Pertemuan ke – 29, Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah

Pertemuan ke – 29
Kitab Ghaitsul Mawahib Al Aliyyah fi Syarhil Hikami Al ‘Athoiyah
Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abbad An Nafazi Ar Randi

Ranting NU Bogasari dan HMR
Selasa, 10 November 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

لاَ تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارِ , فَإِنَّهَا ما أَبْرَزَتْ إِلَّا ما هُوَ مُسْتَحَقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا

‘Jangan engkau merasa aneh terjadinya kecemasan-kecemasan selama engkau berada di kehidupan dunia ini. Sesungguhnya kehidupan dunia tidak menunjukkan terkecuali kepada sesuatu yang memang sudah menjadi sifat dunia dan menjadi keharusan’

Di sebagian hikayat yang diriwayatkan dari Imam Ja’far as-Shadiq, Radiallahu ‘Anhu, dia berkata:

مَن طلب ما لمْ يُخْلَقْ أَتْعبَ نفسَه ولم يُرْزَقْ , فقيل له : وَما ذاك؟ قال: الراحةُ في الدنيا.

‘Barang siapa mencari sesuatu yang tidak diciptakan maka akan menyusahkan kepada dirinya dan tidak diberikan karunia. Kemudian ditanya kepadanya, apakah itu? Dia menjawab, kesenangan di dunia’
Semakna dengan itu, mereka membacakan sebuah syi’ir;

تَطْلُبُ الراحةَ في دار العَناء خابَ من يطلب شيئاً لا يكون

‘Engkau mencari kesenangan di tempat kesusahan (dunia). Maka menjadi miskin seseorang yang mencari bsesuatu yang tidak ada’

Sebagian ahli balaghah berkata;

مُلْتمِسُ السلامةِ في دار الْمَتَالِفِ والْمَعَاطِبِ كالمُتَمَرِّغِ على مَزاحِفِ الْحَيَّاتِ ومَدَابِّ الْعَقارِبِ

‘Seseorang yang mencari keselamatan di tempat kerusakan dan tempat kebinasaan (dunia) laksana seseorang yang berkubang di tempat merayapnya ular-ular dan dan tempat tinggalnya para kalajengking’

Ibnu Mas’ud Radiallahu ‘Anhu berkata;

الدنيا كُلها غُمومٌ فما كان منها في سُرورٍ فهو رِبْحٌ

‘Dunia, seluruh isinya merupakan kesedihan-kesedihan. Adapun kegembiraan yang didapati di dunia merupakan laba, keuntungan’

Imam al-Junaid Radiallahu ‘Anhu berkata;

لسْتُ أَشْتبْشِعُ ما يَرِدُ عليَّ مِن الْعالَم لأنّي قدْ أصلْتُ أصلًا وهو أن الدنيا دارُ هَمٍّ, وغَمٍّ, وبلاءٍ, وفتنةٍ, وأنّ العالم كلها شَرٌّ, ومِن حُكْمِه أن يتلقّاني بكلِّ ما أُكْرِهُ , تَلقّاني بكلِّ ما أُحِبُّ فهو فضْلٌ, وإلّا فالأصلُ هو الأوّلُ

‘Aku tidak menganggap buruk kepada persoalan dunia yang datang kepadaku. Sebab aku mendasarkan dengan satu asal, yaitu bahwa dunia merupakan tempat kecemasan, kesedihan, ujian dan cobaan. Sesungguhnya seluruh isi dunia adalah keburukan. Termasuk hukum dunia yaitu aku bertemu dengan sesuatu yang tidak aku sukai. Bila diriku bertemu dengan sesuatu aku cintai maka itu berarti laba bagiku. Jika tidak maka kembali kepada asal’

Berkata Abu Turab Radiallahu ‘Anhu;

يا أيُّها النّاسُ أنتم تُحبّون ثلاثةَ أشْياءَ, وليستْ هي لكم: تُحبون النفسَ, وهي لله, وتحبون الروحَ, والروح لله, وتحبون المالَ, والمالُ للوَرَثَةِ, وتطْلُبُون اثْنَينِ ولا تجدونهما: الراحة, والفرَح, وهما في الجنة.

‘Wahai manusia, kalian senang kepada tiga hal yang ketiganya tidak kamu miliki. Pertama, kalian mencintai nafsu. Padahal nafsu milik Allah. Kedua, kalian mencintai ruh. Padahal ruh adalah milik Allah. Ketiga, kalian mencintai harta. Padahal harta milik para ahli waris. Kalian mencari dua hal yang kalian tidak mungkin akan mendapatinya, yaitu kesenangan dan kegembiraan. Keduanya berada di surga’

Wajib bagi seorang hamba untuk tidak menjadikan dunia sebagai tempat kesenangan bagi dirinya. Ketika di dunia jangan pernah bersandar kepada sesuatu yang menghantarkan kepada kegembiraan. Agar bertindak sesuai dengan sabda Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh Radiallahu ‘Anhu;

الدنيا سِجْنُ المؤمن

‘Dunia adalah penjara bagi seorang mu’mun’

Kesiapan hamba atas berbagai cobaan selama di dunia akan membuatnya mudah untuk menjalaninya. Dia akan mendapati kesedihan ketika kehilangan sesuatu yang ia cintai. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah sya’ir;

يُمَثِّلُ ذُو اللُّبَب في لُبِّهِ . شَدائِدَه قبل أنْ تَنْزِلَا

‘Orang yang memiliki hati akan tergambarkan di dalam hatinya kepada kesulitan-kesulitan yang akan dialaminya’

فإنْ نزلتْ بَغْتةً لم تَرْعَه . لِما كان في نفسه مَثَّلَا

‘Bila datang kesulitan secara tiba-tiba maka kesulitan tidak akan mengaturnya, sebab sebelumnya telah tergambarkan di dalam dirinya’

رَأى الأمر يُفضي إلى ﺁخِرَ . فَصَيَّرَ ﺁخِرَه أوَّلا

‘Dia melihat kepada suatu persoalan untuk didatangkan diakhir. Kemudian menjadikan akhirnya menjadi yang pertama’

وذُو الْجَهْلِ يأْمَنُ أيامَه . ويُنْسِى مَصارِعَ مَنْ قَدْ خلَا

‘Orang yang bodoh merasa hari-harinya terasa aman. Dia melupakan tempat-tempat pergulatan seseorang yang sunyi dalam kesendirian’

فإِنَّ دُهْمَتَه صُرُوفُ الزّمان . بِبعضِ مَصائِبه أَعْوَلَا

‘Sesungguhnya kegelapan yang menimpa orang yang bodoh merupakan derita-deritanya zaman sebab sebagian musibah yang membuatnya meratap’

ولو قَدَّمَ الحَزْمَ في نفسه . لَعَلَّمه الصبْرَ عند البلا

‘Seandainya dirinya mendahulukan keteguhan hatinya niscaya diajarkan kepadanya tentang kesabaran untuk mengadapi ujian’

Hendaknya seorang murid (yang menapaki jalan Tuhan) menyambut kesulitan yang datang kepadanya dengan sabar, ridho serta tunduk di jalan ketetapan Allah. Tidak akan lama, Insya Allah, akan nyata sebuah persoalan. Ganjaran yang besar akan didapat dari Allah Ta’ala. Hanya Allah Ta’ala yang akan memberikan kesuksesan.

Ahmad bin Abi al-Hawari Radiallahu ‘Anhu berkata: Berkata Abu Sulaiman ad-Darani kepadaku;

جَوَّعَ قليلٌ, وعَرِىَ قليلٌ, وصَبَرَ قليلٌ, وقَدِ انْقَضتْ عنكَ أَيَّامُ الدُّنْيا

‘Sesuatu yang sedikit dapat membuat lapar, sesuatu yang sedikit dapat membuat telanjang, sesuatu yang sedikit dapat menjadikan sabar. Sungguh telah usai hari-harimu di dunia’

Wa Allahu Ta’ala Waliyyu at-Taufik

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *