (وَجْهٍ) فلوْ قَرَنَها بِأَثْنائِهِ كفَى ووجبَ إعادةُ غَسلِ مَا سَبَقَها ولا يكفى قَرْنُها بما قبله حيثُ لم يَستصْحَبْها إلى غَسل شئٍ منه وما قَارَنَها هو أوَّلُهُ فتفوتُ سنّةُ الْمضْمضةِ إنْ انْغسلَ معها شئٌ من الْوجْهِ كحُمْرةِ الشَّفَةِ بعد النيّةِ فالْأَوْلَى أن يُفَرِّقَ النيةَ بأن ينوىَ عند كُلٍّ من غَسلِ الْكَفَّينِ والمَضْمَضَةِ والإستِنْشاقِ سُنةَ الوضوءِ ثم فرضَ الوضوءِ عند غَسلِ الْوجهِ حتى لا تفوتَ فضيلةُ استصحابِ النيةِ وفضيلةُ الْمضمضةِ والإستنشاقِ مع انْغسالِ حُمرةِ الشَّفةِ

Wajib membersamakan niat pada awal basuhan bagian muka. Seandainya niat dibersamakan pada pertengahan basuhan bagian muka maka dianggap cukup namun wajib mengulang basuhan bagian muka yang terlewati dengan niat. Niat tidak dianggap cukup dengan membersamakan kepada sunah-sunah sebelum membasuh muka, di mana niat tidak diberlangsungkan hingga membasuh bagian dari muka, seperti dibersamakan dengan membasuh kedua telapak tangan. Bagian wajah yang dibarengi dengan niat merupakan awal basuhan, meskipun bagian tengah ataupun bagian bawah wajah. Maka menjadi hilang kesunahan berkumur-kumur bila telah membasuh bibir yang merupakan bagian dari muka ketika dibersamakan dengan niat. Yang paling utama adalah dengan cara memisahkan niat. Ketika membasuh dua telapak tangan, berkumur-kumur dan menghisap air ke hidung dengan niat sunah wudhu. Kemudian niat fardhu wudhu ketika membasuh wajah. Sehingga tidak hilang keutamaan terus memberlangsungkan niat dengan sebab membasuh bibir juga keutamaan berkumur dan menghisap air ke dalam hidung.

-و- ثَانيها (غَسْلُ) ظاهرِ (وَجْهِهِ) ﻟِﺂيةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكمْ (وهو) طُوْلًا (ما بين مَنابِتِ) شَعْرِ (رَأْسِهِ) غالِبًا (وَ) تَحْتِ (مُنْتَهَى لَحْيَيْهِ) بفتح اللام فهو من الْوجْه دون ما تحتَه والشّعْرِ النابِتِ على ما تحته (و) عَرَضًا (ما بين أذُنين) ويجبُ غَسلُ شعْرِ الْوجْهِ مِنْ هُدُبٍ وحاجِبٍ وشارِبٍ وعَنْفقةٍ ولِحْيةٍ وهى ما نبَت على ما نبت على الذَّقَنِ وهو مُجْتَمعُ اللَّحْييْنِ وعِذارٍ وهو ما نبت على الْعَظْمِ الْمُحاذِى لِلْأُذُن وعارِضٍ وهو ما اِنْحَطَّ عنه إلى اللِحْيةِ ومِن الْوجْهِ حُمْرةُ الشَّفَقتَيْنِ وموضعِ الغَمَمِ وهو ما نبت عليه الشَّعْرُ مِن الجَبْهةِ دون مَحَلِّ التّحْذِيفِ على الأصَحِّ وهو ما نبت عليه الشّعْرُ الْخفيفُ بين اِبْتداءِ الْعِذارِ والنَّزَعَةِ ودون وَتَدِ الأَذُنِ والنّزَعتَيْنِ وهما بَياضانِ يَكْتنِفانِ النَّاصِيةَ وموضعِ الصَّلَعِ وهو ما بينهما إذا انْحَسرَ عنه الشعرُ

Fardhu wudhu yang kedua yaitu membasuh bagian luar wajah, sebab ayat Al-Qur’an, فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكم (maka basuhlah wajahmu –Al-Maidah:6-). Batasan panjang wajah, yaitu di antara tempat biasanya tumbuh rambut kepala dan di bawah bagian akhir dua dagunya. Maka bagian akhir dua dagunya termasuk bagian wajah. Sedangkan anggota tubuh yang berada di bawah bagian akhir dua dagu beserta rambut yang tumbuh di bawahnya tidak termasuk bagian wajah. Batas lebar wajah, adalah anggota wajah yang berada di antara dua telinga. Maka wajib membasuh rambut yang berada di wajah, berupa bulu mata, bulu alis, kumis, rambut yang tumbuh di bawah bibir, jenggot, yaitu rambut yang tumbuh di atas dagu. Dagu merupakan paduan dua tulang di mana tumbuh gigi bagian bawah, bagian mukanya berada di dagu, bagian akhirnya berada di dua telinga, bentuknya seperti busur yang dibengkokkan. Termasuk rambut yang berada di wajah yaitu rambut di tepi pipi yang berhadapan dengan telinga, serta cambang, yaitu rambut yang menurun dari tepi pipi yang berhadapan dengan telinga hingga berakhir di jenggot. Termasuk bagian wajah adalah bagian bibir yang berwarna merah, juga tempat tanda kesedihan, yaitu dahi yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Menurut pendapat yang paling benar, tempat membuang rambut tipis bagi para wanita untuk memperluas area wajah yang terletak antara permulaan rambut di tepi pipi yang berhadapan dengan telinga dan tempat dari kedua sisi dahi yang tidak berambut, tidak merupakan bagian dari wajah. Begitu juga tidak termasuk muka yaitu daun telinga dan dua sisi dahi yang berwarna putih yang mengelilingi rambut depan kepala. Begitupun bagian depan kepala yang botak tidak termasuk wajah, yaitu tempat yang terletak di antara dua sisi dahi ketika telah hilang rambutnya.

ويُسَنُّ غَسْلُ كُلِّ ما قيل إنّهُ ليس من الْوجْهِ ويجب غسلُ ظاهرِ وباطِنِ كُلٍّ من الشُّعُورِ السابِقةِ وإنْ كثُفَ لِندْرةِ الْكثافةِ فيها لا باطِنِ كثيفِ لِحيةٍ وعارضٍ والْكثيفُ ما لم يُرَ الْبَشَرةُ من خَلالهِ فى مَجْلسِ التخاطُبِ عُرفًا ويجب غَسلُ ما لا يتَحَقَّقُ غسلُ جميعِه إلا بغَسْلِه لأنّ ما لا يَتِمُّ الواجبُ إلا به واجبٌ

Disunnahkan membasuh seluruh aggota tubuh yang sebelumnya dikatakan tidak termasuk bagian dari wajah. Wajib membasuh seluruh bagian luar dan dalam rambut yang telah disebutkan meskipun tebal, di sebabkan oleh jarang terjadinya tebal pada rambut tersebut. Tidak wajib membasuh bagian dalam bagi jenggot dan cambang yang tebal. Ukuran ketebalan pada biasanya adalah selama tidak terlihat dasar kulit dari cela-cela rambut di tempat percakapan. Wajib membasuh sesuatu yang tidak dapat terwujud seluruh basuhan kecuali dengan membasuh sesutu tersebut, seperti sedikit bagian atas dari dua tangan maupun dua kaki yang wajib dibasuh. Sebab sesuatu yang tidak dapat menjadi sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *