Nasakh (Pembatalan) Ayat Di Dalam Al-Qur’an (Pertemuan ke-33 )

Pertemuan ke-33

النَّسْخُ فىِ القُرْآن
Nasakh (pembatalan) ayat di dalam Al-Qur’an

Pengajian IPNU-IPPNU PAC KECAMATAN TARUMAJAYA
Kitab Rawa’i Al Bayan Tafsir Ayat Al Ahkam Min Al-Qur’an
Minggu, 18 Oktober 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

Firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 106-108

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْنُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْمِثْلِهَا أَلَمْ تُعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ لَهُ مُلْكُ السَّموَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَالَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيْرٍ. أَمْ تُرِيْدُوْنَ أَنْ تَسْأَلُوْا رَسُوْلَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوْسَى مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيْمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيْلِ.

‘Apabila Kami batalkan atau Kami tinggalkan satu ayat maka Kami mendatangkan dengan yang lebih baik atau yang semisalnya. Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah adalah penguasa langit dan bumi? Tidak ada bagimu yang mengurusi persoalan dan yang menolong kecuali Allah. Bahkan kamu berkeinginan untuk meminta kepada Rasulmu sebagaimana yang diminta kepada Musa sebelumnya. Barang siapa yang memilih kufur sebagai ganti dari iman maka sungguh ia telah menyimpang dari jalan yang lurus’

اَلتَّحْلِيْلُ اللَّفْظِىَّ
Mengurai lafaz

وَلِىٍّ وَلَا نَصِيْرٍ : اَلْوَلِيُّ , bermakna yang dekat, bersahabat. Diambil dari ungkapan orang-orang Arab, وَلَيْتُ أَمْرَ فُلَانٍ أي قُمْتُ بِهِ (Aku yang mengurus persoalan si Pulan). Searti dengan itu adalah kata, وَلِيُّ الْعَهْدِ أي الْقَيِّمُ بِمَا عُهِدَ إليهِ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمينَ (Seseorang yang diberi amanah untuk mengurusi persoalan kaum muslimin)

وَالنَّصِيْر , yaitu yang memberi pertolongan. Diambil dari ungkapan orang-orang Arab, نَصَرَهُ إِذَا أَعَانَهُ (Dia menolong orang lain)

Imam Fakhruddin Ar-Razi berkata, kedua kata اَلْوَلِيُّ dan النَّصِيْر mengikuti wazan فعيل yang bermakna فاعل dengan cara mubalaghah (berlebih). Maknanya, ليس لكم ناصرٌ يَمْنعُكم مِن العذابِ (Tidak ada seorang penolongpun bagi kalian yang dapat menghalangi azab)

أَمْ تُرِيْدُوْنَ . Kata “أَمْ” dapat berupa مُتَّصِلَة (muttashil), dapat pula berupa مُنْقَطِعَة (munqathi’ah). ‘Am Muttashil’ yaitu ‘Am’ yang didahului oleh ‘Hamzah Istifham’, seperti firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah ayat 6, سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ (sama saja, apakah kamu memberi peringatan kepada mereka atau tidak kamu berikan peringatan kepada mereka). Adapun ‘Am Munqathi’ah’ yaitu bermakna بَلْ (bahkan), seperti perkataan orang Arab, إِنَّهَا لِإِبِلٍ أَمْ شَاءٌ (sesungghnya bayang-bayang itu adalah unta, bahkan kambing-kambing), seakan orang Arab itu berkata, بَلْ هِيَ شَاءٌ . Searti dengan itu adalah firman Allah Ta’ala dalam surat Yunus ayat 38, أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَاهُ, أي بل يقولون (bahkan mereka mengatakan bahwa Muhammad telah membuat-buat). Seperti juga perkataan Ghiyat ibn Ghawth ibn al-Salt al-Akhtal, yang lebih dikenal sebagai al-Akhtal;

كَذَّبَتْكَ عَيْنُكَ أَمْ رَأَيْتَ بِوَاسِطٍ . غَلَسَ الظَّلَامِ مِنَ الرَّبَابِ خَيَالًا

‘Kedua matamu telah mendustakanmu, bahkan di pintu engkau melihat awan putih di kegelapan akhir malam sebagai sebuah khayalan’

Al-Qurthubi berkata, ‘Am Munqathi’ah’ yang bermakna بَلْ ini, yaitu بَلْ أَتُرِيْدُوْنَ (bahkan apakah kamu berkeinginan). Makna pembicaraan adalah untuk at-Taubikh (mencela).

يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ (menempatkan kufur di tempat iman). Dikatakan, بَدَّلَ, وَتَبَدَّلَ, وَاسْتَبْدَلَ أي جَعَلَ شَيْئاً مَوْضِعَ أَخَرَ (menjadikan sesuatu di tempatkan di tempat lain). Maksudnya adalah, memilih kepada kekufuran dengan menggantikan iman. Sebagimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah, ayat 175;

أُولئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى والْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ.

‘Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan azab dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka’

سَوَاءَ السَّبِيْلِ (jalan lurus), searti dengan kata السَّوَاءُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ (sama dari segala sesuatu), serati juga dengan kata الْوَسْطُ (pertengahan). Seperti firman Allah Ta’ala dalam surat As-Saffat, ayat 55, فَاطَّلَعَ فَرَﺁهُ فِي سَوَاءِ الجَحِيْمِ (Maka dia meninjaunya lalu dia melihat teman-temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala)

اَلسَّبِيْل , secara bahasa adalah jalan. Makna jalan di sini adalah jalan istiqomah.

Makna ayat, “Barang siapa yang memilih kufur dan ingkar kepada Allah Ta’ala serta mengutamakan kufur diandingkan iman, maka dia telah menyimpang dari kebenaran, meninggalkan jalan istiqomah dan terjerumus ke dalam hawa nafsu yang membinasakannya”

Wa Allahu A’lam ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *