Pertemuan ke – 25, Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 25, Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 25
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 6 Oktober 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

طَلَبُكَ مِنْهُ اِتِّهامٌ له وطَلَبُكَ له غَيْبَةٌ مِنكَ عنه, وطلبُكَ لِغَيْرِه لِقِلَّةِ حياتِكَ منه, وطلبُكَ مِن غيرهِ لِوُجُوْدِ بُعْدِكَ عنه.

‘Permohonanmu dari Allah merupakan bentuk kecurigaan terhadap-Nya. Permohonanmu kepada Allah merupakan bentuk meninggalkannya kamu dari-Nya. Permohonan kamu kepada selain Allah disebabkan oleh sedikitnya rasa malumu kepada-Nya. Permohonanmu dari selain Allah disebabkan engkau jauh dari-Nya’

Permohonan yang tergambarkan dari seorang hamba yaitu melalui empat cara. Seluruhnya dalam kondisi yang tidak waras juga tercela; Permohonan dari Allah, permohonan kepada Allah, permohonan kepada selain Allah, dan permohonan dari selain Allah.

Maka permohonan hamba dari Allah merupakan bentuk kecurigaan dari-Nya. Sebab jika hamba percaya bahwa Allah yang mendistribusikan setiap manfaat kepadanya tanpa harus diminta maka seorang hamba tidak mungkin meminta sedikitpun dari-Nya. Sementara permohonan hamba kepada Allah merupakan bentuk ketidak hadiran Allah darinya.

Permohonan hamba kepada selain Allah sebagai bentuk sedikit rasa malunya hamba. Sebab jika seorang hamba mempunyai rasa malu maka pasti ia akan meninggalkan sesuatu yang tidak disukai oleh Allah, yaitu meminta kepada selain-Nya. Termasuk bagian rasa malu bagi seorang hamba adalah tidak menyebutkan selain Allah. Tidak pula mendahulukan selain Allah.

Permohonan hamba dari selain Allah disebabkan jauhnya hamba dari Allah. Sebab jika hamba dekat dari Allah maka niscaya selain Allah terasa jauh darinya. Maka hamba tidak akan meminta kepada selain-Nya.

Seluruh permohonan ini menurut kaca mata orang-orang yang mengimani bahwa tiada Tuhan selain Allah, orang-orang yang telah ma’rifat, merupakan sesuatu yang tercela. Baik permohonan tersebut terkait langsung kepada Allah maupun kepada makhluk-Nya. Terkecuali permohonan tersebut lebih disebabkan oleh adab, ibadah, mengikuti perintah, dan menampakkan kebutuhan maka alasan dicelanya permohonan menjadi hilang.

Wa Allahu Al-Muwaffiq

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *