Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 12)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 12)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 24 Oktober 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

سُنَنُ الْوُضُوءِ
Sunah-sunah dalam wudhu

فسواك – عَرْضًا فى الأَسْنانِ ظاهِرًا وباطنًا وطُوْلًا فى اللِّسانِ لِلْخَبَرِ الصَّحِيْحِ لَو لا أنْ أَشُقَّ على أُمَّتِى لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ أى أَمْرَ إيْجابٍ ويَحْصُلُ (بِكُلِّ خَشِنٍ) ولو بِنحْو خِرْفَةٍ أو أُشْنانٍ والْعُوْدُ أفضلُ مِن غيرِه وَأَوْلَاهُ ذُوْ الرِّيْح الطِّيْبِ وأفْضلُه الْأراكُ لَا بِأُصْبُعِه ولو خُشْنَةُ خِلافًا لِما اخْتارَهُ النّووىُّ وإنما يُتأكَّدُ السّواكُ ولوْ لِمَنْ لا أَسْنانَ لهُ لكلِّ وُضُوءٍ.

Kesunahan dalam berwudhu yang berikutnya adalah bersiwak di area lebarnya gigi (dimulai dari sisi mulut yang kanan dengan menggosok gigi luar bagian atas lalu bagian dalam hingga ke tengah. Yang demikian dilanjutkan pada sisi mulut sebelah kiri). Bersiwak untuk lidah yaitu dengan cara memanjangkan. Dalil kesunahan siwak yaitu hadis shahih, لَوْ لَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ (Seandainya tidak menyusahkan aku kepada umatku niscaya aku wajibkan kepada mereka untuk bersiwak ketika berwudhu). Siwak dapat dicapai dengan sesuatu yang kasar, seperti sobekan kain, pohon Usnan (sejenis pohon yang hidup di gurun). Bersiwak dengan kayu lebih utama dari selain kayu. Macam kayu yang lebih utama yaitu yang memiliki bau harum. Dan paling utama kayu yang memiliki bau harum adalah pohon Arok. Kesunahan bersiwak tidak dapat dicapai dengan menggunakan jari tangannya seseorang meskipun jarinya kasar. Berbeda dengan Imam Nawawi di dalam kitab Majmu’nya yang mengatakan bahwa jari tangan seseorang yang kasar dapat dipergunakan untuk bersiwak. Bersiwak menjadi sunah muakkadah (sangat dianjurkan) meskipun bagi seseorang yang tidak memiliki gigi ketika hendak wudhu.

ولِكُلِّ صلاةٍ- فرْضِها ونفْلِهَا وإنْ سَلَّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ أو اسْتاكَ لِوُضُوئِها وإنْ لم يَفْصُلْ بَيْنَهما فاصِلٌ حيثُ لمْ يَخْشَ تَنَجُّسُ فَمِهِ وذلك لِخبَرِ الْحُمَيْدِى بِإِسْنادٍ جَيِّدٍ رَكْعتانِ بِسواكٍ أفضلُ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعةً بِلا سِواكٍ ولَوْ تَركَه أَوَّلَها تَدارَكَهُ أثناءَها بِفِعْلٍ قليلٍ كالتَّعَمُّمِ

Bersiwak sangat disunahkan pula ketika hendak shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunah. Tetap disunahkan untuk bersiwak meskipun telah mengucapkan salam di tiap-tiap dua rakaat shalat, atau ia telah bersiwak ketika berwudhu. Meskipun juga tidak ada pemisah antara wudhu dan shalatnya. Kesunahan itu terjadi ketika tidak dikhawatirkan mulutnya terkena najis. Jika dikhawatirkan mulutnya terkena najis maka tidak dianjurkan untuk bersiwak. Hukum bersiwak sunah muakkad ketika hendak shalat berdasarkan hadis Al- Humaidi dengan isnad (ketersambungan) yang baik, رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِلَا سِوَاكٍ (Dua rakaat shalat dengan bersiwak lebih utama dari tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak). Seandainya seseorang meninggalkan bersiwak di awal shalatnya maka boleh baginya untuk menyusuli bersiwak di pertengahan shalat dengan melakukan gerakan yang sedikit (kurang dari tiga gerakan), sebagaimana kebolehan mengenakan surban di pertengahan shalat dengan gerakan yang sedikit pula.

وَيُتأكَّدُ أيْضًا لِتِلاوَةِ قرﺁنٍ أوْ حديثٍ أو عِلْمٍ شرْعِيٍّ أو تَغَيُّرِ فَمٍ رِيْحًا أوْ لَوْنًا بِنحوِ نَوْمٍ أوْ أكْلٍ كَرِيْهٍ أو سِنٍ بِنحْوِ صُفْرَةٍ أوْ استِيْقاظٍ مِنْ نوْمٍ وإرَادتِهِ ودُخُولِ مَسْجدٍ ومَنْزِلٍ وفِى السَّحْرِ وعِنْدَ الْاِخْتِضارِ كما دلَّ عليه خبرُ الصَّحِيحَيْنِ ويُقالُ أنّه يُسهِّلُ خُروجَ الرُّوْحِ وأخَذَ بعْضُهُمْ مِنْ ذلك تَأَكُّدَهُ لِلْمَرِيْضِ

Hukum bersiwak sunah muakkad ketika hendak membaca Al-Qur’an, hadis Nabi, ilmu syar’i, ketika adanya perubahan bau atau warna pada mulut yang disebabkan oleh tidur ataupun memakan sesuatu yang tidak enak rasanya. Atau ketika terjadinya perubahan pada gigi, seperti warna kuning atau terbangun dari tidur. Sunah bersiwak juga ketika hendak tidur, masuk masjid, masuk rumah, ketika hendak sahur. Disunahkan bersiwak ketika menjelang kematian, sebagaimana yang terdapat di dalam hadis Bukhori-Muslim. Dikatakan bahwa sesungguhnya bersiwak dapat mempermudah keluarnya ruh dari jasad. Dari alasan bahwa bersiwak dapat mempermudah keluarnya ruh maka sebagian ulama menghukumi bersiwak adalah sunah muakkad bagi orang yang sedang sakit.

ويَنْبغِى أنْ يَنوِىَ بِالسِّواكِ السُّنَّةَ لِيُثابَ عليهِ ويَبْلَعَ رِيْقَهُ أوَّلَ اسْتِياكِهِ وأنْ لا يَمَصَّهُ ويُنْدَبُ التّخليلُ قَبلَ السواكِ أو بعدَه مِنْ أثرِ الطَّعامِ والسواكُ أفضلُ منه خِلافًا لِمنْ عَكَسَ

Semestinya seseorang berniat sunah ketika bersiwak agar mempunyai nilai pahala. Sepatutnya juga untuk menelan air liurnya pada awal bersiwak dan tidak dianjurkan untuk menghisap siwak. Sebelum dan sesudah bersiwak disunahkan untuk mencungkil sisa-sisa makanan di sela-sela gigi. Bersiwak lebih utama daripada mencungkil sisa makanan. Berbeda bagi seseorang yang mengatakan sebaliknya, yaitu mencungkil sisa makanan lebih utama daripada bersiwak.

ولا يُكْرَهُ بِسواكِ غيرِه إنْ أذِنَ أو عُلِمَ رِضاهُ وإلّا حرُمَ كأخْذِه مِنْ مِلْكِ الْغيرِ ما لم تَجْرِ عادةٌ بِالْإعْراضِ عنه ويُكْرَه للصائمِ بَعْدَ الزَّوالِ إنْ لم يتغيَّرْ فَمُهُ بنحوِ نومٍ.

Tidak makruh menggunakan siwak orang lain jika diberi izin atau yakin dengan ridhonya. Jika menggunakan siwak tanpa izin atau tidak yakin dengan ridhonya maka hukum bersiwak menjadi haram. Keharaman menggunakan siwak tersebut sama halnya keharaman menggunakan siwak dengan cara mengambil siwak milik orang lain ketika tidak berlakunya kebiasaan seseorang yang dengan sengaja meninggalkan siwaknya. Makruh bersiwak bagi seseorang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari bila tidak terjadi perubahan pada bau mulutnya disebabkan oleh seumpama tidur.

فَمَضْمَضَةٌ فاسْتِنْشاقٌ- لِلْاِتِّباعِ وأقلُّهما إيصالُ الماءِ إلى الْفَمِ والأنْفِ ولا يُشْترطُ فى حُصُولِ أصْلِ السُّنةِ إدارتُهُ فِى الفمِ ومَجُّهُ منه ونَثْرُهُ مِن الأنْفِ بلْ تُسَنُّ كالْمُبالغةِ فيهما لِمُفْطِرٍ للأمْرِ بها.

Sunah dalam wudhu berikutnya adalah berkumur kemudian menghirup air ke dalam hidung oleh karena mengikuti perbuatan Nabi. Paling sedikit kesunahan keduanya adalah menyampaikan air ke dalam mulut dan hidung. Tidak disyaratkan untuk memperoleh kesempurnaan sunah yaitu dengan cara memutar air dalam mulut kemudian membuangnya serta membuang air dari hidung. Akan tetapi kesunahan memutar air dalam mulut, membuang air dari mulut, dan membuang air dari hidung menjadi sangat dianjurkan sebagaimana berkumur dan menghirup air ke dalam hidung, itu bagi yang tidak berpuasa. Hal tersebut didasarkan kepada perintah Nabi.

و- يُسَنُّ (جَمْعُهما بثلاثِ غُرَفٍ) يَتَمَضْمضُ ثم يَستنْشِقُ مِنْ كُلٍّ مِنْها

Disunahkan mengumpulkan dalam satu sendokan air untuk berkumur dan menghirup air ke dalam hidung. Diawali dengan berkumur kemudian menghirup air ke dalam hidung di tiap-tiap sendokan air.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *