Pertemuan ke – 28, Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 28
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 3 November 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

لاَ تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارِ , فَإِنَّهَا ما أَبْرَزْتَ إِلَّا ما هُوَ مُسْتَحَقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا

‘Jangan engkau merasa aneh terjadinya kecemasan-kecemasan selama engkau berada di kehidupan dunia ini. Sesungguhnya kehidupan dunia tidak kamu tampakkan terkecuali sesuatu yang memang sudah menjadi sifat dunia dan menjadi keharusan’

Allah jadikan dunia ini sebagai tempat ujian dan cobaan. Agar menjadi tempat amal bagi setiap orang atas tuntutan kewajiban yang mendahuluinya kemudian diberikan balasannya di kehidupan akhirat. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Anbiya, ayat 35, وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ (Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan)

Amal setiap orang di dunia pastinya ada yang tidak sesuai dengan keinginan dirinya atau sesuai dengan keinginannya. Yang demikian tidak boleh tidak menghendaki kepada adanya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai, dengan dilakukan atau ditinggalkan. Termasuk sifat keharusan dunia yaitu mendapati sesuatu yang tidak disukai dan kesulitan dalam kehidupan dunia. Kemudian timbul kecemasan-kecemasan oleh sebab itu. Maka isi dunia adalah persoalan-persoalan yang bersifat angan-angan di mana watak manusia tunduk kepadanya. Kehidupan dunia tidak mungkin memenuhi seluruh keinginan mereka oleh karena sempit dan sedikitnya dunia serta cepat berlalu dan berubahnya kehidupan dunia. Kemudian di antara mereka saling tarik-menarik untuk memperoleh dunia. Kehidupan mereka menjadi keruh. Mereka tidak mendapatkan seluruh keinginan mereka. Sebagaimana dikatakan;

أَرَى أشْقِيَاءَ النَّاسِ لا يَسْأَمُوْنَـها عـلـى أَنَّـهَا فيهـا عُرَاةٌ وَجُـوَّعٌ
أَراها , وإِنْ كانتْ تُحِبُّ , كأَنّها سحابةُ صَيْفٍ عن قريبٍ تَقْشعُ

‘Aku melihat manusia-manusia yang celaka yang tidak bosan dengan dunia. Dunia berisi orang-orang yang telanjang dan lapar.
Aku melihat dunia, meskipun engkau mencintainya, seakan awan di musim panas yang hilang dalam waktu dekat’

Sebagain ahli hikmah berkata;

لولا أنَّ الدُّنْيا مَبْنِيَّةٌ على الْمَكَارِهِ لَجُعِلَتْ منفعةُ الْإِهْلِيْلَج فى اللُوْزِينج

‘Sandainya dunia didasarkan kepada sesuatu yang tidak disukai niscaya dijadikan manfaat pohon Elips pada kue Luzinj’

Akan datang sebuah nasehat hikmah tentang ini dalam perkataan pengarang;

إنّما جعلها محلًا لِلأَغْيار ومَعْدِنًا لوجودِ الأكدار

‘Dunia hanya dijadikan tempat untuk sesuatu yang mengotori hati dan sumber adanya kecemasan-kecemasan’

Agar kamu dapat meninggalkan kesenangan dunia!

Wa Allahu Al-Muwaffiq

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *