Pengajian Kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 14)

Pengajian kitab Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratul ‘Ain (ke- 14)
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Ranting NU Bogasari dan HMR
Sabtu, 14 Nopember 2020

Oleh. Ahmad Lahmudin

سُنَنُ الْوُضُوءِ
Sunah-sunah dalam wudhu

وإطالةُ الغُرَّةِ – بأنْ يَغْسِلَ مع الوجْهِ مُقَدِّمَ رأسهِ وأُذُنيه وصَفْحَتَيِ عُنُقِهِ

Sunah wudhu berikutnya adalah melebihkan basuhan pada bagian wajah yang wajib dibasuh. Dengan cara, selain membasuh wajah disertakan pula membasuh bagian depan kepala, dua telinga serta dua sisi lehernya.

و- إطالةُ (تَحْجيلٍ) بأن يَغْسِلَ مع اليدَينِ بعضَ الْعَضُدَينِ ومع الرِّجْلين بعضَ الساقَيْنِ وغايتُهُ استيعابُ العَضُدِ والساقِ وذالك لخبرِ الشيخَينِ إنّ أمتى يُدْعَوْن يومَ القيامةِ غُرًّا مُحَجِّلينَ من ﺁثارِ الوضوءِ فمن استطاع منكم أنْ يُطيلَ غُرَّتَهُ فلْيَفْعلْ زاد مسلمٌ وتَحجيلَهُ أى يُدْعَونَ بَيْضَ الْوُجوهِ والأيْدى والأرْجُلِ ويحصُلُ أقلُّ الإطالةِ بغَسْلِ أدْنَى زيادةٍ على الواجبِ وكمالُها باستيعاب ما مرَّ.

Sunah pula melebihkan basuhan bagian yang wajib dari dua kaki dan dua tangan. Dengan cara, selain membasuh dua tangan disertakan pula membasuh dua lengan atas. Begitupun saat membasuh dua kaki disertakan pula membasuh sebagian dua betis. Paling sempurnanya cara, yaitu dengan meratakan lengan atas dan betis. Yang demikian oleh karena adanya hadis riwayat Bukhori-Muslim;

إنّ أمتى يُدْعَوْن يومَ القيامةِ غُرًّا مُحَجِّلينَ من ﺁثارِ الوضوءِ فمن استطاع منكم أنْ يُطيلَ غُرَّتَهُ فلْيَفْعلْ زاد مسلمٌ وتَحجيلَهُ

‘Sesungguhnya umatku pada hari kiamat dipanggil menuju ke surga dalam keadaan bersinar wajah serta kedua kakinya oleh sebab bekas air wudhu. Barang siapa dari kalian mampu untuk melebihkan basuhan mukanya maka hendaknya melakukan.’ Imam Muslim menambahkan dengan redaksi ‘melebihkan basuhan pada tangan dan kakinya’

Batas minimal untuk melebihkan basuhan yaitu dengan melebihkan sedikit dari kewajiban membasuh anggota wudhu. Sedangkan yang paling sempurna yaitu dengan cara meratakan seperti yang telah disebutkan dimuka.

وتثليث كلٍّ – من مغسولٍ وممسوحٍ ودلْكٍ وتخليلٍ وبَسْملةٍ وسواكٍ وذِكْرٍ عَقِبَه للإتِّباع فى أكثر ذلك ويحصُل التثْليثُ بِغَمْسِ اليدِ مثلاً ولو فى فى ماءٍ قليلٍ إذا حرّكَها مرتين ولو ردَّ ماءَ الغَسْلةِ الثانيةِ حصَلَ له أصلُ سنةِ التثليثِ كما استظهره شيخُنا ولا يُجْزِئُ تثليثُ عُضْوٍ قبل إتمام واجبٍ غسلُهُ ولا بَعْدَ إتمامِ الوضوءِ ويُكرَهُ النقْصُ عن الثلاثِ كالزيادة عليها أى بنيَّةِ الوضوء كما بحثه جمعٌ وتحرمُ من ماءٍ موقوفٍ على التطهُّرِ.

Sunah wudhu berikutnya adalah mentigakalikan bagi anggota wudhu yang dibasuh dan diusap, mentigakalikan saat menggosok, saat membaca Bismilah, saat bersiwak, saat zikir seusai berwudhu. Semua itu oleh karena mengikuti perbuatan Nabi. Kesunahan mentigakalikan bisa tercapai dengan seumpama membenamkan tangan, meskipun pada air yang sedikit, ketika digerakkan dengan dua kali gerakan (selain gerakan wajib yang pertama). Seandainya air basuhan yang kedua dikembalikan kepada posisi awal maka telah dianggap mendapatkan kesunahan mentigakalikan. Sebagaimana hal tesebut telah dianggap jelas oleh Syaikhuna, Ibnu Hajar. Tidak dianggap mendapatkan kesunahan mentigakalikan sebelum menyempurnakan basuhan yang wajib. Tidak pula mendapat kesunahan mentigakalikan ketika wudhu telah sempurna. Makruh ketika kurang dari tiga kali. Seperti halnya makruh pula melebihi tiga kali dengan tujuan berwudhu. Sebagaimana yang dibahas oleh mayoritas ulama fiqih. Haram hukumnya melebihi tiga kali manakala air yang digunakan berasal dari air yang diwaqafkan teruntuk orang yang ingin bersuci.

فرعُ – يأخُذُ الشَّاكُّ أثناءَ الوضوءِ فى استيعابٍ أو عددٍ باليقينِ وجوباً فى الواجب وندبًا فى المندوب ولو فى الماء الموقوف أما الشكُّ بعد الفراغِ فلا يُؤثِّرُ.

(Sub bagian). Seseorang yang ragu di pertengahan wudhunya dalam hal meratanya air atau bilangan basuhan. Maka baginya bersandar dengan keyakinannya, baik terhadap hal yang wajib (apakah telah merata atau ragu pada basuhan yang pertama). Atau terhadap hal yang sunah (apakah telah membasuh dua kali atau tiga). Adapun keraguan yang terjadi setelah sempurnanya wudhu maka tidak mempunyai konsekwensi apapun.

وتيامُنٌ – أى تقديمُ يمينٍ على يسارٍ فى اليدين والرجلين ولنحوِ أقْطَعَ فى جميعِ وضوئِهِ وذالك لأنه صلى الله عليه وسلم كان يُحبُّ التَيَمُّنَ فى تطَهُّرِهِ وشأْنِه كُلِّهِ أى مما من باب التكريمِ كاكْتحالٍ ولَبْسِ نحو قميصٍ ونعلٍ وتقليمِ ظُفْرٍ وحَلْقِ نحو رأسٍ وأخْذٍ وإعطاءٍ وسواكٍ وتخليلٍ ويُكرَهُ تركُه ويُسنُّ التَّياسُرُ فى ضِدِّهِ وهو ما كان من باب الإهانة والأذى كاستنجاءٍ وامتخاطٍ وخَلْعِ لباسٍ ونعلٍ

Sunah wudhu berikutnya adalah mendahulukan bagian kanan. Maksudnya adalah mendahulukan bagian yang kanan dari bagian yang kiri, baik ketika membasuh dua tangan, dua kaki, juga bagi yang tidak memiliki tangan atau kaki. Itu berlaku untuk semua anggota wudhu. Sebagaimana Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam senang mendahului bagian yang kanan ketika bersuci maupun di seluruh kegiatannya. Maksud seluruh aktifitas Nabi yaitu berlaku kepada hal-hal yang terhormat, seperti bercelak, mengenakan gamis, mengenakan sandal, memotong kuku, memotong rambut, mengambil, memberikan, bersiwak dan menyelat-nyelati. Makruh apabila tidak didahului dengan bagian yang kanan. Sunah pula mendahulukan bagian kiri. Ini berlaku bagi hal-hal yang hina dan sesuatu yang dianggap kotor, seperti buang air besar, membuang ingus, melepas pakaian dan melepas sandal.

ويُسنُّ البداءةُ بِغَسْلِ أعْلى وجْهِهِ وإطرافِ يَديهِ ورِجْليهِ وإنْ صَبَّ عليه غَيْرُه وأخْذُ الماءِ إلى الوجْهِ بِكَفَّيْهِ معًا ووضعُ ما يُغْتَرفُ منه عن يمينه وما يُصَبُّ منه عن يسارِهِ .

Sunah wudhu berikutnya adalah memulai dengan membasuh bagian atas wajahnya, ujung jari tangan dan kaki, meskipun dituangkan oleh orang lain. Sunah mengambil air dengan dua tangan secara bersamaan ketika hendak membasuh wajah. Sunah pula meletakkan wadah yang dibuat untuk menciduk air berada di posisi kanannya. Sedangkan wadah yang dibuat untuk menuangkan air sunah diletakkan di sebelah kirinya.

Wa Allahu A’lam bi Shawab ..

Post Author: Administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *