Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 13)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 13)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 07 Nopember 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

سُنَنُ الْوُضُوءِ
Sunah-sunah dalam wudhu

ومسْحُ كلِّ رأْسٍ- للاِتِّباعِ وخُروجًا مِن خلافِ مالكٍ وأحمدَ فإنْ اقتصرَ على البعضِ فالْأولَى أن يكونَ هو الناصِيةُ والأَوْلَى فى كَيْفيتِه أنْ يَضعَ يديه على مقدَّم رأسِه مُلْصِقًا مُسَبِّحتَه بالأُخرى وإبهامَيْهِ على صُدْغَيْهِ ثم يذهَب بهما مع بَقِيَّةِ أصابعِه غيرِ الإبهامَيْن لِقَفاهُ ثم يَرُدُّهما إلى الْمَبدأِ إنْ كان له شعرٌ يَنقلِبُ وإلّا فليقْتصِرْ على الذَّهابِ وإنْ كان على رأسه عَمامةٌ أو قَلَنْسُوَةٌ تمَّمَ عليها بعد مَسْحِ الناصيةِ للاتِّباعِ

Sunah wudhu yang berkutnya adalah mengusap seluruh kepala oleh sebab mengikuti cara wudhunya Nabi dan sebagai bentuk keluar dari perselisihan dari pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad yang mengatakan bahwa wajib hukumnya membasuh seluruh kepala. Jika berkeinginan untuk mencukupkan dengan mengusap sebagian kepala maka tempat basuhan yang paling utama adalah mengusap rambut depan kepala. Cara membasuh kepala yaitu dengan meletakkan bagian dalam jari-jari kedua tangannya di bagian depan kepalanya sambil menempelkan kedua jari telunjuknya sementara dua ibu jarinya masing-masing diletakkan di kedua pelipisnya. Kemudian kedua telunjuknya dijalankan bersama dengan jari tangan yang lainnya terkecuali dua ibu jarinya yang menuju ke tengkuk, bagian belakang kepalanya. Setelah itu kedua telunjuknya dikembalikan kepada posisi awal. Jika seseorang yang berwudhu memiliki rambut kepala maka ia mengembalikan jari-jari tangannya kepada posisi awal. Bila tidak memiliki rambut maka dicukupkan untuk tidak kembali. Jika di kepalanya terdapat surban atau peci maka dicukupkan dengan hanya mengusap surban atau peci tersebut dengan ketentuan terlebih dahulu mengusap yang wajib, yaitu mengusap sebagian kepala. Yang demikian sebab ikut kepada wudhunya Nabi.

و- مسْحُ كلِّ (الأُذُنَين) ظاهرًا وباطنًا وصِماخَيْهِ للاتِّباع ولا يُسنُّ مسْحُ الرَّقَبَةِ إذ لم يثبُتْ فيه شيءٌ قال النوويُّ بل هو بِدعةٌ وحديثُه مَوْضوعٌ.

Sunah berikutnya adalah mengusap seluruh telinga, baik bagian dalam maupun luar serta kedua lubang telinga oleh sebab mengikuti cara wudhunya Nabi. Cara membasuhnya yaitu dengan memasukkan dua ujung jari telunjuknya ke lubang telinga kemudian memutarnya di antara lipatan-lipatan bagian dalam telinga, sementara dua ibu jarinya dijalankan pada bagian luar telinga. Diakhiri dengan menempelkan kedua tepalak tangannya yang telah dibasahi oleh air ke telinga. Tidak disunahkan mengusap leher oleh karena tidak ada satu hadispun yang memerintahkan untuk itu. Perbuatan membasuh leher merupakan perbuatan bid’ah. Hadisnya termasuk hadis maudu’ (hadis palsu).

ودلْكُ أعضاء- وهو إمرارُ الْيدِ عليها عَقِب مُلاقاتِها للماءِ خُرُوْجًا مِنْ خِلافِ مَنْ أوْجبَه

Sunah wudhu berikutnya adalah menggosok bagian anggota wudhu yang dibasuh. Yaitu dengan cara menjalankan tangan sambil menggosok ke anggota wudhu yang dibasuh setelah terlebih dahulu anggota wudhu tersebut bertemu dengan air. Kesunahan menggosok anggota wudhu tersebut sebagai jalan keluar dari pandangan sebagain ulama, yaitu Imam Malik yang berpendapat wajib menggosok angota wudhu yang dibasuh.

وتخليلُ لِحْيةٍ كَثَّةٍ- والأفضلُ كونُه بأُصْبُعِ يُمْناه ومِنْ أَسْفلَ مع تَفريقِها وبغُرْفةٍ مُسْتقِلَّةٍ للاتِّباع ويُكرَه تركُه

Sunah wudhu selanjutnya adalah menyela-nyelai jenggot yang tebal. Cara yang paling baik yaitu dengan jari-jari tangan kanannya. Dimulai dari bagian bawah jenggot dengan merenggangkan jari-jari tangannya dengan menggunakan satu sendokan air di luar sendokan air yang diperuntukkan untuk membasuh wajah. Kesunahan menyelat-nyelati jenggot merupakan cara yang dilakukan oleh Nabi.

و- تخليلُ (أصابعِ) الْيدَيْنِ بالتَّشْبِيْكِ والرِّجْلَيْنِ بأيِّ كيفيّةٍ كان والأفضلُ أن يُخلِّلَها مِنْ أسفلَ بخِنْصِرِ يدِه اليُسْرَى مُبتدَئًا بخِنصِر الرِّجْلِ اليُمنَى ومُخْتتَمًا بخنصر اليسرى أى يكون بخِنْصِر يُسْرى يديه ومِن أسفلَ مبتدئًا بخِنْصِرِ يُمْنَى رِجْلَيْه مُخْتتَمًا بخِنْصِر يُسْراهما

Sunah wudhu berikutnya adalah menyelat-nyelati jari- jari kedua tangan dengan cara memasukkan sebagian jari tangan kepada jari tangan lainnya. Cara yang lebih utama ketika menyelat-nyelati tangan kanan yaitu dengan meletakkan bagian dalam telapak tangan kiri di bagian luar telapak tangan kanan. Begitu juga ketika menyelat-nyelati tangan yang kiri. Di sunahkan pula menyelat-nyelati jari-jari kedua kaki. Cara yang lebih utama yaitu dimulai dari bagian bawah jari kelingking kaki yang kanan dengan menggunakan jari kelingking tangan kiri dan berakhir di jari kelingking kaki kiri. Kemudian dengan jari kelingking tangan kanan yang dimulai dari bagian bawah jari kelingking kaki kanan dan berakhir di jari kelingking kaki kiri. Semua berakhir di jari kelingking kaki kiri ..

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *