Pertemuan ke – 24 Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 24
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 29 September 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

مَا أَرَادَتْ هِمَّةُ سَالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَمَا كَشَفَ لَهَا إِلَّا وَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيْقَةِ : الّذِى تَطْلُبُ أَمَامَكَ , وَلَا تَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوَّنَاتِ إِلَّا وَنَادَتْكَ حَقَائِقُهَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

‘Tidak ada di hati seseorang yang menuju kepada Allah berkeinginan untuk berhenti di sisi rahasia-rahasia yang dibuka teruntuknya terkecuali ada panggilan-panggilan hakekat, “Sesuatu yang engkau cari ada di depanmu!”. Tidak pula dipertontonkan gemerlap alam semesta terkecuali hakekat itu semua memanggilmu, “Sesungguhnya kami ini hanya sebagai ujian bagimu maka jangan kamu menjadi kufur!”

Seseorang yang menuju kepada Allah Ta’ala akan terbuka di tengah perjalanannya cahaya-cahaya. Tampak kepadanya rahasia-rahasia. Ketika hatinya berkeinginan untuk berhenti di sisi rahasia-rahasia yang dibuka teruntuknya. Sebab dirinya berkeyakinan bahwa ia telah sampai di puncak tertinggi ma’rifat kepada Allah. Saat itulah terdengar panggilan-panggilan hakekat kepadanya, “Sesuatu yang engkau cari berada di depanmu maka bersungguh-sungguhlah di perjalananmu. Jangan engkau berhenti! Bila keindahan alam semesta bersolek teruntuknya kemudian dirinya cenderung kepada pesona keindahannya maka hakekat dari itu semua memanggilnya, “Sesungguhnya kami ini hanya sebatas ujian bagimu maka jangan kamu menjadi kufur” Pejamkanlah kedua matamu dari itu semua. Jangan engkau menoleh! Teruslah berjalan di tempat perjalananmu! Ketahuilah, selama di hatimu datang keinginan maka engkau telah menjauh dari jalan yang engkau tempuh. Seandainya tidak ada keinginan tersebut maka engkau akan sampai. Alangkah indah perkataan Syekh Abi Hasan Asy Syastari terkait dengan makna ini;

ولا تَلْتفِتْ في السَّيْــرِ غيْــرًا فكلُّ ما . سِــوى اللهِ غَيْـرٌ فـاتَّخِذْ ذِكـرَه حِصْنًـا
وكـــلُّ مقــــامٍ لا تُقِــــمْ فيــــه إنّـــه . حِجابٌ , فَجِدَّ السَّيْرَ , واسْتَنْجِدْ الْعَوْنَ
ومهمـا تَـرى كُـلَّ الْمَـراتِــبِ تُجْتَلـى . عليــك فَحِـلْ عنهـا , فعَـنْ مِثْلهـا حِلُّنـا
وقُلْ : ليس ليْ في غيرِ ذاتِك مَطْلبٌ . فـلا صُــورةَ تَجْلَــى ولا طُــرْفَـةَ تَجْنـا

‘Jangan engkau menoleh di dalam perjalanmu kepada selain Allah. Setiap sesuatu selain Allah maka meniadakan. Jadikan menyebut nama-Nya sebagai benteng.
Setiap maqam, janganlah engkau menetap di dalamnya. Sesungguhnya itu merupakan penghalang bagimu. Bersungguh-sungguhlah di dalam perjalanan. Minta bantuanlah kepada yang menolongmu.
Ketika engkau melihat seluruh tingkatan yang diperlihatkan rahasia teruntukmu maka lepaskanlah. Kitapun berharap untuk dapat lepas dari semisal itu.
Katakanlah, tidak ada bagiku tempat pencarian selain menuju kepada Dzat-Mu. Maka tidak ada gambar yang tampak dan tidak ada sesuatu hadiah yang indah yang terambil!’

Sungguh, aku melihat Sayyidi Abi al-Hasan Asyadzili, Radiallahu ‘Anhu berkata dengan perkataan yang baik yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh penulis, Rahimahullah, tentang pencapaian di dalam suatu kondisi dan tampak kurang ketika melihat kesempurnaan. Kemudian aku berpendapat untuk menyebutkannya di sini sebab agung serta mulia tujuannya. Berkata Abu Hasan Asyadzili, “Ketahuilah olehmu, bila engkau berkeinginan sebagian dari apa yang dimiliki oleh para kekasih Allah Ta’ala, maka wajib bagimu meninggalkan manusia, kecuali seseorang yang menunjukkan kepadamu jalan menuju kepada Allah Ta’ala dengan petunjuk yang benar dan amal-amal yang tidak melanggar kepada Al-Qur’an dan Assunnah. Berpalinglah dari dunia dengan total. Jangan kamu menjadi pribadi yang berpaling dari dunia hanya untuk mendapatkan sedikit dari dunia. Jadilah kamu hamba semata-mata karena Allah. Allah perintahkan kepadamu untuk meninggalkan musuh-Nya, yaitu dunia. Jika kamu mendatangkan dua perkara ini, berpaling dari dunia dan bersikap zuhud dalam menjalani kehidupan dunia. Maka tetaplah bersama Allah dengan terus menjaga dan memelihara taubat. Istighfar, kembali serta tunduk kepada hukum-hukum Allah dengan istiqomah.

Tafsir dari cara yang empat ini (meninggalkan manusia, meninggalkan dunia, tetap bersama Allah dan istiqomah), yaitu engkau tetap menjadi seorang hamba Allah, baik ketika kamu ada dalam suatu kondisi maupun tidak. Engkau jaga hatimu agar tidak ada di hatimu sedikitpun sesuatu kecuali Allah. Jika engkau telah mendatangkan ini maka datang panggilan-panggilan hakikat memanggilmu berupa cahaya kemuliaan, “Sesungguhnya kamu telah menjadi buta dari jalan yang lurus. Dari mana kamu dapat terus bersama Allah Ta’ala dengan alasan terus menjaga, sedangkan kamu mendengar firman Allah Ta’ala, وَكَانَ اللهُ على كُلِّ شيءٍ رقيبًا (Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu, Al-Ahzab: 52) Dari sini kamu akan mendapati rasa malu yang akan membawamu ke pada taubat dari sangkaanmu bahwa kamu dekat kepada Allah Ta’ala. Maka tetaplah kamu dalam taubat dengan cara memelihara di hatimu agar kamu tidak melihat berada dalam suatu kondisi lalu kamu menuju kepada kondisi saat kamu di luar. Jika sudah benar ini dari dirimu, maka datang pula panggilan teruntukmu dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Taubat kepada Allah telah tampak. Kembali kepada Allah merupakan anugerah yang mengiringi taubat. Sibuknya kamu dengan sifat yang kamu miliki merupakan penghalang dari tujuanmu. Di sana tampak sifat-sifatmu kemudian engkau meminta tolong kepada Allah dan memulai untuk meminta ampun serta kembali kepada Allah.”

Istighfar adalah meminta ditutupi sifat-sifatmu dengan kembali kepada sifat-sifat Allah. Jika kamu berada di sifat ini, maksudnya dengan istighfar dan kembali kepada Allah, maka engkau akan dipanggil dari arah yang dekat, “Tumduklah kepada hukum-hukum-Ku. Tinggalkan olehmu untuk menentang-Ku. Istiqomahlah bersama kehendak-Ku dengan meningalkan keinginanmu. Sesungguhnya sifat ketuhanan mengalahkan sifat kehambaan. Jadilah engkau hamba yang dimiliki yang tidak mempunyai kemampuan apapun. Ketika Aku melihat darimu suatu kemampuan maka Aku mewakilkan kemampuan tersebut teruntukmu. Aku Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Jika telah benar pintu ini untukmu dan engkau membiasakannya maka engkau telah menjadi mulia di sana dengan rahasia-rahasia yang hampir tidak kamu dengar dari seorangpun di alam ini.

Wa Allahu Al-Muwaffiq

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *